12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Perbedaan Orang Berilmu dan Ahli Ibadah yang Bodoh

Perbedaan Orang Berilmu dan Ahli Ibadah yang Bodoh

Fiqhislam.com - Orang yang berilmu dengan orang yang ahli ibadah namun bodoh tentu sangat jauh berbeda derajatnya. Orang yang berilmu dapat sempurna dalam mengerjakan sebuah amal ibadah karena mengetahui ilmunya. Sedangkan ahli ibadah yang bodoh bisa jadi sia-sia amalnya sebab tidak mengetahui ilmunya. Tentang perbedaan derajat antara orang berilmu dan ahli ibadah ini telah dijelaskan Rasulullah Saw.

Sebagaimana dalam kitab at Targib wat Tarhib menuliskan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Imam Tirmidzi:

وَعَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ ذُكِرَلِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَا نِ أَحَدُهُمَاعَابِدٌ وَالْاَخَرُعَالِمٌ فَقَالَ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ : فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِكَفَضْلِى عَلَى اَدْنَاكُمْ , ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اللَّهَ وَمَلَا ئِكَتَهُ وَاَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةِ فِى جُحْرِهَاوَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِى النَّاسِ الْخَيْرَ.

Dan diriwayatkan dari Abi Umamah, ia berkata: Dijelaskan kepada Rasulullah Saw tentang dua lelaki, satu orang lelaki itu ahli ibadah dan satu lelaki lainnya adalah orang alim. Maka berkata Nabi Muhammad Saw: Keutamaan orang alim atas orang ahli ibadah itu seperti keutamaannya aku atas orang yang paling rendah (paling bodoh) di antara kalian. Kemudian Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya dan seluruh penghuni langit dan bumi sampai semut di dalam lubangnya, sampai semua ikan, itu semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kepada manusia lainnya tentang kebaikan.

Setiap sahabat Rasulullah adalah orang-orang terbaik. Tetapi diantara sahabat Rasulullah itu hanya orang-orang yang berilmu yang mampu meneruskan perjuangan Rasulullah. Maka sahabat-sahabat Rasul yang berilmu begitu sangat dekat dengan Rasulullah. Para sahabat yang berilmu mereka dapat meriwayatkan hadits-hadits, menuliskan sejarah, berijtihad setelah wafatnya nabi dan lainnya. Hingga nama mereka pun abadi hingga kini.

Sementara sahabat yang bodoh tentu derajatnya sangat jauh dengan sahabat yang berilmu. Begitupun kedekatannya dengan Rasulullah tidak seperti sahabat-sahabat yang berilmu.

Orang yang berilmu dalam keadaan tidak beribadah pun sudah mendapatkan banyak kebaikan sebab setiap makhluk mendoakannya. Sementara orang ahli ibadah harus berupaya berdoa atas dirinya. [yy/republika]

 

Perbedaan Orang Berilmu dan Ahli Ibadah yang Bodoh

Fiqhislam.com - Orang yang berilmu dengan orang yang ahli ibadah namun bodoh tentu sangat jauh berbeda derajatnya. Orang yang berilmu dapat sempurna dalam mengerjakan sebuah amal ibadah karena mengetahui ilmunya. Sedangkan ahli ibadah yang bodoh bisa jadi sia-sia amalnya sebab tidak mengetahui ilmunya. Tentang perbedaan derajat antara orang berilmu dan ahli ibadah ini telah dijelaskan Rasulullah Saw.

Sebagaimana dalam kitab at Targib wat Tarhib menuliskan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Imam Tirmidzi:

وَعَنْ أَبِى أُمَامَةَ قَالَ ذُكِرَلِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَا نِ أَحَدُهُمَاعَابِدٌ وَالْاَخَرُعَالِمٌ فَقَالَ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ : فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِكَفَضْلِى عَلَى اَدْنَاكُمْ , ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ اللَّهَ وَمَلَا ئِكَتَهُ وَاَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةِ فِى جُحْرِهَاوَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِى النَّاسِ الْخَيْرَ.

Dan diriwayatkan dari Abi Umamah, ia berkata: Dijelaskan kepada Rasulullah Saw tentang dua lelaki, satu orang lelaki itu ahli ibadah dan satu lelaki lainnya adalah orang alim. Maka berkata Nabi Muhammad Saw: Keutamaan orang alim atas orang ahli ibadah itu seperti keutamaannya aku atas orang yang paling rendah (paling bodoh) di antara kalian. Kemudian Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya dan seluruh penghuni langit dan bumi sampai semut di dalam lubangnya, sampai semua ikan, itu semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kepada manusia lainnya tentang kebaikan.

Setiap sahabat Rasulullah adalah orang-orang terbaik. Tetapi diantara sahabat Rasulullah itu hanya orang-orang yang berilmu yang mampu meneruskan perjuangan Rasulullah. Maka sahabat-sahabat Rasul yang berilmu begitu sangat dekat dengan Rasulullah. Para sahabat yang berilmu mereka dapat meriwayatkan hadits-hadits, menuliskan sejarah, berijtihad setelah wafatnya nabi dan lainnya. Hingga nama mereka pun abadi hingga kini.

Sementara sahabat yang bodoh tentu derajatnya sangat jauh dengan sahabat yang berilmu. Begitupun kedekatannya dengan Rasulullah tidak seperti sahabat-sahabat yang berilmu.

Orang yang berilmu dalam keadaan tidak beribadah pun sudah mendapatkan banyak kebaikan sebab setiap makhluk mendoakannya. Sementara orang ahli ibadah harus berupaya berdoa atas dirinya. [yy/republika]

 

Keutamaan Memiliki Ilmu

Keutamaan Memiliki Ilmu


Fiqhislam.com - Menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti berdzikir, melaksanakan shalat malam, beriktikaf, dan lainnya merupakan amaliyah yang sangat baik dan dianjurkan dilaksanakan bagi setiap Muslim. Akan tetapi memiliki ilmu jauh lebih utama dibanding dengan ibadah-ibadah sunnah tersebut.

Sebagaimana dalam kitab at Targib wat Tarhib menuliskan sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Thabrani.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَخَيْرُدِيْنِكُمُ الْوَرَعُ.

Nabi Muhammad Saw bersabda: Keutamaan ilmu itu lebih bagus dari keutamaan ibadah (yang sunnah). Dan sebagus-bagusnya agamamu itu mempunyai sifat wara'.

Lalu mengapa memiliki ilmu itu lebih baik dari ibadah sunnah. Sebab sejatinya setiap amal perbuatan harus didasari dengan ilmunya. Misalnya seseorang yang hendak berupuasa maka dia harus mengetahui tentang syarat sahnya berpuasa, hal-hal yang membatalkan puasa, waktu memulai puasa, dan lain sebagianya. Hal itu dapat diketahui apabila seseorang terlebih dulu mempelajarinya. Maka ilmu akan menjadikan sebuah amal ibadah menjadi sempurna dan terhindar dari kesia-siaan.

Dalam hadits tersebut juga dijelaskan tentang pentingnya sifat wara' dalam beragama. Wara' yakni sikap berhati-hati sehingga tidak terjerumus dalam menjalankan perbuatan yang dilarang Allah, mengkonsumi barang haram dan lainnya. [yy/republika]