14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

5 Hakikat Afiat di Dunia

5 Hakikat Afiat di Dunia

Fiqhislam.com-Dalam pergaulan, kita sering mengawali perjumpaan dengan bertanya, "Apa kabar?". Umumnya, orang yang ditanya akan menjawab, "Alhamdulillah, sehat wal afiat". Terkait dengan kesehatan, saya yakin kita semua sudah memahaminya dengan baik. Namun, terkait dengan 'afiat, barangkali tidak semua orang memahaminya.

Dalam kitabnya Nashoihul 'Ibad, Syeikh Nawawi Al Bantani mengutip penjelasan Rasulullah saw tentang hakekat 'afiat. Ada sepuluh makna 'afiat, lima di dunia dan lima lagi di akhirat. Namun dalam tulisan ini saya hanya mengulas lima makna 'afiat di dunia karena saya menilai kelima hal tersebut dekat dengan pengalaman hidup kita sehari hari.

Pertama, 'afiat itu bermakna bertambahnya ilmu kita. Hal ini akan kita raih kita manakala kita belajar. Belajar membuat kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Cakrawala kita meluas sehingga kita bisa memilih tindakan yang tepat tatkala berhadapan dengan sebuah masalah. Sayangnya, tak banyak orang yang menyadari hal tersebut. Mereka lebih suka berinvestasi untuk perut ke bawah ketimbang berinvestasi untuk dada ke atas. Walhasil, mereka tak pernah risau manakala hari berlalu tanpa bertambahnya ilmu.

Kedua, 'afiat itu bermakna bertambah amal kita. Tak ada gunanya ilmu yang banyak jika tak pernah diamalkan. Ilmu itu memperluas cakrawala kita, namun belum tentu menambah kualitas hidup kita. Karena itulah, Rumi, sang penyair sufi, membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu ilmu buatan dan ilmu hakiki. Ilmu pertama hanya berhenti sebatas pemahaman, sedangkan ilmu kedua menuntun pelakunya dalam kebijaksanaan. Adalah lebih baik memiliki ilmu yang sedikit tapi kita mengamalkannya, daripada memiliki ilmu yang banyak tapi hanya sedikit yang kita amalkan.

Ketiga, 'afiat juga berarti memperoleh rezeki yang halal. Apalah artinya harta yang berlimpah jika kita memperolehnya dengan cara yang haram. Terkait hal ini, saya teringat satu kisah menarik dari Imam Al Ghazali dalam master piece-nya, Ihya' Ulumuddin.

Suatu hari, Sarri Al Sakati membeli sekarung buah kenari seharga 60 dirham. Dia hendak menjualnya kembali seharga 65 dirham. Tiba-tiba, situasi ekonomi bergejolak. Harga sekarung buah kenari naik menjadi 90 dirham. Saat itu, seorang pembeli yang saleh hendak membeli buah kenari yang dijual Al Sakati. Dia bermaksud membelinya susuai harga pasaran saat itu, 90 dirham. Namun, Al Sakati bersikukuh untuk tetap menjualnya seharga 65 dirham. Akhirnya, transaksi itu batal diwujudkan karena masing-masing pihak tidak ingin menzalimi satu dengan yang lainnya.

Tengoklah, betapa hati-hatinya generasi terdahulu dalam memperoleh rezeki. Mereka tidak memanfaatkan situasi untuk kepentingannya sendiri. Mereka mengedepankan akhlak dalam bermuamalah karena menyadari bahwa rezeki yang halal akan mendatangkan keberkahan dalam hidupnya.

Keempat, afiat itu bermakna bertambahnya syukur kita. Secara sederhana, menurul Al Ghazali, syukur artinya mengagungkan Allah atas nikmat yang dilimpahkan-Nya. Syukur sejati lahir dari kesadaran bahwa segala karunia yang kita nikmati berasal dari Allah, walaupun nampaknya kita peroleh melalui usaha yang kita lakukan.

Kesadaran ini selanjutnya menimbulkan cinta yang dalam kepada Sang Khalik. Karunia yang dilimpahkan-Nya tak sebanding dengan ibadah yang kita lakukan. Tengoklah, betapa shalat sering kita tunaikan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Betapa sedekah kita sangat sedikit. Dan betapa puasa yang kita lakukan jauh dari kesempurnaan. Walau demikian, Allah dengan segala cinta kasih-Nya membalas amal kita yang cacat itu dengan nikmat-Nya yang tak terhitung. Alhasil, lisan kita akan senantiasa memuji Allah. Kita juga tak merasa berat menjalankan shalat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah lainnya karena memandang berbagai ibadah tersebut sebagai manifestasi cinta kita kepada Allah.

Kelima, afiat itu bermakna bertambahnya kesabaran kita. Sabar itu mudah dipelajari karena banyak kitab dan buku yang telah membahasnya. Tak terkecuali buku ini. Namun, sabar itu tak mudah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia itu secara naluriah mudah berkeluh kesah. Bahkan, ketika dia sudah memperoleh karunia yang berlimpah, tetap saja ada hal-hal kecil yang dikeluhkannya. Bila Allah menurunkan hujan, dia menggurutu karena pakaiannya basah atau jemurannya tak kering. Bila Allah berikan terik cahaya matahari, dia kesal karena udara terasa panas dan keringatnya bercucuran. Pendek kata, manusia itu memang makhluk yang tak pandai berterimakasih.

Bila perilaku kita masih ditandai kecenderungan semacam ini, artinya kesabaran belum terpatri kuat dalam diri kita. Kita tak layak mengatakan, Saya sehat wal afiat. [yy/republika]

Oleh Kiki F. Wijaya

 


 

Tags: Afiat | Ilmu | Amal | Rezeki | Syukur | Sabar