23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Bertempat di Atas Arsy

Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Bertempat di Atas Arsy

Fiqhislam.com - Banyak pemahaman tersebar di masyarakat muslim menyebut bahwa Allah 'Azza wa Jalla bertempat di atas 'Arsy. Mereka berhujjah dengan dalil Surat Thaha Ayat 5 "Ar-Rahmaanu 'alal 'Arsyis Tawaa" yang artinya: Yang Maha Pengasih bersemayam di atas 'Arsy (singgasana).

Bahkan ada sebagian kelompok menyatakan bahwa Imam Syafi'i (wafat 204 H) meyakini keberadaan Allah di atas 'Arsy. Perlu diluruskan bahwa Imam Syafi'i tidak pernah mengatakan demikian. Justru Imam Syafi'i mengatakan bahwa: "Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat." (Lihat az-Zabidi, Ithaf as-Saadah al-Muttaqin)

Pertanyaannya, bolehkah mengatakan Allah bersemayam di atas 'Arsy? Mari kita simak tafsir Surat Thaha ayat 5 berikut:

اَلرَّحۡمٰنُ عَلَى الۡعَرۡشِ اسۡتَوٰى

Ar-Rahmaanu 'alal 'Arsyis tawaa

Artinya: "(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS Thaha: 5)

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan, Tuhan yang menurunkan Al-Quran ini adalah Yang Maha Pengasih terhadap semua makhuk tanpa terkecuali; yang bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur semua urusan makhluk-Nya.

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Pencipta langit dan bumi itu, adalah Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas 'Arsy. Allah bersemayam di atas 'Arsy, janganlah sekali-kali digambarkan seperti halnya seorang raja yang duduk di atas singgasananya, karena menggambarkan yang seperti itu, berarti telah menyerupakan Khaliq dengan makhluk-Nya. Anggapan seperti ini, tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran Islam, sesuai dengan firman Allah:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS asy-Syura: 11)

Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsirnya, bahwa cara yang paling baik dalam memahami ayat ini ialah cara yang telah ditempuh oleh Ulama Salaf, yaitu mempercayai ungkapan sebagaimana tercantum di atas 'Arsy (duduk di atas tahta) tetapi cara atau kaifiatnya (duduk di atas tahta) tidak boleh disamakan dengan cara duduknya makhluk, seperti seseorang yang duduk di atas kursi. Hal itu sepenuhnya adalah wewenang Allah semata-mata, manusia tidak dapat mengetahui hakikatnya.

Menurut Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember, Ustaz Abdul Wahab Ahmad, bila kita terima begitu saja terjemahan Quran berarti jawabannya sudah jelas: "Allah bersemayam". Tetapi memahaminya tidak sesederhana itu.

"Kita tak boleh membahas masalah aqidah hanya berdasarkan terjemahan saja, sebab bisa jadi terjemahannya tidak tepat. Tentu saja cara seseorang menerjemah tergantung pada mazhab yang ia anut sehingga terjemahan satu orang bisa berbeda dengan lainnya. Apalagi ini terkait dengan ayat Al-Quran yang memang kaya makna," kata Ustaz Abdul Wahab dalam catatannya di NU Online.

Ayat tersebut menggunakan redaksi Istawa yang diterjemahkan sebagai "bersemayam". Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti: duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat "bersemayam di atas 'Arasy artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya. Makna duduk sendiri secara tegas dikecam keras oleh Imam Syafi'i.

Mengatakan Allah bersemayam di atas 'Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini sehingga mereka memberi catatan "Bersemayam di atas 'Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya" seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.

Yang lebih paham tentang kalam dan paham Imam Syafi'i tentu para ulama bermazhab Syafi'i, bukan ulama di luar Syafi'iyyah.

Imam Syafi'i (wafat 204 H) adalah salah satu imam besar dari imam 4 mazhab yang ada. Beliau adalah seorang imam besar yang ahli Quran, ahli Hadis, ahli Ushul Fiqih yang terkemuka pada masanya.

Dalam satu kitabnya, ulama bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i ini menegaskan bahwa Allah tidak bertempat. Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Beliau tidak pernah mengatakan Allah bertempat di atas 'Arsy seperti yang diyakini beberapa kalangan muslim lainnya.

Akidah yang tersebar di kalangan muslim saat ini sering menyebut bahwa Allah bertempat di atas 'Arsy. Mereka berhujjah dengan dalil Surat Thaha Ayat 5 : "Ar-Rahmaanu 'alal 'Arsyis Tawaa" artinya: Yang Maha Pengasih bersemayam di atas 'Arsy (singgasana).

Imam Syafi'i yang juga ulama Salaf perintis Mazhab Syafi'i berkata:

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان ولا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته (إتحاف السادة المتقين بشرح إحياء علوم الدين, ج 2، ص 24)

"Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya." (Lihat az-Zabidi, Ithaf as-Saadah al-Muttaqiin…, j. 2, h. 24).

Dalam salah satu kitab karyanya Al-Fiqh Al-Akbar(selain Imam Abu Hanifah; Imam Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar), Beliau berkata:

واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)

"Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil." (Al-Fiqh al-Akbar, h. 13)

Penjelasan Surat Thaha Ayat 5

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah di Surat Thaha ayat 5 (Ar-Rahman 'Alal-'Arsy Istawa), Imam Syafi'i berkata:

إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)

"Ini termasuk ayat mutasyabihat. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak --secara mendetail-- membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang ini --dan semua orang Islam-- adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan." (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Secara panjang lebar dalam kitab yang sama, Imam Syafi'i juga membahas bahwa adanya batasan (bentuk) dan penghabisan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena pengertian batasan (al-hadd; bentuk) adalah ujung dari sesuatu dan penghabisannya.

Dalil bagi kemustahilan hal ini bagi Allah adalah bahwa Allah ada tanpa permulaan dan tanpa bentuk, maka demikian pula Dia tetap ada tanpa penghabisan dan tanpa bentuk. Karena setiap sesuatu yang memiliki bentuk dan penghabisan, secara logika dapat dibenarkan bila sesuatu itu menerima tambahan dan pengurangan, juga dapat dibenarkan adanya sesuatu yang lain yang serupa dengannya.

Untuk diketahui, Imam Syafi'i adalah ulama yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau memiliki banyak guru di antaranya yang masyhur adalah Imam Malik, Imam Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) dan Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (wafat 180 H).

Imam Dzahabi (wafat 748 H) mengatakan bahwa Imam Syafi'i ketika menafsirkan ayat Al-Quran seolah-olah beliau sedang menyaksikan bagaimana dulu ayat tersebut diturunkan. Imam Ibnu Katsir juga mengatakan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang paling tahu tentang makna ayat Al-Quran. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Saya tidak menemukan seorang yang lebih pandai dan lebih mengerti terhadap kitab Allah daripada Imam Syafi'i." Wallahu A'lam. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]