12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala

Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala

Fiqhislam.com - Islam mengajarkan umatnya untuk selalu mengingat kematian . Menurut Ustadz Oemar Mita, mengingat mati bukanlah anjuran, melainkan ibadah kepada Allah Ta’ala. Seberapa sering seseorang mengingat mati, sepanjang itu Allah akan berikan pahala. Bahkan, setelah kematian itu, Allah akan sempurnakan pahala-pahala mereka yang menjaga diri kerusakan berpikir dan perilaku.

Disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185].

Lantas apa hubungannya antara kematian dengan kesehatan dan kesuksesan seseorang? Mengingat mati bukan soal putus asa lalu menguras energi untuk berjuang. Sebaliknya, mengingat mati untuk menjadikan pikiran sehat, stabil, dan progresif, sehingga tak ada kesempatan diri mengeluh, lemah, dan malas. Tetapi sebaliknya, semakin ringan dan bergairah mengisi hidup ini dengan kebaikan terbaik yang bisa dilakukan.

Sebuah hadis menceritakan:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Dan, satu di antara strategi agar diri dapat terus fokus pada kesehatan komprehensif dan kesuksesan selamanya, mengingat mati adalah jalan terbaik. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, suatu hari ada seseorang datang menjumpai Nabi, lantas bertanya. “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah).

Dengan kata lain, semakin seseorang mengejar dunia untuk gengsi, berbangga-banggaan, maka semakin dekatlah ia dengan sakitnya akal, rasa, dan imajinasinya, kemudian sangat dekat pada kematian hati. Akibatnya ia tidak akan lagi mengerti mana halal, mana haram, semua dihantam. Sebaliknya, semakin seseorang sering mengingat mati akan semakin hidup hatinya dan cerdas akalnya, sehingga tidak ada yang ia pilih di dalam kehidupan ini, selain menyiapkan bekal dengan amal-amal saleh.

Mengingat mati, juga akan memusatkan pikiran ke negeri akhirat yang kekal, sehingga mendorong untuk menjadikan akhirat ukuran segala-galanya. Dan, inilah orang-orang yang pikiran dan perilakunya sehat, serta kesuksesan di dunianya akan berlanjut hingga ke akhirat.

Oleh sebab itu, mengingat mati memang telah digunakan para ulama salaf untuk menggugah semangat beribadah. dan mematikan hawa nafsu. Selain itu, ada beberapa faedah mengingat kematian ini, di antaranya:

1. Memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian
2. Memendekkan angan-angan yang menjadi penyebab kelalaian beribadah
3. Menjadikan sikap zuhud terhadap dunia
4. Memotivasi untuk taat dan bertaubat kepada Allah Ta'ala
5. Melembutkan hatidan menjauhi sifat sombong
6. Menjadikan diri tawadhu

Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]