15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Bid’ah-kah Berdoa Menyambut Muharam?

Bid’ah-kah Berdoa Menyambut Muharam?

Fiqhislam.com - Bulan Muharram memiliki banyak keistimewaan. Karena itu, banyak umat Islam yang melakukan ibadah atau amalan khusus pada bulan ini. Untuk menyambut bulan ini pun, tak sedikit umat Islam yang menggelar doa bersama.

Namun, ada sebagian Muslimin yang menyatakan bahwa tradisi membaca doa pada akhir dan awal tahun baru Islam ini merupakan perkara yang tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad SAW alias bid’ah. Benarkah demikian?

Menjawab hal itu, Direktur Aswaja NU Center Jember KH Badrut Tamam menjelaskan, golongan yang berpendapat berdoa pada awal tahun baru Islam merupakan bid’ah itu biasanya adalah kelompok Wahabi. Di antara alasan mereka adalah karena Rasulullah SAW dan ulama salaf tidak mengajarkan doa khusus pada awal tahun.

“Namun, kita menjawabnya bahwa memang tidak ada doa khusus, tapi juga tidak ada dalil yang malarang kita berdoa pada awal tahun,” ujar Kiai Badrut kepada Republika.

Adapun dalil yang dipakai kelompok Wahabi itu biasanya adalah kullu bid’atin dhalalah (semua bid’ah itu sesat). Sementara, menurut dia, ada dalil Alquran yang menganjurkan umat Islam untuk berdoa agar Allah SWT mengabulkannya.

“Tentang berdoa pada awal tahun itu merupakan bagian dari keumuman ayat Alquran dalam surah Ghafir ayat 60, itu disebutkan ud’uni astajib lakum. Ini adalah lafaz umum yang mencakup anjuran kepada kita untuk berdoa,” ujar ketua Komisi Dakwah MUI Jember ini.

Menurut Kiai Badrut, anjuran berdoa di dalam Alquran itu tentu tidak dibatasi jarak dan waktu. Umat Islam bisa meminta kepada Allah kapan pun dan di manapun. Karena itu, menurut dia, justru yang bid’ah itu adalah orang yang melarang berdoa pada awal tahun.

“Justru yang bid’ah menurut saya adalah melarang seseorang berdoa pada waktu-waktu tertentu. Karena, Rasulullah dan ulama salaf tidak pernah melarang seseorang melakukan doa pada waktu-waktu tertentu,” katanya.

Wakil sekretaris Asosiasi Ma'had Aly Indonesia (Amali) ini menambahkan, doa awal tahun yang beredar di masyarakat berbeda-beda redaksinya. Di antaranya doa yang terdapat di dalam kitab hadits Sunan at-Tirmidzi.

Menurut dia, doa tersebut adalah hadits hasan. Bahkan, kata dia, tokoh ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani juga menyatakan bahwa hadits tersebut adalah sahih. Kendati demikian, menurut dia, doa yang terdapat dalam hadits itu memang bukan untuk awal tahun Hijriyah, melainkan untuk dibacakan setiap awal bulan.

“Nah, kalau kita perhatikan awal tahun Hijriyah ini kan berada di awal bulan, lalu apakah salah ketika doa ini dibaca di awal bulan? Bukankah Rasulullah membaca doa ini di awal bulan?” ujar Kiai Badrut.

Sementara, penulis Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Firman Arifandi, menjelaskan, tradisi membaca doa untuk menyambut bulan Muharram dilakukan umat Islam bukan tanpa landasan. Sebab, pada prinsipnya selama masih tidak bertentangan dengan esensi Alquran, sunah, ijma, dan atsar Sahabat, perkara itu belum bisa dikatakan sesat.

Menurut dia, ada sebuah dalil yang diyakini merupakan amalan dari para sahabat Nabi melalui riwayat Abdullah bin Hisyam dalam Al Mu’jam Al Awsath Imam Thabrani, yaitu:

Dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata bahwa para Sahabat Rasulullah SAW mempelajari doa berikut jika memasuki tahun atau bulan baru, “Ya Allah, masukkan kami ke dalamnya dengan aman, iman, selamat, dan Islam. Mendapatkan ridha Allah dan dijauhkan dari gangguan setan’’ (HR Thabrani, Al Hafizh Al Haitsamiy menilai hasan).

“Seandainya hadits ini tidak diakui eksistensinya oleh golongan tertentu, masih banyak hadits lain yang sahih dan dalil Alquran dengan konotasi umum yang menganjurkan Muslimin banyak berdoa, termasuk pada awal ataupun akhir tahun,” kata Ustaz Firman dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia. [yy/republika]

Oleh Muhyiddin

 


 

Tags: Doa | Muharam | Muharram | Bid'ah