12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Lengkapi Ilmu dengan Akhlak

Lengkapi Ilmu dengan Akhlak

Fiqhislam.com - Adab dan akhlak adalah salah satu keutamaan dalam Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim”.

Ilmu tak dapat diukur dengan adanya tumpukan gelar atau selembar ijazah. Tapi bagaimana seseorang berinteraksi dengan pengetahuan yang telah diperolehnya apakah itu bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Karenanya, ilmu bisa membuat seseorang semakin jauh dari rahmat Allah SWT karena kurangnya adab terhadap ilmu dan pemberi ilmu itu sendiri. Seorang mahasiswa dan santri yang berilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak yang mulia.

Ia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan nilai-nilai moral baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, termasuk guru dan kawan seperjuangan. Diantara adab yang perlu diperhatikan dalam proses mencari ilmu adalah niat yang ikhlas.

Seseorang tidak akan mendapatkan berkah ilmu dan manfaatnya jika tidak ikhlas hanya karena Allah saja.

Dalam Al-Quran Allah SWT berfiman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS: Al Bayyinah: 5).

Orang yang mencari ilmu bukan karena Allah termasuk orang yang tidak akan bisa mencium bau Surga. Rasulullah Saw bersabda

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah).

Dalam hdits lain disebutkan;

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْـمَ لِيُبَـاهِي بِهِ اْلـعُلَمَاءَ وَيُجَـارِيْ بِهِ السُّفَهَـاءَ وَيَصْرِفُ بِهِ وُجُـوْهُ النَّـاسَ إِلَيْـهِ أَدْخَلَـهُ اللـهُ جَهَنَّـمَ

Barangsiapa yang mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, mempermainkan diri orang-orang bodoh dan dengan itu wajah orang-orang berpaling kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam. “ (HR. Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah).

Selain itu, rajin berdoa kepada Allah SWT untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Setiap menuntut ilmu hendaknya selalu mengamalkan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, mencari pertolongan dalam mencari ilmu dan berharap kepada hidayah Allah SWT.

Rasulullah Saw menasehati kita untuk selalu mencari ilmu yang bermanfaat dari Allah SWT dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Di masa yang penuh tantangan ini, ada segelintir umat Islam yang suka belajar dan mengamalkan ilmu yang tidak berguna seperti sihir, ilmu hitam dan berbagai ideologi Barat yang menyimpang seperti liberalisme dan hedonisme.

Selain itu, ilmu juga perlu dipelajari dengan tekun dan selalu haus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا

Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR: Al Hakim).

Terakhir, santri, pelajar dan para pencari ilmu juga harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat. dengan bertakwa kepada Allah SWT. Syarat penuntut ilmu yang ingin sukses adalah menjauhi kemaksiatan.

Syarat ini hanya dimiliki oleh agama Islam. Ibn al-Qayyim al-Jauziyah rahimahullah misalnya berkata maksiat dapat merusak hati dan badan baik di dunia maupun di akhirat. Di antara bahaya dari maksiat antara terhalangnya mendapatkan ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya yang telah Allah berikan di dalam hati, dan maksiat itu memadamkannya (cahaya itu).

Pengaruh kemaksiatan terhadap terhalangnya ilmu pernah menimpa Imam Syafi’i. Suatu saat beliau mengadu kepada salah seorang gurunya, Imam Waki’.

Dalam syairnya Imam Syafi’i berkata;

شَكَوْتُ إِلَىْ وَكِيْـعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ

فَأَرْشَـدَ نِيْ إِلَىْ تَـرْكِ اْلمَعَـاصِيْ

وقَالَ: اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُـــــوْرٌ

وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَـاصِ

Aku mengadu kepada guruku bernama Waqi’, tentang jeleknya hafalanku, maka ia memberikan petunjuk kepadaku agar meninggalkan kemaksiatan. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.

Imam Malik berkata;

إِنِيْ أرى اللهَ قَـدْ جَعَلَ فِيْ قَلْـبِكَ نُوْراً فَلاَ تُطْـفِئْهُ بِظُلْـمَةِ مَعْصِيَةٍ

Sesungguhnya aku melihat pada hatimu pancaran cahaya, maka jangan engkau redupkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan. [yy/hidayatullah]