29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Tahlilan Sesat dan Bikin Kafir?

Tahlilan Sesat dan Bikin Kafir?

Fiqhislam.com - Benarkah tahlilan sebagai salah satu amalan yang sesat bahkan menjadikan seseorang kafir? KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menganggap mereka yang berpendapat demikian sebagai orang yang aneh.

Gus Baha mengatakan sah-sah saja tidak setuju mengenai adanya tahlilan dan ziarah kubur. Itu bebas dan tidak masalah. Tapi, dia mengingatkan, jangan menghukumi orang yang tahlilan atau ziarah kubur sebagai kafir. Lafal La ilaha Illa Allah dapat menjadikan orang kafir menjadi mukmin.

Fungsi lafal ini (Laa ilaaha illaAllah) menjadikan orang kafir saja bisa menjadi Mukmin. "Masak ya lafal yang sama bisa menjadikan orang mukmin menjadi kafir?"

"Mau kalian pikir seperti apapun nggak akan bisa ketemu jalurnya. Inilah pentingnya menjadi orang yang alim," tambahnya.

Dia mengingatkan bahwa tahlil yang dibaca adalah kalimat-kalimat tayyibah, seperti dua kalimat syahadat dan tahlil.

Itu sebabnya ia menganggap aneh dengan adanya sekelompok orang yang kerapkali mengkafirkan dan menyesatkan orang-orang yang tahlilan dan atau ziarah kubur.

Ulama asal Narukan Rembang, Jawa Tengah ini dalam jaringan YouTube yang dilansir sejumlah kanal mengingatkan agar jangan mudah mengkafirkan orang lain yang melakukan ibadah.

Menurut Gus Baha, ijma' ulama mengatakan jika ada seseorang yang kafir, namun ia dalam akhir hayatnya mengucapkan kalimat syahadat maka ia dihukumi masuk surga. Ia telah masuk Islam. "Jika demikian, mengapa orang yang baca tahlil dan kalimat syahadat saat tahlil atau ziarah justru dikafirkan," katanya.

Menurut Gus Baha, itu bertentangan dengan nalar sehat dan akal manusia. "Sekaya apapun akal manusia pasti tidak akan memahami ambiguitas orang mengkafirkan orang yang membaca kalimat tayyibah," tandasnya.

Doa untuk Ahli Kubur
Di sisi lain, dalam satu sesi pengajian kitab Tafsir Jalalain, Gus Baha juga menegaskan seharusnya umat Islam meyakini bahwa doa akan sampai kepada ahli kubur.

Pasalnya hal tersebut telah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW.

“Tidak ada aliran manapun di Islam ini yang memungkiri kalau doa itu sampai kepada mayit, meskipun ada yang mengkritik tahlilan, acara 7 hari mayit oke tidak apa-apa ada yang mengkritik, Tapi kalau meyakini doa tidak sampai kepada mayit itu tidak ada dalam firqoh ulama manapun,” tegas Gus Baha.

“Meskipun ada yang mengkritik kaifiyah (tata cara) misalnya dikatakan tahlil itu bid’ah tidak masalah ada yang mengkritik seperti itu. Tapi kalau sampai mengatakan doa tidak sampai kepada mayit itu salah besar, karena semua sepakat doa sampai kepada mayit,” lanjutnya.

“Karena doa itu diajarkan Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad semuanya berdoa” :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

"Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” ( QS Ibrahim: 41 )

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu."

“Karena sesungguhnya yang mati itu adalah jasad, karena ruh ini tidak pernah mati, maka dia ada masalah besar ketika menghadapi malaikat munkar nakir dan menghadapi macam-macam karena dia hidup,” terang Gus Baha

“Nah, yang bisa kita ingkari adalah kisah berlebihan seperti cerita kejawen kalau malam apa dia pulang ke rumah, lalu dikamarnya diberi rokok karena zaman di dunia dia senang rokok. Wah kalau itu tidak cuma bid’ah itu sudah ngawur sekali,” ujarnya. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]