14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Keutamaan Sujud dalam Shalat

Keutamaan Sujud dalam Shalat

Fiqhislam.com - Keutamaan sujud dalam shalat banyak sekali. Sujud seorang hamba pada Tuhannya adalah amal yang paling luar biasa dan semulia-mulia pengabdian yang dilakukan makhluk terhadap Khaliknya.Karena sujud menjadi simbol ketundukan dan kepasrahan seorang muslim kepada Allah Ta'ala

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

واسجد واقترب

Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Tuhanmu.” (QS. Al ‘Alaq: 19).

Karena itu, ketika bersujud dalam shalat memiliki keutamaan dan kedudukan yang tinggi. Sebuah hadis menjelaskan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ رواه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa [HSR. Muslim]

Lantas apa saja keutamaan dari sujud dalam shalat ini? Serta dalil-dalil mana yang menjelaskannya? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa keutamaan sujud dan dalilnya, antara lain:

1. Bagian dari Ibadah

Hal ini tergambar saat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengatakan:

لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلُحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا

"Tidak sepatutnya bagi manusia bersujud kepada sesama manusia. Seandainya patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya, karena besarnya haknya atas isterinya". [HR. Tirmidzi, Ahmad dan lain-lain)

Hadis ini menunjukkan betapa tingginya nilai sujud sebagai suatu peribadatan.

2) Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

"Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-Nya adalah dalam keadaan dia sujud". [HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa'i, dan Ahmad]

3) Bergugurannya dosa saat sujud shalat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ أَوْ عَاتِقِهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تساقطت عنه

"Sesungguhnya, tatkala seorang hamba berdiri shalat, didatangkanlah seluruh dosanya, kemudian diletakkan di atas kepala dan kedua bahunya, maka ketika ia rukuk dan sujud, dosa-dosa tersebut berguguran". [HR. Ibnu Hibban no.1734, Thabrani dalam Al-Ausath 7314, Al-Mawarzi dalam Ash Shalat 294, Al-Baghawi 656. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah 1398, mengatakan, dan ini merupakan sanad yang shahih, seluruh perawinya dapat dipercaya]

4) Dapat meninggikan derajat

Ma'dan bin abi Thalhah al Ya'muri rahimahullah mengisahkan:

لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ لَهُ: حَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ، فَقَالَ: عَلَيْكَ بِالسُّجُودِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً، إِلَّا رَفَعَ اللَّهُ لَهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Aku pernah menjumpai Tsauban radhiallahu 'anhu -seorang bekas pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam-. Aku berkata kepadanya, "Ceritakan padaku suatu hadits yang mudah-mudahan Allah akan memberikan manfa'atnya padaku dengan hadits tersebut". Tsauban radhiallahu 'anhu menjawab: "Hendaklah engkau (bersungguh-sungguh memperbanyak) sujud, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang hambapun yang bersujud kepada Allah dengan sekali sujud, melainkan Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dan menghapuskan beberapa dosa." [HR. Ibnu Hibban, Nasa’i dalam As-Shughra no.1139, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya). (Al Albani rahimahullah dalam al Irwa’ 457: Shahih. Kata Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad 248: Shahih]

5) Memperbanyak sujud merupakan wasilah syar'iyyah untuk dapat berkumpul bersama Rasulullah SAW di Surga

Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami radhiallahu 'anhu mengisahkan:

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُود

"Saya bermalam bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya, maka beliau bersabda kepadaku: "Mintalah kepadaku!" Maka aku berkata: "Aku meminta kepadamu agar aku menemanimu di Surga". Beliau berkata: "Atau ada selain itu?". Aku menjawab: "Itulah yang dia katakan". Maka, beliau menjawab: "Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud". [HR. Muslim, Abu Dawud , Nasa'i dalam As-Shughra no.1138, HR Ahmad, dan lain-lain). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]