5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Semua Rasul Dakwahkan Tauhid, Termasuk Nabi Isa As

Semua Rasul Dakwahkan Tauhid, Termasuk Nabi Isa As

Fiqhislam.com - Para nabi yang diutus Allah SWT untuk berdakwah membawa risalah Islam dan bukan agama lain, termasuk Nabi Isa alahissalam.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof Hamka menegaskan kita kaum Muslimin mempercayai dengan sedalam-dalamnya, bahkan menjadi bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan itikad kita. "Bahwa agama yang diajarkan Nabi Isa Almasih tidak lain dari pada agama Islam," tulis Prof Hamka.

Hal ini, kata Prof Hamka, sebagai yang telah ditunjukkan ayat ini, dan ayat yang lain, penyerahan diri yang timbul daripada ilmu keinsafan kepada Allah SWT, lalu dirumuskan menjadi La llaha llla Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Isa Rasulullah! Asasnya ialah Tauhid.

Tetapi karena pengaruh raja-raja yang berkuasa, berpadu dengan pengaruh pimpinan agamawan, yaitu kaum pendeta bagi kepentingan politik dan kekuasaan, dibentuklah kepercayaan itu menurut kehendak mereka dan diputuskan demikian, dan tidak boleh dilanggar dari yang diputuskan itu.

"Akhirnya timbullah perpecahan yang dahsyat di antara satu golongan dengan golongan yang lain dalam satu agama, sampai musnah memusnahkan," katanya.

Golongan Arius misalnya. Arius terkenal menolak keras kepercayaan trinitas dan dia menegaskan tauhid, Allah adalah Esa, Isa Almasih adalah Rasul Allah, Ruhul Qudus bukan sebahagian dari Tuhan. Arius menentang syirik.

Maka Kaisar Constantin yang telah menerima agama Kristen dengan resmi menjadi agama kerajaan Roma sesudah ditantang demikian hebat di zaman Nero, Constantin telah campurtangan menyelesaikan soal itu. Kaisar menyebelahi paham Trinitas.

Dan Arius serta sekalian penganut fahamnya dipandang telah melanggar ketentuan gereja. Kitab-kitabnya dibakar dan penganutnya di mana-mana dikejar-kejar. Ini terjadi dalam tahun 325 Masehi, artinya 3 abad setelah Nabi Isa meninggal dunia.

Dan 300 tahun pula sesudah itu (tahun 628) dikeluarkan lagi undang-undang untuk menyapu bersih segala paham Arius, karena rupanya masih saja ada. Undang-undang ini dikeluarkan Kaisar Theodusius II.

Terus-menerus terjadi pertentangan paham agama yang hebat, tidak berhenti-henti, dan lebih terkenal lagi perang 80 tahun di Eropa di antara pembela Katholik dengan pembela Protestan, sehingga akhirnya ahli-ahli negara yang kemudian memutuskan saja bahwa agama mesti dipisahkan dari urusan kenegaraan,karena hanya akan membawa kacau saja.

Prof Hamka menegaskan, bahwa dia sengaja mengemukan soal ini ialah untuk membuktikan maksud ayat bahwa Ahlul-Kitab timbul silang sengketa sesudah mereka mendapat ilmu yang nyatatentang hakikat agama, ialah setelah ada 'baghyan' artinya pelanggaran batas.

Yaitu pemuka agama telah melampaui batas mereka, mereka telah menguasai agama dan memutuskan tidak boleh berpikir lain dari apa yang mereka putuskan.

Dan kalau mereka berkuasa, mereka tidak segan bertindak kejam kepada orang yang dipandang sesat, walaupun dengan memberikan hukuman yang sengeri-ngerinya sekalipun.

"Ayat ini adalah satu peringatan (sinyalemen), terutama kepada kita kaum Muslimin," katanya.

Apabila orang telah melampaui batasnya, manusia hendak mengambil hak Tuhan, perpecahan itu pulalah yang akan terjadi. Dalam Islam telah timbul berbagai mazhab. Seumpama Syiah. Khawarij, Murjiah, Muktazilah, dan Ahlus-sunnah.

