14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Nasihat Abu Hurairah Tentang Mengoreksi Aib Diri Sendiri

Nasihat Abu Hurairah Tentang Mengoreksi Aib Diri Sendiri

Fiqhislam.com - Dari Abu Hurairah ra berkata: Seorang diantara kalian melihat kotoran kecil di mata saudaranya namun lupa akan pohon besar di matanya sendiri. (Al Adabul Mufrad, Al Bukhari: 592).

Makna atsar ini persis dengan peribahasa Indonesia “Gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak”.

Arti Peribahasa tersebut kurang lebih “Kesalahan atau aib sendiri yang besar tidak tampak. Tapi kesalahan atau aib orang lain meskipun sedikit namun tampak jelas”.

Orang apabila sibuk dengan aib orang lain dan lupa akan aib sendiri menunjukkan tanda kehinaan seorang hamba, hendaknya dia segera berlari menjauhinya dan memperbaikinya.

Ibnu Abbas pernah berkata: “Jika engkau ingin menyebut aib saudaramu maka ingatlah aibmu sendiri”. (Az Zuhd Imam Ahmad no. 2046, Adabul Mufrad karya Al Bukhari no. 327).

Ini bukan berarti menutup pintu nasehat dan amar maruf nahi munkar. Namun maksudnya jangan sampai seorang sibuk mengkritik aib orang lain namun lupa akan aibnya sendiri, hendaknya dia adil dan inshaf.

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi dalam bukunya berjudul Cambuk Hati Sahabat Nabi mengatakan andai saja kita mempraktikkan kaidah ini dalam majlis dan medsos kita niscaya kita akan mengerem diri dari mencela orang lain, menghibah orang lain, sehingga terjaga kebaikan kita.

Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Barangsiapa yang sibuk dengan mengungkap kejelekan orang lain lupa dengan aib dirinya sendiri maka hatinya akan buta, badanya akan lelah dan sulit memperbaiki aib dirinya sendiri”.

Sedangkan Aun bin Abdillah mengatakan: “Saya tidak memandang seorang yang gemar menguak aib orang lain kecuali karena kelalaian terhadap dirinya sendiri”.

Bakr bin Abdillah al-Muzani juga mengatakan: “Jika kalian melihat seorang yang gemar membongkar aib manusia dan lupa terhadap aibnya sendiri, maka ketahuilah bahwa dia telah tertipu daya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Mudaroh Naas 143 dan Dzammul Ghibah wa Namimah 59, sebagaimana dalam Manhaj Salaf Shalih hlm. 155 oleh Syaikh Ali al-Halabi). [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]