5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Keutamaan Membaca dan Menghapal Hadits

Keutamaan Membaca dan Menghapal Hadits

Fiqhislam.com - Sebagaimana Al Quran, membaca hadits-hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki keutamaan tersendiri bagi pembaca dan penghafalnya. Kenapa demikian? Karena hadits merupakan kunci memahami Al Quran, jalan untuk mengetahui petunjuk Rasulullah, dan sumber dalil syar’i setelah Al Quran.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa balasan pahala yang ditujukan pada mereka yang membaca ataupun menghafal hadits. Antara lain, yakni:

1. Dimudahkan jalan menuju Surga

Para ulama berpendapat bahwa membaca dan menghafal hadits merupakan bagian dari menuntut ilmu. Hadits merupakan ilmu yang paling agung untuk dipelajari setelah Al-Quran. Seseorang mustahil memahami ilmu agama tanpa mempelajari hadits. Karena itulah pahala mempelajari hadits tercakup dalam keutamaan mempelajari ilmu.

Pahala menuntut ilmu pun sangat banyak, dan belajar hadits termasuk salah satu bagian dalam menuntut ilmu. Salah satu pahala menuntut ilmu, yakni kemudahan jalan menuju surga. Sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata,

Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Rasulullah juga pernah bersabda, “Barang siapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, maka Allah akan pahamkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Syekh Bin Baz dalam fatwanya menuturkan, bahwa mempelajari ilmu agama merupakan bentuk mengikuti tuntunan Al Quran dan As Sunnah (hadits). “Dan mempelajari As Sunnah merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba. Sebagaimana mempelajari Al Quran juga demikian.” (Fatawa Nurun ‘alad Darb).

2. Mengelokkan wajahnya

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan lebih dari 20 orang shahabat, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyebut sebuah keutamaan agung bagi seorang yang membaca, memahami dan menghafal hadits. Keutamaan tersebut bukan main-main, yakni sebuah doa yang dipanjatkan langsung oleh Baginda Rasul sebuah do’a yang pastilah diijabah oleh Allah Ta’ala.

Doa yang Rasulullah panjatkan tercantum dalam sabda Beliau,

Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia memahami dan menghafalnya, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain).” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan ath-Thabrani).

Ibnul Qayyim menjelaskan hadits tersebut sebagai berikut, bahwa andaikan tak ada lagi keutamaan mempelajari hadits selain keutamaan tersebut, maka sangat cukup sebagai sebuah keutamaan tersebut. “Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (hadits) kecuali (dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung).

Dalam hadits tersebut menunjukkan pula bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memuliakan dan mengkhususkan orang-orang yang mempelajari hadits dengan mendoakan mereka. Doa tersebut pun tak diberikan pada selainnya di kalangan umat Islam.

Adapun makna mencerahkan atau mengelokkan rupa yang dimaksud Rasulullah dalam hadits di atas berkaitan dengan kehidupan di akhirat kelak. Sebagaimana dalam Al Quran, Allah Ta’ala berfirman,

Pada hari itu, ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga). Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali ‘Imran: 106-107). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]

 


 

Tags: Hadits | Sunnah | Atsar