23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Shalat Malam dan Tipu Daya Iblis

Shalat Malam dan Tipu Daya Iblis

Fiqhislam.com - Dikutip dari buku Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi dengan pentahqiq Syaikh Ali Hasan al-Halabi, pernah ada seorang syaikh ahli ibadah yang bernama Husain al-Quzwaini. Saat siang hari, dia sering berjalan kaki di Masjid Jami al-Manshur. Kemudian ditanyakan kepadanya alasan rutinitas itu. Lalu dijawab: "Agar dia tidak tidur." Maka dapat ditegaskan: Ini adalah kejahilan terhadap syariat dan akal sehat.

Kejahilan terhadap syariat, karena Nabi Saw bersabda: "Sesungguhnya dirimu memiliki hak yang harus engkau penuhi. Karena itu, bangunlah dan tidurlah."

Dan dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa beliau Saw pernah bersabda:

"Hendaknya kalian mengikuti petunjuk dengan bersahaja. Karena siapa saja yang berlebih-lebihan dalam agama ini, niscaya dia akan terkalahkan." (HR Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Abi Ashim).

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, bahwasanya dia menuturkan apa yang dialaminya:

"Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid, dan saat itu ada tali yang membentang di antara dua tiang masjid. Beliau lalu bertanya: 'Apa ini?' Para Sahabat pun menjawab: 'Tali milik Zainab untuk shalat. Saat malas atau lelah dia berpegangan dengannya (tali tersebut).' Maka beliau Saw memerintahkan: 'Lepaskanlah tali ini. Hendaklah masing-masing dari kalian mengerjakan shalat ketika bersemangat. Jika dia malas atau lelah, hendaknya dia duduk."

Dari Aisyah, dia menuturkan; Bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

"Apabila salah seorang dari kalian mengantuk, hendaknya dia tidur sampai hilang kantuknya. Sebab apabila dia shalat dalam keadaan mengantuk, boleh jadi dia ingin memohon ampun, tetapi (dikarenakan mengantuk) dia malah mencela dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun kejahilan terhadap akal sehat, karena tidur itu merupakan cara mengembalikan kebugaran tubuh yang telah melemah disebabkan aktivitas rutin. Tatkala seseorang tidak mau tidur padahal dia pasti membutuhkannya, maka dia akan berdampak buruk terhadap badan dan akalnya.

Kalau ada yang menanggapi: "Engkau meriwayatkan kepada kami bahwasanya beberapa ulama Salaf menghidupkan seluruh malamnya untuk beribadah."

Sanggahan dapat dijawab dengan argumen: "Benar, tapi mereka melakukannya setahap demi setahap, hingga mereka mampu melakukan amalan tersebut. Pada saat yang sama, mereka pun yakin bisa tetap melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Di sisi lain, mereka mendukung usaha mereka untuk bisa seperti ini dengan cara tidur pada siang hari dan dengan hanya sedikit makan, sehingga mereka pun bisa menghidupkan seluruh malam dengan beribadah. Di samping itu, belum pernah mendengar bahwa Nabi Saw menghidupkan seluruh malam untuk shalat, sehingga sunnah beliaulah yang wajib dikuti."

Iblis melancarkan talbisnya pada beberapa orang yang gemar shalat malam dengan membicarakan amalannya ini di siang harinya. Misalnya, perkataan salah seorang mereka: "Muadzin mengumandangkan adzan tepat waktu." Dia berkata demikian agar orang-orang tahu kalau saat itu dia sudah bangun.

Sikap seperti ini, andaikan pelakunya selamat dari riya, setidaknya akan mengubah catatan amalan tersebut, yakni dari amalan yang pada awalnya dikerjakan secara rahasia menjadi amalan yang dikerjakan secara terang-terangan. Sehingga, pahalanya pun berkurang. [yy/ihram]