21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Bahaya Fanatik Buta Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi

Bahaya Fanatik Buta Menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi

Fiqhislam.com - Syekh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam dalam Kitab As-Sahwah al-Islamiyyah Bayna al-Ikhtilaf al-Masyru ‘wa at-Tafarruq al-Mazmu mencatat tiga tanda fanatisme atau fanatik buta kepada kelompok atau jamaah.

Pertama: Satu orang hanya menyebutkan kelebihan dan kekurangan kelompoknya, sedangkan untuk kelompok lain hanya disebutkan kekurangan dan kekurangannya.

Kedua: Sekaligus memuliakan tokoh-tokoh kelompoknya, sekalipun ada salah dan khilaf pada sosok yang berusaha mengingkari, dan memandang rendah tokoh lain meski ada ketinggian ilmu dan amal.

Ketiga: Bergembira dan menyebarkan kesalahan orang lain. Pada saat yang sama, menutup mata terhadap kesalahan tokoh-tokoh dari kelompok itu sendiri, dan mencari berbagai alasan untuk membela kesalahan.

Dari 3 sifat ta’sub di atas, seseorang terlihat melebih-lebihkan (ghulluw, tasyaddud) membela organisasi kelompok atau Jemaah sendiri seolah-olah itu adalah masalah ta’abbudi. Sehingga kemaslahatan dakwah Islam dan umatnya dikorbankan agar organisasi kelompok lebih terjaga.

Untuk itu, Syekh Al-Qaradhawi mengingatkan dua hal kepada para penceramah dan pendukung gerakan Islam. Hahwa; (a) suatu kelompok atau jamaah hanyalah wasilah (atau alat) dan bukan berhala yang perlu disembah dan dimuliakan seolah-olah tidak ada dosa. (b), cara menghindari sifat ta’asub (fanatisme ekstrem/fanatik buta) dalam hal perbedaan pendapat dan ijtihad, hendaknya dilakukan;

Pertama, lihatlah isi ceramah/nasehat/teguran/percakapan, bukan fokus kepada siapa yang mengatakan, hatta, sekalipun terharap musuh.

Kedua, pengkhotbah/pendakwah/aktivis gerakan dakwah, harus berani mengkritik diri sendiri, mengakui kesalahan, menerima kritik orang lain, mencari nasihat dan evaluasi serta memanfaatkan setiap orang.

Ketiga, pendakwah sejati wajib membela sesuatu yang haq/benar. Entah itu dari dari kawan maupun lawan.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ…

Dan tetaplah memberi peringatan (nasehat), karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS: Adz-Dzaariyaat 51:55).*/ dalam as-Sahwah al-Islamiyyah Bayna al-Ikhtilaf al-Masyru ‘wa at-Tafarruq al-Mazmum. [yy/hidayatullah]