19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Harus Bagaimana, Mencintai atau Takut pada Allah?

Harus Bagaimana, Mencintai atau Takut pada Allah?

Fiqhislam.com - Dalam konteks Islam, istilah takut bisa digunakan untuk merujuk pada kesadaran Tuhan. Takut kepada Allah berarti takut akan ketidaktaatan dan hukuman-Nya pada Hari Kiamat dan takut melupakan-Nya serta kehilangan rahmat-Nya.

Makna lain dari rasa takut itu adalah takut tidak menyenangkan Allah. Jadi, takut kepada Allah tidak didasarkan pada konsep dendam kebencian, tapi pada cinta yang mengarah pada perasaan takut akan ketidaksenangan Allah.

Kesadaran Allah

Kesadaran Allah adalah inti dari takwa karena kesadaran itu meliputi mengakui, merasakan, dan menyadari kehadiran Allah setiap saat. Selain itu, kita juga mengetahui Allah menjaga dan tahu setiap apa yang Anda lakukan, termasuk apa yang dibisikkan di hati Anda.

Perasaan ini mengakibatkan berusaha menjalani hidup sesuai dengan perintah Allah dan malu jika melakukan kesalahan di hadapan-Nya setiap saat. Jadi, orang yang bertakwa berusaha menghindari hal-hal yang tidak disukai Allah dan hal lain yang dapat merugikan dirinya atau orang lain.

Takwa dan cinta Ilahi

Selama berabad-abad, para filsuf dan penulis telah mencoba menjelajahi cinta ilahi. Mereka menemukan ada beberapa perasaan yang tidak dapat digambarkan melalui kata-kata, terutama ketika seseorang bergerak ke tingkat cinta ilahi yang lebih tinggi. Cinta ilahi dalam Islam bukan jenis cinta yang dangkal melainkan dianggap sebagai perasaan tulus dari timbal balik antara Tuhan dan manusia.

Cinta kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam ibadah murni seperti doa, tapi juga tercermin dalam berbagai aspek kehidupan. Mengikuti jalan yang telah Allah tetapkan akan menghasilkan rasa ketergantungan pada Tuhan dan rasa syukur atas semua karunia-Nya.

Berbagai ayat dalam Alquran menjelaskan karakteristik yang harus dimiliki seseorang untuk menerima cinta Allah. Allah mencintai mereka yang percaya kepada-Nya dan orang yang terus-menerus bertaubat. Selain itu, orang-orang yang berperilaku adil atau hakim yang adil juga pantas menerima cinta Allah.

Manfaat takwa

Dilansir About Islam, ada beberapa manfaat yang diperoleh dari takwa sebagai berikut.

- Bimbingan

Alquran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam yang bertakwa kepada-Nya. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Zālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Inilah sebabnya mengapa banyak orang tidak benar-benar mendapat manfaat dari membaca Alquran karena hati mereka tidak menerimanya.

- Kebijaksanaan

Manfaat lain adalah takwa membantu orang untuk memiliki visi, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tepat. Allah berfirman dalam surat al-Anfal ayat 29:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Yā ayyuhallażīna āmanū in tattaqullāha yaj'al lakum furqānaw wa yukaffir 'angkum sayyi`ātikum wa yagfir lakum, wallāhu żul-faḍlil-'aẓīm

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”

- Berkah

Takwa juga menjadi alasan untuk menerima berkah Tuhan dan menemukan jalan keluar dari masalah dan kesengsaraan dalam hidup. Allah berfirman dalam surat at-Talaq ayat 4:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Wa may yattaqillāha yaj'al lahụ min amrihī yusrā

Bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”

- Pengampunan

Alquran menyebut takwa sebagai persyaratan untuk pengampunan dosa. Selain itu, takwa juga merupakan prasyarat untuk menerima rahmat Tuhan. Dari takwa, seseorang akan mencapai kebahagiaan tertinggi, tidak hanya di bumi tapi kekal di akhirat.

Inilah sebabnya mengapa Alquran terus-menerus menyebut seseorang harus bertakwa. Seseorang harus tunduk pada kehendak Allah dan mengambil takwa sebagai bekal untuk perjalanan dari kehidupan di bumi menuju kehidupan abadi di akhirat. [yy/republika]