21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Fiqhislam.com - Beberapa ayat di dalam Alquran yang sangat menyentuh hati dan sering kita baca mengisahkan tentang orang-orang yang menyesal kelak di akhirat. Dalam surah al-Munafiqun ayat 10, misalnya, Allah SWT menggambarkan penyesalan kelompok tersebut.

Selama di dunia, mereka disebutkan tidak mau berbagi dan menginfakkan sebagian dari hartanya. Tatkala masuk ke dalam alam barzakh, mereka pun berkata, “Rabbi law laaa akhkhartaniii ilaaa ajalin qariibin fa ashshaddaqa wa akum minashshaalihiin,” ‘Ya Tuhanku, seandainya Engkau berkenan menunda (kematian) aku sedikit waktu lagi, aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’

Penyesalan seperti ini pasti terjadi bagi mereka yang bakhil, tetapi kemudian sudah meninggal dunia. Informasi tentang keadaan mereka datang dari Allah, Zat yang Mahabenar. Beruntunglah kita yang masih hidup mendapatkan “bocoran” informasi tersebut.

Dengan demikian, semoga kita tidak melakukan perbuatan yang sama dengan mereka. Maka dari itu, kita mesti pula menyimak pesan sebelumnya yang berbunyi, “Berinfaklah sebelum datang kematian kepadamu.”

Dalam surah al-Mu’minun ayat 99-100, digambarkan adanya penyesalan yang lain lagi. Seseorang begitu telah meninggal dunia teringat akan masa hidupnya yang penuh kesia-siaan. Ia tersadar pada saat di alam barzakh, amal saleh merupakan bekal satu-satunya menuju akhirat. Dalam firman Allah Ta’ala itu terekam pengharapannya, “Rabbir ji'uuni la'alliii a'malu shaalihan fiimaa taraktu,” “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’

Sayangnya, penyesalan tersebut hanyalah percuma. Sebab, dunia sudah berakhir. Tidak ada lagi tempat beramal. Dan, akhirat bukanlah tempat beramal, melainkan menuai apa-apa yang sudah diamalkan selama di dunia dahulu.

Sungguh, seandainya kelak ada seseorang yang berkata, “Ya Allah, berikanlah aku kesempatan membaca Alquran satu ayat saja atau shalat satu rakaat saja,” niscaya permintaan itu akan dijawab dengan penolakan.

Sebab, tempat beramal hanyalah di dunia. Dikatakan, “Ad-dunya daaru ‘amalin wa laa jazaa’, wal akhiratu daaru jazaain wa laa amal,” ‘dunia tempat beramal tanpa ada balasan, adapun akhirat tempat menuai balasan tanpa amal.’

Inilah makna jawaban Allah atas angan-angan di atas pada ayat berikutnya, “Kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa`iluhaa,” ‘Itu tidak mungkin terjadi, apa yang ia ucapkan hanyalah angan-angan kosong.’

Dalam surah an-Naba’ ayat 40 diungkapkan penyesalan orang-orang kafir di akhirat. Mereka berangan-angan ingin menjadi debu saja agar terbebas dari siksa neraka. Mereka berkata, “Yaa lay tanii kuntu turaaba.”

Pasalnya, mereka menyaksikan bahwa binatang-binatang langsung dimusnahkan menjadi tanah (kuntu turaaba tanpa dihisab sama sekali. Dalam kondisi demikian, seketika muncul angan-angan dalam diri mereka, ingin menjadi seperti binatang itu. Namun, tentu saja tidak bisa.

Mereka sudah telanjur menjadi manusia. Maka, semua penyesalan itu tinggal menjadi angan-angan. Tidak ada jalan keluar. Mereka tetap mendekam di dalam neraka untuk selama-lamanya.

Hari kiamat merupakan yaum al-hasrah, hari penyesalan. Kaum kafir dan fasik saat itu menyesal. “Dan berilah mereka peringatan (Muhammad) tentang hari penyesalan (yaum al-hasrah), (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman” (QS Maryam: 39). [yy/republika]

Oleh Ustaz DR. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute