pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Bagaimana Shaf Berjamaah yang Benar?

Bagaimana Shaf Berjamaah yang Benar?

 

Fiqhislam.com - Didalam kitab “al Mausu’ah” disebutkan bahwa para ulama bersepakat sunnah muakkadah meluruskan shaf-shaf didalam shalat berjamaah dimana sebagian orang yang shalat tidak boleh lebih maju dari sebagian lainnya, serta merapatkan shaf-shaf dimana tidak terdapat celah ditengah-tengahnya.

Terdapat beberapa hadits yang berisi anjuran tentang ini, diantaranya,” 'Samakanlah shaf-shaf kalian, karena penyamaan shaf termasuk kesempurnaan shalat'." Didalam riwayat lain,” Sesungguhnya lurusnya shaf adalah bagian dari ditegakkannya shalat."

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,"Luruskanlah shaf dan rapatkanlah, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku." Dan sabdanya shalallhu ‘alaihi wa sallam,” "Luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian." (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 4414)

Adapun ukuran kerapatan shaf maka dengan menempelnya pundak seorang yang melaksanakan shalat dengan pundak orang sebelahnya dan menempelnya mata kakinya dengan mata kaki sebelahnya pada saat berdiri dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Luruskanlah shaf (barisan), karena kalian berbaris dengan barisan para malaikat. Dan setarakanlah pundak-pundak kalian, tutuplah barisan yang lowong, dan berlunaklah terhadap tangan saudara kalian, dan jangan biarkan barisan yang lowong untuk dimasuki setan. Dan barangsiapa menyambung barisan shalat, Allah akan menjalin hubungan terhadapnya, sebaliknya barangsiapa memutuskan shaf, Allah juga memutus hubungan terhadapnya."

Markaz al Fatwa didalam fatwanya menyebutkan bahwa menyamakan shaf adalah dengan menempelkan pundak dengan pundak dan mata kaki dengan mata kaki. Didalam Shahih Bukhari disebutkan “Bab Menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki didalam shaf”. Nu’man bin Basyir mengatakan,”Aku melihat seorang laki-laki dari kami menempelkan pundaknya ke pundak temannya.

Al Hafizh Ibnu Hajar didalam ‘al Fath” mengatakan “Berdasarkan dalil dari hadits Nu’man bin Basyir ini bahwa maksud dari mata kaki didalam ayat tentang wudhu adalah tulang yang menonjol pada kedua sisi kaki, yaitu tempat pertemuan antara betis dengan telapak kaki, dan bagian inilah yang memungkinkan untuk bisa ditempelkan dengan sebelahnya.

Hal itu berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa mata kaki adalah bagian akhir kaki. Ini adalah pendapat yang ganjil yang dinisbatkan kepada sebagian ulama Hanafi sedangkan para peneliti mereka belum meneguhkan pendapat ini sementara sebagian dari mereka meneguhkannya didalam permasalahan haji bukan wudhu.

Oleh karena itu meluruskan shaf adalah menempelkan pundak dengan pundak dan mata kaki dengan mata kaki.. (Markaz al Fatwa No. 47970)

Wallahu A’lam

Ust Sigit Pranowo
eramuslim.com

 

{mooblock=Allah Menyukai Barisan dan Shaf Yang Teratur}

Bagaimana Shaf Berjamaah yang Benar?Kadang kita temui dalam shalat berjamah, seorang imam langsung saja bertakbir tanpa terlebih dulu memperhatikan barisan di belakangnya, tak peduli apakah barisan makmumnya masih acak-acakan atau tidak.

Atau juga banyak kita temukan, kaum Muslim shalat berjamaah namun ia tak betul-betul mengerti tata-cara shalat yang benar. Hatta, urusan merapatkan dan meluruskan shaf. Fenomena tersebut merupakan bukti bahwa sebagian kaum Muslimin masih menganggap urusan merapatkan dan meluruskan shaf sebagai hal yang sepele dan hanya membuang-buang waktu saja. Akibatnya, masalah ini kurang mendapat perhatian serius.

Sikap seperti ini tentu saja keliru. Karena meluruskan dan merapatkan shaf merupakan bagian dari sempurnanya shalat berjamaah. Sebelum melakukan shalat berjamaah,  Rasulullah selalu memperhatikan jamaahnya. Ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya, "Rasulullah, apabila telah berdiri di tempatnya untuk bershalat, tidaklah terus bertakbir, sebelum melihat ke kanan dan ke kiri menyuruh manusia menyejajarkan bahu, seraya bersabda, 'Janganlah kamu maju mundur, yang menyebabkan maju mundurnya jiwa-jiwa kamu'." (Riwayat. Ahmad).

