21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

7 Amal Tetap Mengalir Pahala meski Telah Meninggal Dunia

7 Amal Tetap Mengalir Pahala meski Telah Meninggal Dunia

Fiqhislam.com - Amal yang tetap mengalirkan pahala walau telah meninggal dunia patut diketahui kaum Muslimin sehingga saat hidup di dunia dapat mempersiapkan dan mengamalkannya. Adapaun soal amalan yang tetap mengalirkan pahala Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr pun memberikan penjelasan.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, ”Rasulullah Shaallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu): Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.

(Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, hlm. 149. hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dam shahihul Jami’, no. 3602).

Sungguh di antara nikmat agung Allah yang diberikan kepada para hamba-Nya yang beriman adalah Allah Azza wa Jalla menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak bagi mereka.

Pintu-pintu kebaikan yang bisa dikerjakan oleh seorang hamba yang mendapatkan taufiq semasa hidupnya di dunia, namun pahalanya akan terus mengalir sepeninggal si pelaku. (Aliran pahala ini sangat dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal.) Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr menjelaskan, karena orang yang sudah meninggal itu tergadai, mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggungan jawab lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.

(Berbahagialah) orang yang mendapatkan taufiq (dalam hidupnya, karena) di dalam kuburnya kebaikan-kabaikan, pahala dan keutamaan akan terus mengalir baginya. Dia sudah tidak lagi beramal akan tetapi pahalanya tidak terputus, derajatnya bertambah, dan kebaikannya semakin berkembang, serta pahalanya berlipat ganda padahal dia sudah terbaring kaku dalam kuburnya.

Kata ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu bermanfaat yang bisa mengantarkan seseorang agar mengerti tentang agama mereka, bisa mengenalkan Rabb dan sesembahan mereka; ilmu yang bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus; Ilmu yang dengannya bisa membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan, serta halal dan haram.

Dari sini, nampak jelas besarnya keutamaan para Ulama yang selalu mamberi nasehat dan para da’i yang ikhlas. Merekalah (ibarat) pelita bagi manusia, penyangga negara, pembimbing umat dan sumber hikmah. Hidup mereka merupakan kekayaan dan kematian mereka adalah musibah. [yy/vivaNews]