15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Merasa Diri Sendiri Sial Adalah Syirik

Merasa Diri Sendiri Sial Adalah Syirik

Fiqhislam.com - Merasa diri sendiri sial atau nasib sial yang mendatangkan keburukan bagi lingkungannya, sangat dilarang dalam Islam. Karena segala yang terjadi pada diri manusia adalah takdir Allah Ta'ala. Namun, takdir (buruk) bisa ditutup dengan doa.

Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.”(HR Ahmad)

Sebab, doa yang dipanjatkan pada Allah Ta'ala tentu langsung didengar Allah. Karena Allah Ta'ala sebagai dzat yang maha mengabulkan doa pasti akan mengabulkan permintaan hamba-Nya, baik secara langsung ataupun tidak. Intinya, dalam pandangan Islam tidak ada namanya sial. Nasib tidak baik yang dialami manusia atau lingkungannya merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Ta'ala.

Bahkan merasa bernasib buruk atau sial bisa masuk kategori syirik. Di dalam Islam dinamakan at thatayyur. Contohnya antara lain, adanya keyakinan bahwa dirinya kerap mendatangkan kesialan bagi lingkungannya, sialnya angka 13, dan kepercayaan-kepercayaan yang lain yang diyakini oleh banyak manusia. Semua hal itu hukumnya haram dan termasuk syirik.

Islam memandang at tathayyur ini sebagai perbuatan syirik asgor (syirik kecil). Syirik merupakan dosa yang paling besar. Pelakunya tidak diampuni oleh Allah apabila dia mati dalam keadaan tersebut dan belum sempat bertaubat kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa :48).

At thatayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu. Diambil dari kalimat: زَجَرَ الطَّيْرَ (menerbangkan burung). Dalam buku karangan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung binatang lainnya atau apa saja.

Allah berfirman dalam Quran Surah Al-a'raf 131 :

فَاِذَا جَآءَتۡهُمُ الۡحَسَنَةُ قَالُوۡا لَـنَا هٰذِهٖ‌ ۚ وَاِنۡ تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوۡا بِمُوۡسٰى وَمَنۡ مَّعَهٗ‌ ؕ اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓٮِٕرُهُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُوۡنَ

"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata ini ini adalah karena usaha kami. Dan jika mereka ditimpa kesusahan mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya." (QS Al A'raf 131)

Dalam sebuah hadis Rasul Sahallalahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umatnya dengan sabda beliau : “Seandainya umat berkumpul untuk memberikan kemanfaatan bagimu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat memberikan kemanfaatan bagimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan sebaliknya, jika mereka semuanya berkumpul untuk memudaratkanmu dengan sesuatu niscaya mereka tidak dapat menimpakan kemudaratan tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu jika ada yang merasa dirinya mendatangkan keburukan, padahal Allah Ta'ala yang mengatur semuanya, maka dia harus beristighfar. Taubat kepada Allah. Sebab, Allah Ta'ala menetapkan sesuatu untuk kita. Niscaya hanya kebaikan dan hikmah terbaik yang akan kita dapatkan.

Rasulullah mengajarkan: “Dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah ‘Qadarullah wa maa syaa’a fa’al, 'Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” (HR. Muslim).

Dan apabila kita melihat atau merasa sesuatu yang tidak disenangi maka hendaklah mengucapkan :

Allaahumma laa ya’tii bii hasanaati illaa anta walaa yadfa’us sayyiaati illaa anta walaa haula walaa quwwata illaa bika”.

(Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tidak ada yang dapat menghindarkan bahaya kecuali Engkau, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali atas pertolongan-Mu).” (HR. Abu Daud). Wallahu 'alam. [yy/Widaningsih/sindonews]