15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Penuntut Ilmu Ada 3 Golongan

Penuntut Ilmu Ada 3 Golongan

Fiqhislam.com - Menuntut ilmu adalah kewajiban kaum Muslimin baik itu laki-laki maupun perempuan sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat. Patut diingat bahwa Islam tidak melarang umatnya memperlajari berbagai disipilin ilmu untuk kemaslatan, namun harus diingat paling utama harus dipelajari adalah ilmu tauhid untuk mengenal Allah.

Hal paling penting ketika menuntut ilmu adalah harus diniatkan untuk mencari ridha Allah agar ilmunya berkah dan bernilai ibadah. Jika diniatkan bukan karena Allah, maka ia hanya berada dalam kesia-siaan saja, artinya tidak akan mendapatkan syafaat pada hari akhirat atas ilmu yang diperolehnya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: Barang siapa yang menuntut ilmu yang semestinya untuk mencari ridha Allah, tetapi ia menuntutnya untuk mencari keuntungan duniawi, maka dia kelak tidak akan dapat mencium bau nikmat surga.

Menuntut ilmu banyak sekali keutamaannya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam At-Turmuzi dari Abu Darda, Rasulullah bersabda: “Barang siapa melewati satu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan orang tersebut ke surga dan malaikat dengan senang membeberkan sayapnya, rela diinjaknya. Sesungguhnya orang yang berilmu(agama) selalu dimintakan ampun oleh penduduk langit dan penduduk bumi, sampai-sampai ikan dilaut. Kelebihan orang berilmu diantara makhluk bagaikan bulan di antara bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama itu sebagai pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan uang, dinar, atau dirham. Tetapi mereka mewariskan ilmu-ilmu agama. Maka, barang siapa yang telah mendapatkan ilmu agama berarti mendapatkan bagian yang besar.”

Imam Al-Ghazali dalam kitab karyanya "Bidayah Al-Hidayah" menjelaskan ada tiga kelompok orang yang mencari ilmu.

Mengutip artikel yang ditulis Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Almara Sukma Prasintia di laman Tebuireng Online berikut tiga kelompok pencari ilmu sebagaimana disebutkan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya:

Pertama, orang mencari ilmu dengan niat untuk bekal akhirat, hanya untuk memperoleh ridha Allah SWT dan untuk mencari kebahagiaan di akhirat. Orang yang mencari ilmu dengan niat demikian termasuk orang-orang yang beruntung.

Kedua, orang mencari ilmu dengan niat untuk kepentingan duniawi, untuk memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta, padahal dia telah menyadari di dalam hati kecilnyaakan kejelekan niatnya, dan kehinaan maksudnya, maka orang yang demikian itu termasuk golongan orang-orang yang sedang dalam keadaan bahaya.

Ketiga, orang yang telah dikuasai setan, yaitu orang yang mencari ilmu semata-mata untuk kepentingan hawa nafsunya. Dia menjadikan ilmu yang ia peroleh sebagai alat mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, mengejar kebanggan diri dengan pangkat, kedudukan, dan pengaruh.

Dia menggunakan ilmunya untuk memenuhi kebutuhan materinya. Meskipun demikian, dia karena terperdaya setan masih merasa baik, dan mengaku masih mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah SWT. Karena menyerupai para ulama’. Berpakaian seperti pakaian ulama’ sungguhan, dan berkata seperti ulama’, padahal mereka sangat rakus akan dunia.

Orang yang demikian itu termasuk golongan orang yang binasa, bodoh, dan tertipu oleh setan, dan kecil sekali kemungkinannya mau bertaubat, sebab ia telah merasa menjadi orang baik. [yy/okezone]