Sejarah 14 abad bukan sedikit, menumpahkan darah sesama Muslimin karena perlainan mazhab. Wazir Al Alqami yang bermazhab Syiah tidak merasa keberatan membuat hubungan rahasia dengan Hulagu Khan, sehingga Baghdad, pusat Khalifah Bani Abbas diserang, dihancurkan, dibakar habis dan khalifah dibunuh. (656 H-1268 M).

Apa sebab dia berkhianat demikian rupa? Ialah karena dia membela faham Syiah, dan khalifah sendiri adalah seorang penganut paham Sunni. Akhirnya wazir itu sendiripun dibunuh Hulagu Khan. [yy/republika]

 

Semua Rasul Dakwahkan Tauhid, Termasuk Nabi Isa As

Fiqhislam.com - Para nabi yang diutus Allah SWT untuk berdakwah membawa risalah Islam dan bukan agama lain, termasuk Nabi Isa alahissalam.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof Hamka menegaskan kita kaum Muslimin mempercayai dengan sedalam-dalamnya, bahkan menjadi bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan itikad kita. "Bahwa agama yang diajarkan Nabi Isa Almasih tidak lain dari pada agama Islam," tulis Prof Hamka.

Hal ini, kata Prof Hamka, sebagai yang telah ditunjukkan ayat ini, dan ayat yang lain, penyerahan diri yang timbul daripada ilmu keinsafan kepada Allah SWT, lalu dirumuskan menjadi La llaha llla Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, dan Isa Rasulullah! Asasnya ialah Tauhid.

Tetapi karena pengaruh raja-raja yang berkuasa, berpadu dengan pengaruh pimpinan agamawan, yaitu kaum pendeta bagi kepentingan politik dan kekuasaan, dibentuklah kepercayaan itu menurut kehendak mereka dan diputuskan demikian, dan tidak boleh dilanggar dari yang diputuskan itu.

"Akhirnya timbullah perpecahan yang dahsyat di antara satu golongan dengan golongan yang lain dalam satu agama, sampai musnah memusnahkan," katanya.

Golongan Arius misalnya. Arius terkenal menolak keras kepercayaan trinitas dan dia menegaskan tauhid, Allah adalah Esa, Isa Almasih adalah Rasul Allah, Ruhul Qudus bukan sebahagian dari Tuhan. Arius menentang syirik.

Maka Kaisar Constantin yang telah menerima agama Kristen dengan resmi menjadi agama kerajaan Roma sesudah ditantang demikian hebat di zaman Nero, Constantin telah campurtangan menyelesaikan soal itu. Kaisar menyebelahi paham Trinitas.

Dan Arius serta sekalian penganut fahamnya dipandang telah melanggar ketentuan gereja. Kitab-kitabnya dibakar dan penganutnya di mana-mana dikejar-kejar. Ini terjadi dalam tahun 325 Masehi, artinya 3 abad setelah Nabi Isa meninggal dunia.

Dan 300 tahun pula sesudah itu (tahun 628) dikeluarkan lagi undang-undang untuk menyapu bersih segala paham Arius, karena rupanya masih saja ada. Undang-undang ini dikeluarkan Kaisar Theodusius II.

Terus-menerus terjadi pertentangan paham agama yang hebat, tidak berhenti-henti, dan lebih terkenal lagi perang 80 tahun di Eropa di antara pembela Katholik dengan pembela Protestan, sehingga akhirnya ahli-ahli negara yang kemudian memutuskan saja bahwa agama mesti dipisahkan dari urusan kenegaraan,karena hanya akan membawa kacau saja.

Prof Hamka menegaskan, bahwa dia sengaja mengemukan soal ini ialah untuk membuktikan maksud ayat bahwa Ahlul-Kitab timbul silang sengketa sesudah mereka mendapat ilmu yang nyatatentang hakikat agama, ialah setelah ada 'baghyan' artinya pelanggaran batas.

Yaitu pemuka agama telah melampaui batas mereka, mereka telah menguasai agama dan memutuskan tidak boleh berpikir lain dari apa yang mereka putuskan.

Dan kalau mereka berkuasa, mereka tidak segan bertindak kejam kepada orang yang dipandang sesat, walaupun dengan memberikan hukuman yang sengeri-ngerinya sekalipun.

"Ayat ini adalah satu peringatan (sinyalemen), terutama kepada kita kaum Muslimin," katanya.

