14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Berbagai Sebutan Anak Didalam Al-Quran

Berbagai Sebutan Anak Didalam Al-Quran

Fiqhislam.com - Anak dan keturunan merupakan karunia dan rahmat dari Allah Swt. Sekaligus juga amanah Allah yang dititipkan kepada kedua orangtuanya dengan potensi yang bisa membawa kebahagiaan dan keuntungan yang besar jika amanah tersebut diemban dengan baik. Karenanya orangtua berkewajiban mendidik, mengarahkan dan mengasuh agar anak kelak menjadi orang yang sholeh dan sholehah yang berakhlaq mulia.

Jika menengok Al-Quran, Allah Swt. menyebut anak dengan beragam sebutan. Ada empat tipikal anak yang disebutkan dalam Al-Quran.

Pertama, disebutkan sebagai Zinah (perhiasan) seperti yang terdapat dalam QS. Al-Kahfi: 46, Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Kedua, pada giliran yang lain Allah menyebutnya sebagai fitnah (ujian, cobaan) sebagaimana diungkapkan dalam QS. Al-Anfaal : 28, Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Ketiga, bukan hanya sekadar fitnah, pada ayat yang lain Allah menyebutnya sebagai aduw (musuh) seperti termaktub dalam QS. At-Taghabun: 14, Wahai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Keempat, Allah menyebutnya sebagai Qurrata ayun sebagaimana hal itu menjadi harapan para Ibadurrahman yang diabadikan oleh Allah dalam QS. Al-Furqan : 74. Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Penyebutan Al-Quran yang beragam itu mengindikasikan kondisi anak yang memang memiliki potensi beragam pula. Potensi untuk tumbuh menjadi perhiasan indah yang mewarnai kehidupan orangtuanya, menjadi penyejuk hati, pendingin kalbu. Dan potensi yang sebaliknya, si anak tumbuh menjadi bala buat orangtuanya, saban hari orangtuanya dibuat pusing tujuh keliling dengan ulah dan prilaku yang dibuat anaknya. Bahkan lebih parah dari itu, si anak menjelma menjadi musuh dan bencana, tidak hanya di dunia saja, namun juga di akhirat kelak. Wal iyadzu billah.

Rasulullah Saw. bersabda, Setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nashrani. (Bukhori-Muslim)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa bawaan anak dan peran orangtua akan sangat menentukan masa depan anak. Bawaan anak yang fitrah bisa melenceng keluar dari jalurnya karena faktor orangtuanya atau lingkungannya. Orangtua dalam hadits ini bisa bermakna orangtua haqiqi secara nasab, bisa juga bermakna orangtua majazi (kiasan) yaitu lingkungan. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan, Al-Insanu ibnu biatihi; manusia itu anak lingkungannya.

Kata kunci dari itu semua tidak lain adalah pendidikan (tarbiyyah). Akan seperti apakah anak-anak yang dianugerahkan Allah kelak, sangat bergantung pada bagaimana orangtua memberikan pendidikan kepada mereka. Karenanya, jangan ada kata lelah dalam mendidik anak. Sebuah hikmah mengatakan, Bergegaslah mendidik anak-anak sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa namun tidak berakal (tidak dididik), ia akan lebih memusingkan dan menyibukkan pikiranmu.

Dalam kaca mata ukhrawi kehadiran anak adalah ladang pahala sekaligus investasi berharga orang tua untuk kehidupan abadinya. Pengorbanan orang tua mengasuh, mendidik dan membesarkan anak tentunya adalah pekerjaan yang akan mendapatkan nilai pahala yang besar di sisi Allah Swt. Sebagaimana posisi orang tua bagi anak juga adalah ladang amal mulia jika sang anak memberikan bakti terbaik dan birrul walidain.

Inilah hakikat hidup di dunia sebagai mazraatul amal (tempat menyemai benih-benih amal) . Sedangkan akhirat merupakan tempat kita memanen. Jika benih yang kita semai adalah kebaikan maka di akhirat nanti kita akan memetik buah kebaikan. Begitu sebaliknya. (Lihat QS. Az-Zalzalah [99] : 7-8). [yy/republika]

Oleh Imanuddin Kamil, Guru SIT Lampu Iman