13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

5 Bekal Perjalanan Menuju Akhirat

5 Bekal Perjalanan Menuju Akhirat

Fiqhislam.com - Ketika sakit menjelang wafat, Abu Hurairah sempat menangis. Ketika ditanya, beliau berkata, Aku menangis bukan karena memikirkan dunia, melainkan karena membayangkan jauhnya perjalanan menuju negeri akhirat. Aku harus menghadap Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku tak tahu, perjalananku ke surga tempat kenikmatan atau ke neraka tempat penderitaan.? Lalu Abu Hurairah berdoa: Ya Allah, aku merindukan pertemuan dengan-Mu, kiranya Engkau pun berkenan menerimaku. Segerakanlah pertemuan ini, Tak lama kemudian, Abu Hurairah berpulang ke rahmatullah.

Setiap Muslim mesti mengingat kematian, dan memperbanyak bekal dalam perjalanan panjang menuju negeri akhirat. Setiap perjalanan, sejatinya, memerlukan bekal, baik fisik maupun non fisik (spiritual).

Apakah bekal terbaik tersebut? Simak LIMA bekal terbaik berikut:

1. Muahadah (selalu mengingat perjanjian dengan Allah SWT)

Perjanjian yang telah kita lakukan ketika dalam kandungan sebelum lahir ke dunia pasti telah dilupakan sehingga wajar jika setiap manusia memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Dari kesaksian tersebut, pada hakikatnya kita pernah berikrar untuk menuhankan Allah (tiada Tuhan selain Allah), berjanji untuk tidak menyekutukan-Nya, tidak meminta kepada selain-Nya dan berbagai konsekuensi lainnya. Sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surat Al Araf : 172, Allah berfirman : Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab. Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikianitu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Ini adalah sebuah perjanjian yang kita di dunia ini diuji oleh Allah, apakah kita termasuk orang-orang yang memegang teguh perjanjian tersebut. Kemudian juga perjanjian-perjanjian kita dalam shalat-shalat kita semisal dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi, Iyyaaka nabudu wa iyyaaka nastaiin. Artinya, hanya kepada Engkau kami menyembah, dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.

Jika kita telah memegang teguh perjanjian kita kepada Allah SWT, maka kita sudah memiliki landasan utama berupa keimanan dan ketakwaan, yang ini merupakan bekal yang paling utama dalam mengarungi perjalanan menuju Allah SWT.

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS. Al-Baqarah: 197).

Salah satu Ciri yang orang bertakwa adalah yu'minu bi al-ghayb (QS. Al-Baqarah/2: 3). Keimanan kepada yang ghaib termasuk kepada hari akhir memberikan kemampuan kepada manusia untuk menembus batas-batas alam fisik, menuju alam rohani yang tak terbatas, yaitu Allah SWT.

2. Mujahadah (Semangat dan kesungguhan dalam mengarungi kehidupan)

Bermujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam melaksankan ketaatan dalam menjalankan perintah Allah. Said Musfar Al Qahthani mengatakan; Mujahadah berarti mencurahkan segenap usaha dan kemampuan dalam mempergunakan potensi diri untuk taat kepada Allah dan apa-apa yang bermanfaat bagi diri saat sekarang dan nanti, dan mencegah apa-apa yang membahayakannya.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al Ankabut (29): 69).

Perjuangan itu bersifat multidimensional dan multi-quotient, meliputi perjuangan fisikal (jihad), intelektual (ijtihad), dan spiritual (mujahadah). Allah SWT akan membukakan pintu-pintu kemenangan bagi orang yang berjuang dan memiliki determinasi (ketetapan hati) dalam perjuangan. Orang yang merubah rasa malas menjadi semangat, meninggalkan maksiat menuju ketaatan, bodoh menjadi berilmu, dari ragu kepada yakin, adalah ciri orang yang bermujahadah. Mujahid yang selalu berupaya bersungguh-sungguh di jalan Allah.

3. Muraqobah (Selalu Merasa diawasi Allah)

Orang yang banyak berdzikir adalah orang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Dzikir terambil dari kata dzakaro yang berarti menghadirkan sesuatu ke dalam benak. Dzikrullah adalah menghadirkan Allah ke dalam benak. Karena itu orang yang selalu berdzikir akan menyadari betul bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Seperti di dalam ayat

Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (QS. Al Ala, 87 : 7).

Dalam ayat lain: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dengan urat lehernya, yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf, 50 : 16-18)

4. Muhasabah (Intropeksidiri)

Terkait dengan muhasabah, Umar bin Khattab berkata, Hisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari (HR. Iman Ahmad dan Tirmidzi secara mauquf dari Umar bin Khattab) Hal senada juga pernah diungkapan oleh Hasan Al Basyri pernah berkata, Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. Karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia.

5. Muaqobah (Memberi sanksi ketika lalai beribadah)

Sikap jika bersalah memberi sanksi diri sendiri dengan mengganti dan melakukan amalan yang lebih baik meski berat, contoh dengan infak dan sebagainya. Atau dengan bersegera bertaubat dan berusaha kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Memberikan sanksi (iqob) ketika kita lalai memang sulit.

Dibutuhkan kesadaran diri yang baik dan keimanan yang kuat. Hanya orang-orang yang saleh yang dapat melakukannya. Seperti salah satu kisah Nabi Sulaiman as dalam Alquran, (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku, Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.(QS. Shaad, 38 : 31-33)

Sebuah perilaku yang dapat kita jadikan contoh, juga generasi sahabat atau para salaf yang meng iqob dirinya secara langsung ketika mereka melakukan kekhilafan, misalnya: dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Umar bin Khattab pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat Ashar. Maka beliau berkata: Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar, kini kebunku aku jadikan shodaqoh untuk orang-orang miskin."

Inilah 5 hal yang dapat kita jadikan sebagai bekal perjalanan kita menuju akhirat. Kita berharap kepada Allah SWT semoga kita tidak termasuk orang yang tersesat dalam perjalanan tersebut, dan pada akhirnya perjalanan kita akan selamat dan sampai di tujuan akhir yaitu dapat berjumpa dengan Allah SWT di dalam surga-Nya . Aamiin Ya Robbal 'alamiin. [yy/republika]

Oleh Ropiyadi ALBA