21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Menentukan Visi Hidup

Menentukan Visi Hidup

Fiqhislam.com - Martabat spiritual setiap orang ditentukan oleh kemampuannya untuk memanej kalbunya. Jika seseorang mampu memanaj kalbunya dengan baik maka sudah barang tentu akan mendapatkan martabat lebih tinggi di mata Tuhan.

Namun jika seseorang gagal memanej kalbunya maka akan jatuh ke lembah yang paling hina, bahkan disebutkan di dalam Al-Quran seseorang bisa jatuh ke lembah yang lebih hina dari pada binatang: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. al-A'raf/7:179).

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam upaya memenej kalbu ialah ketegasan di dalam menentukan visi hidup. Allah Swt menegaskan sebuah pertanyaan substansial kepada manusia di dalam sebuah ayat berdiri sendiri: "Maka kalian mau ke mana?" (Q.S. al-Takwir/81:26).

Pertanyaan Tuhan ini, bukan menanyakan sebuah perjalanan pendek tetapi road map kehidupan kita. Arah perjalanan hidup ini au ke mana? Tentu bukan hanya kehidupan duniawi kita yang berjangka pendek tetapi perjalanan panjang kehidupan ini sampai di hari akhirat tanpa batas.

Hidup ini tidak lain adalah sebuah perjalanan panjang sebagaimana di dalam firman-Nya: Tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? (Q.S. Yusuf/12:109).

Dalam ayat lain Allah swt menyerukan setiap orang untuk menjalani kehidupannya dengan memahami petunjuk (directions) yang Allah sendiri berikan sebagai sarana di dalam menempuh perjalanan itu, sebagai aman disebutkan: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. Ali 'Imran/3:137).

Pengetahuan amat diperlukan di dalam menjalani visi kehidupan ini. Pengetahuan dan directions itu sudah diletakkan Allah di sekitar diri kita: Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Q.S. al-Dzariyat/51:21). Dalam ayat lain disebutkan: Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian? Apakah kalian tidak mendengar? (Q.S. al-Qashash/28:71). Dan directions paling nyata sesungguhnya ialah Al-Quran: Apakah mereka tidak mengkaji Al Quran? (Q.S. al-Nisa'/4:82). Kita tinggal diminta untuk berfikir memikirkan directions itu: Apakah kalian tidak berfikir? (Q.S. Yasin/32:62). Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?. Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)? (Q.S.al-An'am/6:50).

Ayat-ayat di atas cukup menjadi dasar dan sekaligus menjadi keyakinan bagi kita bahwa hidup ini bukanlah sesuatu tanpa tujuan. Kita diminta untuk menempuh perjalanan hidup ini dengan baik dan benar jika kita ingin berhasil.

Hidup ini tidak bisa ditempuh secara sembrono tanpa tujuan dan mekanisme untuk mencapai tujuan itu. Allah menciptakan sesuatu di dalam diri kita sesuatu yang amat penting.

Jika sesuatu itu berhasil maka berhasillah totalitas kehidupan ini, dan jika itu gagal maka gagallah total kehidupan ini. Sesuatu itu menurut Rasulullah saw ialah kalbu kita. Mari kita memanej kalbu sebaik-baiknya. [yy/news.detik]

Prof. Nasaruddin Umar,  Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta