12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Penjelasan Terkait Amalan Rebo Wekasan

Penjelasan Terkait Amalan Rebo Wekasan

Fiqhislam.com - Memasuki Rabu terakhir di bulan Safar ini sering disebut sebagai Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar pada Kalender Jawa.

Beberapa aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat di Rebo-Wekasan di antaranya, tahlilan, berbagi makanan dan selamatan, sampai mengerjakan shalat sunnah lidaf'il bala bersama. Bagaimana sebenarnya hukum membaca doa khusus dan amalan khusus pada hari Rebo Wekasan?

Berikut penjelasan Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon dilansir dari media sosialnya:

Rebo Wekasan adalah istilah untuk hari Rabu akhir bulan Safar. Bulan Safar tidak beda dengan bulan yang lainnya. Bukan bulan bencana dan bukan bulan sial. Kita tidak boleh mempercayai adanya bulan sial. Bulan sial adalah bulan seorang hamba melakukan kemaksiatan.

Adapun berita tentang adanya ribuan bala bencana di hari itu bukanlah berita dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Itu hanya ungkapan sebagian orang saleh dan bukan Hadis Nabi.

Yang mau mempercayai perkataan orang saleh tidak salah (boleh), akan tetapi dengan dua syarat: (1) Jangan disandarkan kepada Nabi Muhammad, (2) Perkataan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Nabi Muhammad. Tentang bala bencana bisa saja diucapkan oleh seorang saleh dari ilham. Masalah ilham telah disepakati keberadaannya seperti disebutkan dalam Al-Quran.

Bagi yang tidak mempercayai juga tidak ada masalah, sebab kita tidak wajib percaya kepada orang yang mengaku mendapatkan ilham. Yang tidak diperkenankan adalah kurang ajar kepada orang saleh. Artinya, bagi yang tidak percaya silakan, asal tetap menjaga tatakrama kepada orang saleh tersebut.

Bagi yang tidak mempercayai, berprasangka baiklah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga di hari Rebo Wekasan Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita serta tingkatkan ibadah dan jauhi maksiat, agar Allah senantiasa menjaga kita.

Bagi yang mempercayai juga tidak perlu cemas dan berprasangka buruk kepada Allah, sebab bencana apapun yang diturunkan hanya akan menimpa orang yang berprasangka buruk kepada Allah dan yang dikehendaki oleh Allah.

Adapun amalan yang seyogyanya dilakukan adalah tidak beda dengan amalan di hari-hari yang lainnya. Perbanyaklah sedekah, jangan tinggalkan di setiap hari untuk shalat hajat, agar dijauhkan dari bencana dan agar dikaruniai nikmat dan rahmat oleh Allah Ta'ala. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]

 

Penjelasan Terkait Amalan Rebo Wekasan

Fiqhislam.com - Memasuki Rabu terakhir di bulan Safar ini sering disebut sebagai Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar pada Kalender Jawa.

Beberapa aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat di Rebo-Wekasan di antaranya, tahlilan, berbagi makanan dan selamatan, sampai mengerjakan shalat sunnah lidaf'il bala bersama. Bagaimana sebenarnya hukum membaca doa khusus dan amalan khusus pada hari Rebo Wekasan?

Berikut penjelasan Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon dilansir dari media sosialnya:

Rebo Wekasan adalah istilah untuk hari Rabu akhir bulan Safar. Bulan Safar tidak beda dengan bulan yang lainnya. Bukan bulan bencana dan bukan bulan sial. Kita tidak boleh mempercayai adanya bulan sial. Bulan sial adalah bulan seorang hamba melakukan kemaksiatan.

Adapun berita tentang adanya ribuan bala bencana di hari itu bukanlah berita dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Itu hanya ungkapan sebagian orang saleh dan bukan Hadis Nabi.

Yang mau mempercayai perkataan orang saleh tidak salah (boleh), akan tetapi dengan dua syarat: (1) Jangan disandarkan kepada Nabi Muhammad, (2) Perkataan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Nabi Muhammad. Tentang bala bencana bisa saja diucapkan oleh seorang saleh dari ilham. Masalah ilham telah disepakati keberadaannya seperti disebutkan dalam Al-Quran.

Bagi yang tidak mempercayai juga tidak ada masalah, sebab kita tidak wajib percaya kepada orang yang mengaku mendapatkan ilham. Yang tidak diperkenankan adalah kurang ajar kepada orang saleh. Artinya, bagi yang tidak percaya silakan, asal tetap menjaga tatakrama kepada orang saleh tersebut.

Bagi yang tidak mempercayai, berprasangka baiklah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Semoga di hari Rebo Wekasan Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita serta tingkatkan ibadah dan jauhi maksiat, agar Allah senantiasa menjaga kita.

Bagi yang mempercayai juga tidak perlu cemas dan berprasangka buruk kepada Allah, sebab bencana apapun yang diturunkan hanya akan menimpa orang yang berprasangka buruk kepada Allah dan yang dikehendaki oleh Allah.

Adapun amalan yang seyogyanya dilakukan adalah tidak beda dengan amalan di hari-hari yang lainnya. Perbanyaklah sedekah, jangan tinggalkan di setiap hari untuk shalat hajat, agar dijauhkan dari bencana dan agar dikaruniai nikmat dan rahmat oleh Allah Ta'ala. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]

 

KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy'ari: Shalat Rebo Wekasan Tidak Ada Dasarnya Dalam Syariat


Fiqhislam.com - Ulama besar Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari , melarang ulama mengeluarkan fatwa mengajak dan melakukan shola t Rebo Wekasan . "Shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat," tegasnya.