Apabila orang telah melampaui batasnya, manusia hendak mengambil hak Tuhan, perpecahan itu pulalah yang akan terjadi. Dalam Islam telah timbul berbagai mazhab. Seumpama Syiah. Khawarij, Murjiah, Muktazilah, dan Ahlus-sunnah.

Sejarah 14 abad bukan sedikit, menumpahkan darah sesama Muslimin karena perlainan mazhab. Wazir Al Alqami yang bermazhab Syiah tidak merasa keberatan membuat hubungan rahasia dengan Hulagu Khan, sehingga Baghdad, pusat Khalifah Bani Abbas diserang, dihancurkan, dibakar habis dan khalifah dibunuh. (656 H-1268 M).

Apa sebab dia berkhianat demikian rupa? Ialah karena dia membela faham Syiah, dan khalifah sendiri adalah seorang penganut paham Sunni. Akhirnya wazir itu sendiripun dibunuh Hulagu Khan. [yy/republika]

 

Quraish Shihab

Quraish Shihab: Islam Agama yang Dibenarkan Allah SWT


Fiqhislam.com - Dalam perspektif kaum Muslimin, Islam merupakan agama satu-satunya di yang dibenarkan (diridhai) Allah SWT dan tidak ada yang menyamainya. Tentang Allah SWT ridha kepada agama Islam ditegaskan dalam surah Al-Imran ayat 19 yang artinya:

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."

"Ayat ini menurut Ibn Katsir mengandung pesan dari Allah, bahwa tiada agama di sisi-Nya, dan yang diterima-Nya dari seorang pun kecuali Islam," tulis Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah.

Makna Islam yakni mengikuti rasul-rasul yang diutus-Nya setiap saat hingga berakhir dengan Muhammad Saw. Dengan kehadiran beliau, telah tertutup semua jalan menuju Allah kecuali jalan dari arah beliau, sehingga siapa yang menemui Allah setelah diutusnya Muhammad saw dengan menganut satu agama selain syariat yang beliau sampaikan, maka tidak diterima oleh Nya. Ini sebagaimana firman-Nya. "Barang siapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Al-Imran 85).

Jika demikian, dia menjelaskan, Islam adalah agama para nabi karena Istilah Muslimin digunakan juga untuk umat-umat para nabi terdahulu. Karena itu, mengutip asy-Sya‘rawi Islam tidak terbatas hanya pada risalah Sayyidina Muhammad Saw saja. Tetapi Islam adalah ketundukan makhluk kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran yang dibawa oleh para rasul, yang didukung oleh mukjizat dan bukti-bukti yang meyakinkan.

Hanya saja, kata Islam untuk ajaran para nabi yang lalu merupakan sifat. Sedangkan umat Nabi Muhammad Saw memiliki keistimewaan dari sisi kesinambungan sifat itu bagi agama umat Muhammad, sekaligus menjadi tanda dan nama baginya. Ini karena Allah tidak lagi menurunkan agama sesudah datangnya Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya, ulama Mesir kenamaan itu mengemukakan, bahwa nama ini telah ditetapkan jauh sebelum kehadiran Nabi Muhammad saw. Firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim dan diabadikan Aquran menyatakan: “Dia (Illah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam Alquran." (Al-Hajj 78).

Karena itu pula, agama-agama lain tidak menggunakan nama ini sebagaimana kaum muslimin ddak menamai ajaran agama mereka dengan Muhammadinisme. Di sisi lain diamati, bahwa dalam Alquran tidak ditemukan kata Islam sebagai nama agama kecuali setelah agama ini sempurna dengan kedatangan Nabi Muhammad saw.

Dari semua yang dijelaskan di atas, tidak keliru jika kata Islam pada ayat ini dipahami sebagai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, karena baik dari tinjauan agama maupun sosiologis. Itulah nama ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Secara akidah Islamiyah, siapa pun yang mendengar ayat itu dituntut untuk menganut ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Walaupun di mata Allah, semua agama yang dibawa oleh para rasul adalah Islam, sehingga siapa pun sejak Adam hingga akhir zaman yang tidak menganut agama sesuai yang diajarkan oleh rasul yang diutus kepada mereka, maka Allah tidak menerimanya. [yy/republika]