Bahkan, Rasulullah pernah menugaskan 'Ali bin Abi Thalib membantunya meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah. Begitu juga khalifah 'Umar bin Khaththab, jika bertindak selaku imam, beliau belum bertakbir sehingga datang orang yang telah ditugaskan untuk membetulkan shaf, melaporkan bahwa semua shaf telah teratur. Sesudah itu, barulah beliau bertakbir.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, "Luruskanlah shaf kalian karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat."(HR Muslim).

Ada juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Luruskan shaf sebaik-baik mungkin dalam shalat'." (Riwayat Ahmad)

Tak Lurus, Penyebab Perselisihan Hati

Dari Abu Mas'ud , ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Luruskanlah (shaf kalian) dan janganlah bercerai berai sehingga akan tercerai berai hati kalian'."(Riwayat Muslim).

Hadits ini memperlihatkan larangan Rasulullah agar umat Islam  tidak bercerai berai. Islam akan kuat di atas landasan berjamaah. Dan Islam tidak akan mudah dicerai-berai, diadu domba antara golongan yang satu dengan yang lain, bila budaya berjamaah menjadi ruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Pelajaran meluruskan shaf dalam berjamaah salah satu contoh yang dilakukan Nabi untuk menanamkan sikap disiplin dan ukhuwah Islamiyah para sahabatnya.

Sebuah pelaksanaan shalat berjamaah yang dilaksanakan dengan baik akan memberi atsar (pengaruh) yang baik bagi pelakunya dan akan memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara kita. Shalat berjamaah juga dapat membentuk pribadi Muslim yang disiplin, penuh tanggung jawab, dan mampu menjalankan nilai-nilai luhur di tengah masyarakatnya.

Dalam di atas hadits Nabi berpesan bahwa shaf yang tidak rapi dan rapat akan menyebabkan terjadinya perselisihan dan perpecahan yang berujung kepada kehancuran, kekalahan, hilangnya kekuatan dan kemuliaan. Bukankah musuh di sekitar kita telah menjadikan kita sebagai santapan yang diperebutkan, sebagaimana makanan yang dijadikan rebutan orang banyak?

Cara Meluruskan Shaf

Anas bin Malik menerangkan cara meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah pada masa kehidupan Nabi, ia berkata, "Pada waktu itu masing-masing di antara kami merekatkan bahunya dengan bahu saudaranya, dan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya." (Riwayat Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, ia berkata, "Sungguh aku melihat setiap orang di antara kami melekatkan bahunya dengan bahu saudaranya dan melekatkan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya. Jika kamu terapkan hal seperti itu saat ini,  pasti setiap kalian akan lari seperti larinya (keledai) liar."

Berdasarkan keterangan hadits di atas, dapat dipahami bahwa cara meluruskan dan merapatkan shaf adalah sebagai berikut:

•    Merapatkan bahu dengan bahu, telapak kaki dengan telapak kaki (bagian tumit), lutut dengan lutut, dan mata kaki dengan mata kaki (saudaranya yang ada di sampingnya).

•    Menjaga agar bahu, leher, dan dada tetap lurus (dengan bahu, leher dan dada saudaranya), yaitu tidak lebih maju atau lebih mundur dari yang lainnya.

Hikmah

Dari pelajaran di atas bisa kita ambil hikmahnya bahwa merapatkan dan meluruskan shaf merupakan perbuatan yang selalu diperintahkan Rasulullah dan terus dilakukan oleh para sahabat. Rasulullah SAW melakukan hal ini untuk menumbuhkan kerapian, kedisiplinan, dan kekhusyukan, baik dalam shalat berjamaah, maupun dalam kehidupan keseharian. Rasulullah selalu menekankan kepada para sahabat agar selalu memperhatikan cara-cara hidup berjamaah. Salah satunya caranya, saling meluruskan barisan dalam shalat.

Dalam satu riwayat disebutkan, "Ada tiga orang yang diridhai Allah, yaitu seorang yang pada tengah malam bangun dan shalat, suatu kaum (jamaah) yang berbaris untuk shalat, dan suatu kaum yang berbaris untuk berperang ( fisabililah) ".(HR Abu Yu'la).

Imam Qatadah menjelaskan bahwa ada hubungan yang erat antara kewajiban merapikan barisan ketika shalat dengan kewajiban merapikan barisan dalam peperangan. Beliau juga menyebutkan permisalan barisan itu seperti bangunan kokoh (bun-yanun marshush) sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Ahaff: 4)

Akhirul kalam, marilah kita berlomba-lomba menaati perintah merapatkan dan meluruskan shaf. Mulai hari ini juga. Semoga dengan demikian Allah mengokohkan umat Islam sebagaimana bangunan yang kokoh.


{/mooblock}