15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Mendapatkan Umur Panjang dan Berkah dengan Empat Amalan

Mendapatkan Umur Panjang dan Berkah dengan Empat Amalan

Fiqhislam.com - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa, berkah adalah seseorang dapat melakukan amal saleh di waktu yang singkat di mana orang lain tidak bisa mengerjakannya kecuali di waktu yang panjang. Oleh karena itu, Islam telah menawarkan amalan-amalan yang dapat memperpanjang umur.

Ada 4 amal saleh yang manakala ia dilazimi dengan baik, akan berbuah mendapatkan umur panjang, yakni:

1. Akhlak yang baik

Memiliki akhlak yang baik adalah tuntutan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Karena amal ini akan dapat melipatgandakan kebaikan dan panjang umur dalam ketaatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَة

Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlak yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. At-Tirmidzi dalam Shahih Al-Jaami’).

Jika seorang muslim memiliki akhlak yang baik, ia dapat melampaui pahala orang yang gemar puasa di siang hari dan gemar salat di malam hari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan shalat dengan akhlak baiknya.” (HR. Abu Daud No. 4798)

2. Silaturrahim

Menjaga tali silaturahim baik kepada keluarga yang memiliki ikatan nasab maupun kepada yang tidak memiliki ikatan nasab adalah amal saleh yang bisa menjadi sebab Allah memanjangkan umurnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis Abdullah bin Mas’ud,

صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ، وَصَدَقَةُ السِّرِّتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُر

Perbuatan kebaikan menahan kejadian buruk dan sedekah yang tersembunyi memadamkan kemurkaan Rabb serta menyambung hubungan rahim menambah umur.” (HR. Ath-Thabrani dalam Shahih Al-Jami’ No. 3797)

Dalam sabdanya yang lain,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، ويُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya, dan agar diakhirkan sisa umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali rahimnya (tali silaturahim).” (HR. Al-Bukhari 5986)

Maka dari itu jauhilah dosa memutus tali silaturahim, karena ia menjadi sebab datangnya laknat dan hukuman dari Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ. اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ

Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.” (QS. Muhammad: 22-23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia—bersama dosa yang disimpan untuknya di akhirat—daripada perbuatan zalim dan memutus silaturahmi.” (HR. Abu Daud no. 921)

3. Berbuat baik kepada tetangga

Dalam hidup bermasyarakat di sana ada hak-hak orang lain yang harus kita penuhi. Di antaranya adalah hak tetangga untuk mendapatkan perlakuan baik.

Saking pentingnya amal saleh ini, sampai-sampai Allah menjanjikan balasan berupa panjang umur yang disampaikan melalui lisan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صِلَةَ الرَّحِمِ، وحُسْنُ الْخُلُقِ، وحُسْنُ الْجِوَارِ: يَعْمُرَانِ الدِّيَار، ويَزِيدَانِ فِي الأَعْمَار

Menyambung tali kekerabatan, akhlak yang baik, dan berbuat baik kepada tetangga (dapat) memakmurkan negeri dan menambah umur.” (HR. Ahmad No. 25259)

Kebalikan daripada hal di atas, yakni menyiakan tetangga dan tidak berbuat baik kepadanya, menjadi perantara seseorang mendapat azab di neraka, kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah subhanahu wata’ala.

Suatu ketika, seseorang yang mengabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal amalan seseorang,

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah melakukan shalat malam, berpuasa di siang hari, banyak beribadah dan bersedekah, namun dia selalu menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Al-Bukhari)

4. Menjaga shalat berjamaah di Masjid

shalat adalah fondasi tegaknya agama pada diri seorang muslim. Jika ia menjaganya, maka tegaklah agama dalam dirinya. Namun jika ia hilang, maka robohlah agama dalam diri seorang muslim.

shalat adalah amal ubudiyah yang pertama kali akan dimintai tanggung jawab oleh Allah subhanahu wata’ala. Selain daripada itu, shalat wajib yang senantiasa dilazimi oleh seorang muslim secara berjamaah di masjid ternyata dapat membuat seseorang panjang umur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَرْدِ بِسَبْعٍ وعِشْرِينَ دَرَجَة

Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Orang yang melaksanakan shalat berjamaah di masjid akan mendapatkan pahala 27 derajat. Jika salat sendiri di rumah dihitung hanya mendapat pahala satu derajat, berarti untuk menyamai pahala salat berjamaah di masjid, ia harus salat selama 27 hari di rumah sendirian.

Dalam kata lain, jika ada dua orang muslim meninggal dunia, salah satunya terbiasa mengerjakan shalat wajib secara sendirian di rumah dan itu ia lakukan sepanjang hidupnya.

Sementara yang satunya mengerjakan shalat wajib secara berjamaah di masjid, maka tentu orang kedua ini memiliki pahala lebih banyak daripada orang yang pertama sebanyak 27 kali lipat, seakan-akan ia hidup lebih lama 27 kali lipat ketimbang orang yang shalat sendirian di rumahnya.

Apalagi jika orang yang mengerjakan shalat berjamaah di masjid itu keluar dari rumahnya dalam keadaan telah bersuci. Tentu pahalanya lebih banyak lagi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ، فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ

Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji.” (HR. Abu Daud). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]