22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Nabi Syuaib: Pengikut Hanya 3 Orang, Berdakwah di Kalangan Pedagang Curang

Nabi Syuaib: Pengikut Hanya 3 Orang, Berdakwah di Kalangan Pedagang Curang

Fiqhislam.com - Nabi Syuaib AS adalah nabi yang sedikit pengikutnya. Beliau diutus Allah SWT di tengah kaum Madyan. Nabi Syuaib berdakwah di kalangan pedagang yang nakal.

Mereka memberikan ukuran yang dikurangi, memuji barang-barang mereka melebihi nilai yang sebenarnya, dan menyembunyikan cacatnya. Mereka berbohong kepada pembeli mereka, sehingga bisa dikatakan telah melakukan penipuan.

Kaum Madyan

Nama Nabi Syuaib AS disebutkan sebanyak 11 kali dalam Al-Qur'an. Di dalam surat al-Ankabut, disebutkan tiga nama nabi yang diutus kepada kaumnya karena mereka telah melakukan keburukan di muka bumi. Nabi-nabi tersebut adalah Nuh, Luth , dan Syuaib.

Pengikut Nabi Syuaib sangat sedikit. Kurang dari 10 orang. Bahkan ada yang berpendapat jumlahnya hanya 3 orang.

Nabi Syuaib adalah keturunan Nabi Ibrahim karena itu uraian kisahnya di dalam surat al-Ankabut disinggung setelah uraian tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Luth.

Al-Tabari dalam kitab berjudulTarikh al-Rusul wa al-Muluk mengatakan di dalam Taurat, silsilah Syuaib adalah Syuaib bin Sayfun bin Anga bin Thabit bin Madyan bin Ibrahim.

Namun sejarawan Ibnu Ishak tidak sependapat. Menurutnya, silsilahnya adalah Syuaib bin Mikail. Mikail adalah salah satu keturunan dari Madyan.

Sementara itu, Quraish Shihab menyebut di dalam Kitab Perjanjian Lama beliau dinamai Rehuel (Keluaran 2: 18) dan juga Yitro (Keluaran 3: 1). Di sana dia disebut sebagai mertua dari Nabi Musa AS.

Ibnu Humaid meriwayatkan sebuah hadis tentang Syuaib, “Setiap kali Rasulullah menyebut nama Syuaib, beliau seringkali berkata, ‘Dia adalah pengkhotbahnya para nabi!’ Beliau mengatakan ini karena keindahan cara Syuaib yang terus menerus (menyampaikan) kepada umatnya tentang permasalahan yang dipersoalkan.”

Dalam surat al-Araf ayat 85 disebutkan nama Madyan: “Dan (Kami telah mengutus) kepada Madyan saudara mereka Syuaib.”

Siapakah Madyan itu? Quraish Shihab di dalam tafsir al-Mishbah menjelaskan Madyan pada mulanya adalah nama putra Nabi Ibrahim dari istri beliau yang ketiga yang bernama Qathura, yang beliau kawini pada akhir usia beliau.

Madyan kemudian kawin dengan putri Nabi Luth. Selanjutnya kata Madyan dipahami dalam arti satu suku keturunan Madyan putra Nabi Ibrahim.

Suku Madyan tinggal di pantai laut Merah sebelah tenggara gurun Sinai, yakni antara Hijaz, tepatnya di Tabuk di Saudi Arabia kini dan Teluk Aqabah. Menurut sebagian sejarawan, populasi mereka sekitar 25.000 orang.

Kecurangan Kaum Madyan

Ibnu Katsir dalam Qisas Al-Anbiya mengatakan orang-orang Madyan adalah suku Arab yang tinggal di negara Ma’an, yang sekarang berada di sebagian wilayah Suriah Raya. Mereka adalah orang-orang serakah yang tidak beriman kepada Allah dan menjalani kehidupan yang buruk.

Mereka memberikan ukuran yang dikurangi, memuji barang-barang mereka melebihi nilai yang sebenarnya, dan menyembunyikan cacatnya. Mereka berbohong kepada pembeli mereka, sehingga bisa dikatakan telah melakukan penipuan.

Mengenai kecurangan yang mereka lakukan, Al-Qur'an berkata:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan (Kami telah mengutus) kepada Madyan saudara mereka Syuaib. Dia berkata: Wahai kaumku sembahlah Allah tidak ada bagi kamu satu tuhan pun selain-Nya. Sungguh telah datang kepada kamu bukti yang nyata dari Tuhan kamu; maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan jangan kamu kurangi bagi manusia barang-barang mereka dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah perbaikannya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang mukmin.” ( QS al-Araf : 85 ).

Quraish Shihab mengatakan, dari ayat di atas terlihat bahwa Nabi Syuaib menekankan tiga hal pokok — setelah Tauhid — yang harus menjadi perhatian kaumnya, yaitu: Pertama, memelihara hubungan harmonis khususnya dalam interaksi ekonomi dan keuangan. Kedua, memelihara sistem dan kemaslahatan masyarakat umum. Dan, ketiga, kebebasan beragama.

