5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Hidup Mulia dengan Sikap Qona’ah

kalbu hati nurani

Fiqhislam.com - Sering orang salah paham dalam beragama. Mereka melemparkan tuduhan pada agama, bahwa agama membuat hati mati, otak tidak berpikir. Agama membuat orang malas, karena selalu mengajak umatnya untuk menjauhi dunia, dan menerima saja segala takdir.

Tuduhan semacam itu muncul karena kesalahpahaman masyarakat itu sendiri. Mereka beranggapan bahwa yang disebut qona’ah adalah menerima saja apa yang ada, sehingga mereka tidak mencoba lagi.

Mereka menyebut taqwa orang orang hanya tenggelam di mihrab dan mimbar masjid. Mereka mengatakan orang-orang shaleh yang memegang sorban besar, tetapi tidak memperhatikan urusan dunia, dan penderitaan orang lain.

Agama Islam memerintahkan umatnya untuk qona’ah. Itulah sebabnya di zaman para sahabat banyak orang kaya, memiliki kekayaan miliaran, memiliki banyak unta, berdagang ke luar negeri, tetapi mereka qona’ah.

Arti kata qona’ah sangat luas. Percaya bahwa memang ada kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, bersabar dalam menerima rezeki jika rezeki tidak berkenan pada diri sendiri, dan mensyukuri nikmat yang diberikan kepada kita, karena bagaimanapun nikmat itu akan sirna.

Dalam kasus seperti itu diperintahkan untuk terus bekerja mencari rizki, kewajibannya belum berakhir. Kami bekerja bukan karena kami meminta tambahan yang sudah kami miliki dan tidak merasa cukup dengan apa yang ada, tetapi kami bekerja, karena orang yang hidup harus terus bekerja.

Demikianlah apa yang dimaksud dengan qona’ah. Jelas kesalahpahaman orang yang mengatakan qona’ah ini melemahkan hati, malas pikiran, mengajak bergandengan tangan.

Namun qona’ah merupakan modal terkuat untuk menghadapi subsistensi, sehingga menimbulkan kesungguhan hidup yang benar-benar (energi) mencari rezeki. Jangan takut dan gentar, jangan ragu dan ragu, kuatkan pikiran, kuatkan hati, percaya kepada Tuhan, berharap pertolongan-Nya, dan jangan putus asa.

Barang siapa yang telah memperoleh rezeki, dan telah dapat dimakan pada waktu pagi dan sore hari, hendaklah ia menenangkan hatinya, jangan merasa ragu dan kesepian. Anda tidak dilarang bekerja untuk mencari nafkah, Anda tidak disuruh bermalas-malasan karena harta sudah ada, karena itu bukan qona’ah, yaitu kemalasan.

Bekerjalah, karena manusia diutus ke dunia untuk bekerja, tetapi yakinlah, yakinlah bahwa dalam pekerjaan itu ada yang kalah dan yang menang. Jadi Anda bekerja karena Anda melihat bahwa kekayaan yang Anda miliki tidak cukup, tetapi Anda bekerja karena yang hidup tidak bisa menganggur.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah Saw bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qona’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.” (HR: Muslim).

Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qona’ah. Karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit.

qona’ah bukanlah berarti hilang semangat untuk berkerja lebih keras demi menambah rezeki. Malah, ia bertujuan senantiasa bersyukur dengan rezeki yang dikurniakan Allah.

Kaya Hati

Karena sikap qona’ah tidak berarti fatalis, menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang qona’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun semua itu bukan untuk menumpuk-numpuk kekayaan, mencintai dunia dan takut mati, lupa infak dan sedekah.

Dari Abu Hurairah Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR: Bukhari no. 6446)

Sikap qona’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT qona’ah ialah kepuasan hati dengan rezeki yang ditentukan Allah.

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Saw bersabda:

قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR: Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy).

Karenanya qona’ah itu mengandung lima perkara: Ikhlas menerima apa yang ada, selalu memohon kepada untuk mendapat tambahan rizki yang cukup, dan terus berusaha, sabar dan menerima menerima ketentuan Allah, tawakal kepada Allah dan tidak tertarik pada tipu daya dunia. [yy/hidayatullah]