5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Mengapa Orang Beriman Menyukai Hidup Sederhana?

Mengapa Orang Beriman Menyukai Hidup Sederhana?

Fiqhislam.com - Orang beriman akan memilih hidup sederhana, karena akan sangat disayangi Allah Ta'ala. Sedangkan orang yang hidup glamor, foya-foya, atau boros sangat dibenci Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ

"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS asy-syura: 27).

'Ali bin Tsabit rahimahullah berkata: "Kelemahan akal itu bangga diri dan emosi. Dan penyakit harta itu pemborosan dan perampokan." Itulah mengapa orang beriman menyukai hidup sederhana.

Al Quran telah menegaskan bahwa tipologi manusia adalah menghamburkan uang dan berfoya-foya jika berada dalam kondisi berada. Manusia juga menghindari gaya kesederhanaan dan keseimbangan. Dan sederhana adalah sifat orang beriman. Sebab sederhana berarti patuh terhadap petunjuk Allah Ta'ala dan mengikuti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam.

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS al-'Araf : 31).

Allah Ta'ala juga berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَ جَنَّٰتٍ مَّعْرُوشَٰتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَٰتٍ وَٱلنَّخْلَ وَٱلزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُۥ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُتَشَٰبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ ۚ كُلُوا۟ مِن ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَءَاتُوا۟ حَقَّهُۥ يَوْمَ حَصَادِهِۦ ۖ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

"Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS al-An'am: 141).

Begitulah, sudah menjadi tabiat manusia, ia akan lebih konsumtif menghamburkan uang, manakala mulai mengeyam kehidupan yang mapan dan kemudahan ekonomi. Seolah-olah kekayaan kurang berarti banyak bila pemilik tidak menggunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan kemewahan. Misalnya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kurang penting baginya.

Dalam kitab As-Shahihah (kumpulan hadis shahih), Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan”.

Larangan kepada manusia agar tidak melakukan pemborosan dan penghamburan atas uang dan harta yang disimpan, pasti mengandung manfaat. Dan manusia pun sadar mengetahui hikmah di balik larangan tersebut. Antara lain hikmahnya adalah dia menjadi manusia yang hidup sederhana. Orang sederhana adalah mereka yang tidak menghambur-hamburkan uang dengan belanja di luar kebutuhannya.

Orang sederhana juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga kebutuhan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Namun, orang yang sederhana adalah mereka yang membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.

Jadi, orang selalu hidup sederhana sangat disukai Allah Ta'ala. Karena sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan alasan berkaitan dengan larangan menghambur-hamburkan. Beliau rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang meminta-minta apa yang dimiliki orang lain. Sedangkan pada pemeliharaan harta yang terkandung kemaslahatan bagi dunianya. Adapun kestabilan maslahat duniawinya akan berpengaruh pada kemaslahatan agamanya. Sebab dengannya, seseorang dapat fokus dalam urusan-urusan akhiratnya". Wallahu 'alam. [yy/Widaningsih/sindonews]