10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Enam Makna Ghibah dalam Ayat Al-Quran

Enam Makna Ghibah dalam Ayat Al-Quran

Fiqhislam.com - Ulama Turki Badiuzzaman Said Nursi menyebutkan sebuah ayat mulia yang menjelaskan betapa buruknya ghibah dalam pandangan Alquran. Dia pun menjelaskan makna kata per kata dalam ayat tersebut.

Allah SWT berfirman,

اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا....

"Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?..." (QS. Al-Hujurat [49]: 12).

Dalam bukunya yang berjudul Risalah Ikhlas dan Ukhuwah, Nursi menjelaskan karena ditujukan kepada mereka yang menggunjing orang lain, maka ayat tersebut memiliki beberapa makna. Menurut Nursi, kata pertama dalam ayat tersebut ialah hamzah.

Ayat tersebut bermaksud menegur pembacanya dengan hamzah (pertanyaan) “Apakah engkau tidak mempunyai akal, yang bisa engkau gunakan untuk berpikir, sehingga engkau bisa mengerti betapa buruknya perilaku gibah ini?!

Dalam kata kedua, yaitu (يُحِبُّ) “suka”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apakah hati yang engkau gunakan untuk mencintai atau membenci telah rusak sehingga engkau mencintai perilaku yang paling buruk dan sangat menjijikkan?

Dalam kata ketiga, yakni (اَحَدُكُمْ) “salah seorang di antara kalian”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang telah terjadi dengan kehidupan sosial dan perabadan kalian, yang mengambil vitalitasnya dari jamaah, sehingga kalian menerima sesuatu yang begitu meracuni kehidupan sosial kalian?!

Dalam kata keempat, yakni (اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ) “memakan daging”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Apa yang terjadi dengan rasa kemanusiaan kalian sehingga kalian tega memangsa teman akrab kalian sendiri?!

Dalam kata kelima, yaitu (اَخِيْهِ) “saudaranya”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Tidakkah engkau mempunyai belas kasihan terhadap sesama manusia? Apakah engkau tidak memiliki hubungan silaturahim yang mengikatmu dengan sesamamu sehingga engkau tega menerkam saudaramu sendiri, dilihat dari beberapa sisi, secara biadab?"

"Apakah orang yang tega menggigit anggota badan saudaranya sendiri bisa dikatakan memiliki akal? Bukankah orang seperti itu adalah orang gila?" kata Nursi.

Dalam kata keenam, yaitu (ميتا) "yang sudah mati”. Ayat tersebut bermaksud menegur dengan pertanyaan: “Di manakah hati nuranimu? Apakah fitrahmu telah rusak sehingga engkau melakukan suatu tindakan yang paling buruk dan menjijikkan, yaitu memakan daging saudaramu sendiri yang telah mati, yang selayaknya mendapatkan penghormatan?! [yy/republika]