30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Akal Orang Taat dan Akal Pelaku Maksiat

Akal Orang Taat dan Akal Pelaku Maksiat

Fiqhislam.com - Di antara dampak maksiat adalah memberikan pengaruh khusus bagi akal. Dikutip dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Jika ada dua orang berakal, salah satunya taat kepada Allah sementara yang lainnya pelaku maksiat, maka akal orang yang taat lebih sempurna, pikirannya lebih benar, pendapatnya lebih lurus, dan kebenaran selalu menjadi pendampingnya.

Oleh sebab itu, seruan Alquran senantiasa disandingkan dengan para pemilik akal dan pikiran, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَاتَّقُوۡنِ يٰٓاُولِى الۡاَلۡبَابِ

"... Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah ayat 197).

فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰۤاُولِى الۡاَ لۡبَابِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

"... Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung." (QS. Al-Maidah ayat 100)

وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ

"... Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah ayat 269)

Sebenarnya masih banyak ayat lain yang semisal dengan ayat yang disebutkan di atas.

Bagaimana mungkin menjadi sempurna akal seseorang yang mendurhakai Allah, padahal jiwanya berada dalam genggaman-Nya dan dia hidup di bumi-Nya?

Lagi pula, orang yang berakal pasti mengetahui bahwa dia dilihat dan diawasi oleh Dzat Yang Mahakuasa. Akan tetapi, orang itu malah mendurhakai-Nya walau keberadaannya tidak tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk setiap perkara yang dimurkai-Nya. Setiap saat dia menyebabkan kemarahan, laknat, dan kejauhan-Nya sebagai ganti kedekatan-Nya, terusirnya dari pintu-Nya, keberpalingan-Nya, dan kehinaan di hadapan-Nya, serta dibiarkannya sendirian antara dirinya dengan musuhnya, hina dalam pandangan-Nya, tercegah dari nikmat ridha dan cinta-Nya, serta kesejukan mata dengan kedekatan-Nya, juga hilangnya keberuntungan berada di samping-Nya dan memandang wajah-Nya bersama para wali-Nya.

Kebalikan dari yang disebutkan ini, yaitu orang-orang yang taat akan mendapat ganjaran berkali-kali lipat, sebagaimana hukuman yang ditimpakan atas para pelaku maksiat.

Maka dari itu, di manakah akal seseorang yang mendahulukan kelezatan sesaat, sehari, atau beberapa waktu saja. Lalu usai begitu saja, seolah-olah mimpi yang tidak pernah terwujud, jika dibandingkan dengan kenikmatan yang kekal dan kemenangan yang agung?

Sungguh, nikmat ketaatan merupakan puncak kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Sekiranya yang dimaksud adalah akal yang dengannya hujjah itu tegak, tentulah kedudukan pelaku maksiat seperti halnya orang gila. Bahkan, bisa jadi kondisi orang gila itu lebih baik dan lebih selamat daripada pelaku maksiat apabila ditinjau dari sisi ini.

Maksiat mengakibatkan berkurangnya fungsi akal manusia dalam menjalani kehidupan.

Jikalau persamaan dalam hal kekurangan akal antara pelaku maksiat dan orang gila tersebut jelas, jika memang demikian faktanya, maka tentu akan tampak keunggulan orang yang taat atas pelaku maksiat. Namun, amat disayangkan bahwa bencana ini merata dan kegilaan itu beraneka ragam bentuknya.

Apabila akal manusia itu waras, pasti dia mengetahui bahwasanya jalan untuk mendapat kelezatan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kehidupan yang baik ialah dengan ridha (tunduk) kepada Dzat yang seluruh kenikmatan berada pada ridha-Nya.

Sebaliknya, seluruh kepedihan dan adzab terdapat pada kemarahan dan kemurkaan-Nya. Di dalam ridha-Nya terdapat kesejukan pandangan, kegembiraan jiwa, kehidupan hati, kelezatan rohani, baik dan lezatnya kehidupan, serta sebaik-sebaik nikmat, yang sekiranya sebesar atom darinya ditimbang dengan nikmat-nikmat dunia tentulah tetap tidak sebanding. Bahkan, sekiranya hati mendapat bagian yang paling kecil dari hal itu, tentulah ia tidak akan ridha untuk menggantikannya dengan dunia dan segala isinya.

Ditambah lagi, pelaku merasa nikmat dengan bagiannya di dunia. Rasa nikmat yang dirasakannya itu jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan orang-orang yang hidup bermewah-mewah di dunia. Rasa nikmat tersebut tidak tercemari sedikit pun dengan perkara-perkara yang mencemari orang yang hidup dalam kemewahan baik berupa kegundahan, kegelisahan, kesedihan, halangan, maupun rintangan. Ia telah mendapatkan dua kenikmatan, namun masih menunggu dua kenikmatan lain yang lebih besar. Meski demikian, terkadang dalam fase ini dia pun mengalami sejumlah rasa sakit. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala

إِن تَكُونُوا۟ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ

"... Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan ...." (QS. An-Nisa ayat 104)

La ilaha illallah. Betapa kurangnya akal seorang yang menjual permata dan minyak wangi dengan pengganti kotoran yang buruk, menggantikan persahabatan dengan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu dari kalangan para Nabi, para shiddiqin (orang-orang yang teguh kepercayaannya dengan kebenaran Rasul), Para syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan orang-orang saleh, dengan persahabatan orang-orang yang dimurkai dan dilaknat Allah, padahal Dia telah menyediakan Neraka Jahannam untuk mereka. Sungguh, Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali. [yy/republika]