14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Allah Menciptakan Masalah Agar Manusia Terbebas dari Dosa

Allah Menciptakan Masalah Agar Manusia Terbebas dari Dosa

Fiqhislam.com - Dunia ini tidak lebih dari sebuah ujian di mana setiap yang hidup akan menghadapi beberapa kesulitan dan tantangan. Beberapa orang menderita kemiskinan, beberapa menderita penyakit fisik, beberapa hidup dalam keadaan tidak aman, beberapa kehilangan orang yang mereka sayangi, dan yang lain lagi menderita gangguan kejiwaan.

Ujian ini mengungkapkan tingkat kesabaran dan ketabahan mereka. Abu Sa'id dan Abu Hurairah berkata Nabi SAW bersabda:

"Tidak ada keletihan, penyakit, kecemasan, kesedihan, sakit hati, dan kesusahan yang menimpa seorang Muslim, meskipun itu adalah tusukan duri yang dia terima, tetapi Allah menghapus sebagian dari dosa-dosanya untuk itu," (Al-Bukhari dan Muslim).

Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami akan mencoba Anda dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan, dan kehilangan kekayaan dan kehidupan dan tanaman; tetapi berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yang mengatakan, ketika ditimpa musibah: 'Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nyalah kita kembali': Mereka itulah orang-orang yang kepadanya (menurunkan) berkah dari Allah, dan rahmat, dan merekalah orang-orang yang yang menerima petunjuk." (Al-Baqarah ayat 155-157)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

"Dia yang menciptakan mati dan hidup, agar Dia mencoba siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya: dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk 67:2)

Sisi Positif Masalah

Masalah dan kesulitan berfungsi sebagai sarana menghapus dosa dan mengangkat derajat orang beriman di akhirat. Pendekatan optimistis dan positif ini melindungi seseorang dari jatuh ke dalam keputusasaan dan kesedihan.

Abu Yahya Suhaib bin Sinan berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Betapa indahnya kasus seorang mukmin; ada kebaikan baginya dalam segala hal dan ini hanya berlaku bagi seorang mukmin. Jika kemakmuran menyertainya, dia mengucapkan terima kasih kepada Allah dan itu baik untuknya; dan jika musibah menimpanya, ia bersabar dan itu baik baginya” (HR Muslim).

Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Seorang Muslim, laki-laki atau perempuan, terus berada dalam cobaan dalam kehidupan, harta benda, dan keturunannya sampai dia menghadap Allah Ta'ala, tanpa catatan dosa" (At-Tirmidzi).

Hadits-hadits ini tidak boleh disalahartikan sebagai seruan kepada fatalisme dan kekalahan. Pesan yang ingin disampaikan dalam hadist tersebut adalah setiap Muslim harus menghadapi kesulitan dan bersiap menghadapinya. Oleh karena itu, orang percaya menghadapi kesulitan dengan hati yang berani, mereka mempercayai kebijaksanaan Allah dan percaya pada rahmat-Nya, dan mereka tahu bahwa ujian ini bermanfaat untuknya.

Jadi, hadits-hadits ini dimaksudkan untuk menanamkan harapan dan semangat kepada Muslim dan mengusir pikiran yang merusak tentang kegagalan dan keputusasaan.

Bagaimana jika itu hukuman?

Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui banyak orang, terutama mereka yang berlatih, ketika mereka ditimpa musibah, kehilangan orang yang disayangi atau ditimpa penyakit. Masalahnya, dalam banyak kasus pemikiran ini menjadi sumber frustrasi dan depresi alih-alih menjadi untuk pertobatan dan semakin dekat dengannya, gagasan itu terkadang berfungsi sebagai faktor yang membuat putus asa.

Jadi, mari kita lihat bagaimana para sahabat memandang ayat di atas dan bagaimana mereka mengambilnya secara positif dan optimistis.

Imam Al-Qurtubi melaporkan 'Ali (ra dengan dia) berkata,

"Ayat ini adalah yang paling menginspirasi harapan dalam Quran; jika dosa-dosaku akan diampuni melalui siksaan dan bencana, dan di atas itu, Allah akan mengampuni banyak dosa lainnya, lalu apa yang tersisa setelah pengampunan dan pengampunan itu?

Benar, bencana hidup membuat hati hancur dan orang yang dicintai kehilangan, tetapi orang beriman yang cerdas tahu bagaimana mengubahnya menjadi sumber tekad dan sumber kekuatan.

Orang-orang yang menghadapi cobaan terberat adalah para nabi, kemudian yang di sebelah mereka (dalam iman dan pengabdian), dan kemudian berikutnya. Setiap orang akan dicobai menurut tingkat keimanannya; yang kuat imannya akan mendapat cobaan berat dan yang lemah imannya akan mendapat cobaan lemah. Dan kesengsaraan itu akan meliputi seseorang sampai ia terbebas dari dosa sama sekali. [yy/republika]