Di dalam Al-Qur'an, Nabi Syuaib berkata kepada kaumnya:

اَوۡفُوا الۡـكَيۡلَ وَلَا تَكُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُخۡسِرِيۡنَۚ‏
وَزِنُوۡا بِالۡقِسۡطَاسِ الۡمُسۡتَقِيۡمِۚ‏
وَلَا تَبۡخَسُوا النَّاسَ اَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡا فِى الۡاَرۡضِ مُفۡسِدِيۡنَۚ‏
وَاتَّقُوا الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ وَالۡجِـبِلَّةَ الۡاَوَّلِيۡنَؕ‏

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada barang-barangnya dan janganlah kamu membuat kejahatan di bumi dengan menjadi perusak-perusak; Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” ( QS asy-Syuara : 181-184 )

Nabi Syuaib menuntun mereka untuk menghindari sekian banyak pelanggaran, bermula dari pelanggaran tertentu yang telah lumrah mereka lakukan, yaitu mengurangi takaran dan timbangan, kemudian disusul dengan larangan yang bersifat lebih luas dan mencakup larangan yang lalu (kepada umat terdahulu).

Larangan-larangan yang lalu yaitu mencakup tidak mengurangi/mengambil hak orang lain, baik dalam bentuk mengurangi timbangan maupun mencuri harta mereka, atau menipu, merampok, atau mengurangi hak yang seharusnya diterima seseorang.

Selanjutnya beliau melarang dengan larangan menyeluruh sehingga mencakup segala macam kejahatan, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, orang lain, binatang, maupun lingkungan.

Setelah menasihati kaumnya dalam hal-hal khusus yang menonjol menyangkut kedurhakaan mereka. Nabi Syuaib menasihati secara umum dengan menyatakan, “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.”

Menurut Quraish Shihab, kalimat tersebut merupakan peringatan untuk bertakwa kepada Allah untuk menghindari siksa-Nya dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya sepanjang kemampuan dan menjauhi semua larangan-Nya.

Menghalangi Jalan Kebaikan

Nabi Syuaib juga memperingatkan mereka terkait ajakan mereka terhadap orang-orang yang beriman. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Quran:

وَلَا تَقْعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا ۚ وَٱذْكُرُوٓا۟ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ ۖ وَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُفْسِدِينَ

Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan, menakut-nakuti dan menghalang-halangi yang beriman dari jalan Allah dan menginginkannya menyimpang. Dan ingatlah ketika dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Dia memperbanyak kamu, dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para perusak.” (QS al-Araf : 86)

Menurut Quraish Shihab, ayat ini menggambarkan tentang Kaum Madyan yang secara sungguh-sungguh menghalangi jalan kebaikan yang akan diambil oleh orang-orang yang menelusurinya.

Selain itu, mereka juga digambarkan terus menerus menghalang-halangi siapa yang beriman kepada jalan Allah dan menginginkannya agar jalan itu menjadi “bengkok”, yakni dengan mencari-cari dalih atau berusaha mencari-cari kelemahannya untuk menanamkan keraguan terhadapnya.

Upaya yang mereka lakukan bertujuan untuk mengurangi jumlah orang-orang yang beriman, maka peringatan yang disampaikan oleh Syuaib selanjutnya adalah, “Dan ingatlah ketika dahulu kamu berjumlah sedikit, lalu Dia memperbanyak kamu.”

Kalimat ini mengindikasikan bahwa dulunya Kaum Madyan berjumlah sedikit dan belum memiliki kemampuan sebesar sekarang.

Dengan demikian, mereka diberi peringatan agar jangan membalas nikmat yang mereka peroleh sekarang dengan kebalikannya, yaitu dengan melakukan usaha pengurangan terhadap orang-orang baik yang beriman, karena ini akan mengundang murka dan siksa Allah.

Terbagi Dua Kelompok

Setelah Nabi Syuaib memperingatkan mereka tentang dampak buruk kedurhakaan mereka, sambil mengajak mereka beriman, dia berkata:

وَإِن كَانَ طَآئِفَةٌ مِّنكُمْ ءَامَنُوا۟ بِٱلَّذِىٓ أُرْسِلْتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٌ لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ فَٱصْبِرُوا۟ حَتَّىٰ يَحْكُمَ ٱللَّهُ بَيْنَنَا ۚ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْحَٰكِمِينَ

Dan jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah hingga Allah memutus perkara antara kita dan Dia adalah sebaik-baik para hakim.” ( QS al-Araf : 87 )

Ayat ini mengindikasikan, bahwa Kaum Madyan nantinya akan terbagi menjadi dua kelompok, yakni orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman. Dan Syuaib tampaknya sudah menduga, bahwa kaum lemah yang beriman akan ditindas oleh para pemuka yang durhaka.

Dari sini ajakan tabah dan sabar menjadi sangat penting lagi amat berguna, lebih-lebih dengan ajakan untuk menyerahkan putusan akhir kepada Allah SWT. Ini mengantar kaum beriman untuk tidak berputus asa, atau hidup dalam kegelisahan dan rasa takut.

Di sisi lain, hal itu baik juga bagi yang kafir karena dengan menyerahkan kepada Tuhan mereka tidak akan bertindak secara keliru, dan tidak juga mereka akan dianiaya, karena putusan Allah pastilah putusan yang haq.

Ayat selanjutnya berkata:

قَالَ الۡمَلَاُ الَّذِيۡنَ اسۡتَكۡبَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِهٖ لَـنُخۡرِجَنَّكَ يٰشُعَيۡبُ وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَكَ مِنۡ قَرۡيَتِنَاۤ اَوۡ لَـتَعُوۡدُنَّ فِىۡ مِلَّتِنَا‌ ؕ قَالَ اَوَلَوۡ كُنَّا كٰرِهِيْ
قَدِ افۡتَرَيۡنَا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اِنۡ عُدۡنَا فِىۡ مِلَّتِكُمۡ بَعۡدَ اِذۡ نَجّٰٮنَا اللّٰهُ مِنۡهَا‌ ؕ وَمَا يَكُوۡنُ لَـنَاۤ اَنۡ نَّعُوۡدَ فِيۡهَاۤ اِلَّاۤ اَنۡ يَّشَآءَ اللّٰهُ رَبُّنَا‌ ؕ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَىۡءٍ عِلۡمًا‌ؕ عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلۡنَا‌ ؕ رَبَّنَا افۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِالۡحَـقِّ وَاَنۡتَ خَيۡرُ الۡفٰتِحِيۡ

Dan pemuka-pemuka yang amat sombong dari kaumnya berkata, ‘Sungguh kami pasti mengusirmu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami atau engkau harus kembali ke agama kami.’ “Dia menjawab, ‘Apakah walau kami tidak menyukai? Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah jika kami kembali kepada agama kamu sesudah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan tidak lah patut kami kembali ke dalamnya kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki.’ “‘Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah kami bertawakal. Tuhan kami putuskanlah antara kami dan antara kaum kami dengan haq (adil) dan Engkaulah Pemberi putusan yang sebaik-baiknya.’.’’ ( QS al-Araf : 88-89 )

Quraish Shihab menjelaskan, Kaum Nabi Syuaib tidak mampu menjawab apa yang beliau sampaikan, tidak ada dalih yang dapat mereka ucapkan, mereka juga tidak melaksanakan anjuran beliau untuk bersabar dan menanti putusan Allah.

Maka sebagaimana kebiasaan orang-orang terpojok, pemuka-pemuka yang amat sombong itu berkata, “Sungguh kami pasti mengusirmu hai Syuaib.” Demikian mereka memanggil nabi mereka dengan namanya tanpa panggilan penghormatan.

Bukan hanya hendak mengusir Syuaib, mereka juga hendak mengusir orang-orang yang beriman, kecuali jika mereka mau kembali ke agama lama. Menurut Quraish Shihab, makna “kembali kepada agama kami” bukan berarti menjadi penganut agama lama, tapi lebih kepada permintaan agar Syuaib diam dan membiarkan mereka menjalankan apa yang mereka mau.

Argumentasi dari Quraish Shihab tentang hal ini adalah, bahwa, sebagaimana keadaan para nabi sebelum dan sesudahnya, mereka tidak pernah ada yang dalam keadaan kufur/menyembah berhala.

Maka jawaban Syuaib, jika diperjelas menggunakan keterangan tambahan akan menjadi seperti ini, “Apakah kamu akan mengusir atau mengembalikan kami ke keadaan semula, walau kami tidak menyukai keadaan itu dan tidak menyukai dan merestui apa yang kamu kerjakan?

“Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali, walau sesaat kepada agama yang kamu anut atau diam merestui apa yang kamu kerjakan, apalagi sesudah Allah menyelamatkan kami darinya dengan memberi kami hidayah menuju kebenaran.

“Dan karena itu tidaklah patut kami kembali terpuruk masuk ke dalamnya kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki, tetapi mustahil Dia merestui kekufuran atau kedurhakaan, Allah begitu mulia, sehingga tidak akan menarik nikmat yang telah dianugerahkan-Nya tanpa sebab yang wajar.”

Lebih lanjut Nabi Syuaib berkata, “Kami mengaitkan pernyataan kami itu dengan kehendak Allah, karena pengetahuan kami terbatas, kami tidak tahu masa depan sedang pengetahuan Tuhan kami meliputi sejak dahulu hingga kini segala sesuatu.

“Kepada Allah saja kami bertawakal, yakni berserah diri setelah berupaya semaksimal mungkin. Dia akan memilih yang terbaik buat kami setelah berserah diri kepada Allah.”

Selanjutnya Nabi Syuaib bersama pengikutnya memohon, tanpa menggunakan kata “wahai” untuk mengisyaratkan kedekatan mereka kepada Allah. Mereka berkata, “Tuhan kami putuskanlah antara kami dan antara kaum kami dengan haq, yakni adil, dan Engkaulah Pemberi putusan yang sebaik-baiknya.” [yy/sindonews]