KH Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur menjelaskan tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din.

Semua kitab-kitab tersebut, katanya, tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan sholat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, "sholat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan," ujarnya.

Isu mengenai Rabu terakhir di bulan Shafar atau lebih dikenal dengan istilah Rebo Wekasan bukan merupakan hal yang baru. Banyak perbincangan dan kajian berkaitan dengan isu tersebut. Mulai dari sejarah, ritual-ritual atau musibah-musibah yang diasumsikan pada hari tersebut. Termasuk yang sering ramai diperbincangkan adalah ritual shalat Rebo wekasan.

Laman NU juga memuat mengenai hukum sholat Rebo Wekasan juga mengatakan pada dasarnya, tidak ada nash sharih yang menjelaskan anjuran shalat Rebo wekasan. Oleh karenanya, bila shalat Rebo Wekasan diniati secara khusus, misalkan “aku niat shalat Shafar”, “aku niat shalat Rebo wekasan”, maka tidak sah dan haram.

Hal ini sesuai dengan prinsip kaidah fiqih: “Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

Atas pertimbangan tersebut, ulama mengharamkan shalat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban, shalat Asyura’ dan shalat kafarat di akhir bulan Ramadhan, sebab shalat-shalat tersebut tidak memiliki dasar hadits yang kuat.

Sedangkan menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh. Menurut beliau, solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha’ adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunah mutlak.

“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rebo Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya,” ujar yekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki dalam Kanz al-Najah wa al-Surur.

Shalat Rebo wekasan sendiri dijelaskan secara rinci meliputi tata cara dan doanya oleh Syekh Abdul Hamid Quds dalam Kanz al-Najah wa al-Surur. Demikian pula disebutkan oleh Syekh Ibnu Khatiruddin al-Athar dalam kitab al-Jawahir al-Khams. Shalat Rebo wekasan umum dilakukan di beberapa daerah, ada yang melakukannya secara berjamaah, ada dengan sendiri-sendiri. Wallahu a’lam. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]

 

Menyikapi “Rebo Wekasan”

Menyikapi “Rebo Wekasan”


Fiqhislam.com - Hari Rabu terakhir pada bulan Safar atau yang dikenal dengan sebutan Rebo Wekasan diyakini sebagian orang sebagai hari turunnya bala.

Keyakinan akan turunnya bala itu diperoleh dalam bentuk ilham yang diterima oleh seorang sufi yang kasyaf, bahwa pada hari Rebo Wekasan itu, ada 320 ribu bala yang turun untuk setahun, sebagaimana ditulis Syekh Abdul Hamid Quds dalam kitabnya, Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur.

Hukum shalat Rebo Wekasan

Ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum shalat Rebo Wekasan. Menurut Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah haram. Sebab, shalat Rebo Wekasan ini tidak ada asalnya dalam syari'at.

Namun, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki dalam Kanz al-Najah wa al-Surur menyebut bahwa Shalat Rebo Wekasan itu boleh dengan syarat bukan niat untuk Rebo Wekasan, melainkan diniatkan sebagai shalat sunnah mutlak.

Bagaimana kita menyikapi “Rebo Wakasan”?

Kita harus meyakini bahwa bala' (itu bisa datang kapan saja dan kita diperintahkan untuk beramal ibadah kapan saja)

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan (kapan saja) meskipun sedikit.” (HR Shahih & Muslim)

Salah satu amalan yang dengan perantara amalan itu insya Allah kita akan selamat dari bala' (bencana) adalah sedekah.

Ibnul Qoyyim mengatakan:

فإن للصدقة تأثيرا عجيبا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر

Sungguh sedekah itu memiliki pengaruh yang luar biasa untuk mencegah berbagai macam bala bagi pelaku sedekah, meski ia seorang penggemar dosa, orang zalim atau bahkan orang kafir sekalipun.”

فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء، وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم، وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه

Dengan sedekah, Allah mencegah berbagai macam bencana. Ini adalah perkara yang telah diketahui oleh semua manusia baik awam atau kalangan terpelajar. Semua penduduk bumi mengakui hal ini karena mereka telah membuktikannya.” (Al-Wabil Ash-Shoyyib hal. 31)

Berikut beberapa hadits terkait sedekah yang menjadi perantara Allah SWT selamtkan kita dari segala macam bala' (bencana)

الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ السُّوْءِ

Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu keburukan/bala'.” ( Imam Ath-Thabarani dari sahabat Rafi’ bin Khadij)

Dalam kitab Tanqihul Qoul syarh kitab Lubabul Hadis dikutip sebuah hadits :

الصَّدَقَةُ تَرُدُّ البَلاَء وَتُطَوِّلُ العُمْرَ

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu menolak bala dan memanjangkan umur.”

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ وَصَدَقَةُ الْعَلاَنِيَةِ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ

Sedekah secara sembunyi-sembunyi itu memadamkan amarah Tuhan, sedangkan sedekah secara terang-terangan itu benteng dari api neraka.” (HR imam Al-Baihaqi dari Abu Said Al-Khudri.)

Semoga kita selau dilindungi Allah SWT dari segala macam marabahaya. Wallahu a'lam bisshowaab. [yy/republika]

Oleh Hasan Yazid Al-Palimbangy