22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Kriteria Teman yang Patut Menurut Syekh Ibnu Athaillah

Kriteria Teman yang Patut Menurut Syekh Ibnu Athaillah

Fiqhislam.com - Seorang ulama besar kelahiran Mesir, Ibu Athaillah As Sakandari telah mengingatkan kepada umat Islam, khususnya kepada para murid untuk bersahabat dengan orang yang bisa membuat bersemangat dan ucapannya selalu membawa ke jalan Allah.

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah mengungkapkan pernyataannya sebagai berikut:

لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك على الله مقاله

Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.”

Dalam syarahnya di buku al-Hikam terbitan Turos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi menjelaskan maksud hikmah yang disampaikan Ibnu Athaillah tersebut.

Menurut dia, seorang murid dilarang oleh Ibnu Athaillah untuk berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya.

Sebaliknya, menurut Syekh Abdullah, seorang murid disarankan berteman atau bersahabat dengan orang yang bisa membuat bersemangat dan ucapannya membimbing ke jalan Allah.

Misalnya, orang yang tekadnya tinggi yang senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakkal kepada selain-Nya.

Sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya maupun manfaat” kata Syekh Abdullah.

Bahkan, lanjutnya, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, dia tetap berjalan pada jalur syariat, tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang arif yang mengenal Allah.

Menemani orang-orang seperti itu, menurut Syekh Abdullah, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunnahnya tidak banyak, sangat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia. Sebab, manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.

Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka” jelas Syekh Abdullah. [yy/republika]