4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Jalan Hidup Salikin: Mengasah Mata Batin

Jalan Hidup Salikin: Mengasah Mata Batin

Fiqhislam.com - Mata batin yang tajam hanya mungkin dimiliki oleh orang yang betul-betul mencapai tingkat kedekatan khusus dengan Allah SWT, seperti yang dialami para nabi dan para wali (auliya).

Sebagaimana halnya telinga batin (sama’), mata batin (bashirah) juga membutuhkan pengasahan supaya bisa melihat lebih tajam dan mampu melihat sesuatu yang sulit diamati oleh mata kepala. Mata batin yang lebih tajam bisa melihat dan menyaksikan hal-hal yang gaib.

Untuk mengasah mata batin, diperlukan juga berbagai latihan, seperti halnya ketika kita mengasah telinga batin. Orang-orang yang rajin melakukan mujahadah, riyadhah, muraqabah, dan berbagai bentuk pendekatan diri lainnya kepada Allah SWT, maka dapat menyingkap seluruh tabir (hijab) yang menghalangi seseorang untuk melihat dan menyaksikan sesuatu yang gaib.

Para salikin yang sudah mampu membuka tabir lalu menyingkap kegaiban maka ia sudah berada di tingkat mukasyafah, suatu prestasi spiritual yang mampu menyingkap rahasia dan alam gaib.

Menyaksikan sesuatu yang gaib sesungguhnya biasa dijelaskan dan tidak perlu kita ragu. Karena, hampir semua orang pernah mengalami mimpi. Mimpi itu sesungguhnya adalah salah satu bentuk penyaksian sesuatu yang gaib. Hanya saja mimpi kebanyakan hanya bunga-bunga tidur, seperti yang sering dialami banyak orang.

Yang dimaksud mengasah mata batin dalam hal ini bukan latihan untuk meningkatkan frekuensi kejadian mimpi, tetapi bagaimana meningkatkan tingkat kesadaran kita bisa mencapai derajat yang lebih tinggi. Dan, menyebabkan mata batin kita menjadi lebih sensitif.

Penglihatan mata batin ada persamaannya dengan mimpi, tidak bisa diidentikkan dengan mimpi biasa. Mimpi biasa (al-hilm) bisa dialami oleh semua orang tanpa dibedakan tingkat kesadaran spiritualnya.

Mata batin yang tajam hanya mungkin dimiliki oleh orang yang betul-betul mencapai tingkat kedekatan khusus dengan Allah SWT, seperti yang yang dialami para nabi dan para wali (auliya’). Nabi pernah menjelaskan hal ini dengan mengatakan, “Mimpi baik berasal dari Allah SWT dan mimpi buruk dari setan.” (HR Bukhari).

Dalam kitab-kitab tasawuf, cerita tentang ketajaman mata batin sering ditemukan.

Sebagai contoh, suatu ketika Imam al-Ghazali (1058-1111 M) ditanya muridnya, “Mengapa engkau sering mengutip hadits-hadits ahad (tidak populer) di dalam kitab Ihya Ulumuddin?

Lalu, ia menjawab, “Saya tidak pernah menulis satu hadits di dalam buku ini sebelum saya konfirmasikan kepada Rasulullah SAW.”

Bila diteliti selisih masanya, pernyataan al-Ghazali tak wajar. Rasulullah wafat 632 M dan al-Gazali wafat 1111 M, selisih 479 tahun. Kitab Ihya Ulumuddin merupakan masterpiece al-Ghazali yang ditulis di puncak menara Masjid Damaskus. Ini adalah berkat mimpi dari al-Ghazali.

Kejadian lain, Ibn al-Arabi (1165-1240 M), seorang sufi besar, ditanya seorang muridnya perihal bukunya, Fushush al-Hikam, yang dirasakan seperti ada misteri. Kata muridnya, “Setiap kali saya baca buku ini, setiap itu pula saya mendapatkan sesuatu yang baru.”

Lalu dijawab, “Buku itu memang pemberian Rasulullah langsung kepada saya, bahkan judul bukunya pun dari Rasulullah (khudz hadza kitab Fushuhsh al-Hikam)". Padahal, selisih masa hidup Rasulullah dan Ibn al-Arabi terpaut 608 tahun.

Mata batin ialah kekuatan untuk melihat dan menyaksikan sesuatu yang oleh mata fisik tidak mampu dilihat atau disaksikan.

Dalam kitab Jami’ Karamat al-Auliya karangan Yusuf Ismail an-Nabhani (dua jilid), disebutkan, sejumlah wali bisa berkomunikasi lancar dengan Rasulullah SAW atau dengan ulama-ulama besar di zaman jauh sebelumnya melalui kekuatan “mimpi”.

Bahkan, dikatakan alangkah miskinnya seorang murid (pencari makrifat) kalau gurunya hanya orang-orang hidup. Cerita-serita semacam ini bisa kita lihat dalam banyak kitab, termasuk karya monumental Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, seperti telah disebutkan, yang terdiri atas dua jilid dengan menampilkan 695 tokoh yang dikategorikannya sebagai wali.

Banyak hadits shahih yang meriwayatkan keutamaan mimpi berjumpa Rasulullah. Di antara hadits itu, yakni “Barang siapa melihatku dalam mimpi maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku.” (HR Muslim dari Abi Hurairah).

Dalam redaksi lain, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar.” (HR Muslim dari Abu Qatadah).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa yang sering bershalawat terhadapku, aku tahu dan aku tentu memberikan syafaat di hari kiamat.” Selain itu dikatakan pula, “Barang siapa memimpikan aku, maka aku akan bersamanya nanti di surga.

Mimpi berjumpa dengan Rasulullah tentu merupakan dambaan setiap umatnya.

Sejumlah ulama khawas menasihatkan, jika ingin bermimpi berjumpa dengan Rasulullah maka berdoalah kepada Allah, wujudkan rasa cinta yang sangat mendalam, dan banyaklah bershalawat terhadapnya.

Mimpi berjumpa Rasulullah memiliki banyak bentuk, mulai dari melihat anggota badan Rasulullah secara samar-samar sampai menjumpainya secara utuh, bahkan berkomunikasi (batin) dengannya. Mimpi berjumpa dengan Rasulullah merupakan kenikmatan tersendiri.

Bagaimana orang yang selama ini kita cintai dan kita rindukan tiba-tiba muncul di hadapan kita? Air mata tak tertahankan dan rasa cinta semakin mendalam. Ada umatnya yang merasa sangat bahagia karena perjumpaannya dengan Rasulullah bisa dinikmati berulang kali.

Pantas, sekitar 500 sahabat yang hidup bersama Rasulullah dan masing-masing diantara mereka mengesankan, “Akulah yang paling dicintai Rasulullah”.

Komunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal memang dimungkinkan, antara lain, melalui mimpi. Mimpinya orang saleh, apalagi ulama yang taat dan bersih, dianggap bagian isyarat dari Tuhan.

Dalam Alquran dapat dipahami bahwa mimpinya para nabi dapat disejajarkan dengan wahyu. Syariat kurban, menyembelih hewan kurban, yang kita lakukan sampai saat ini pada awalnya adalah mimpi Nabi Ibrahim.

Mata batin ialah kekuatan untuk melihat dan menyaksikan sesuatu yang oleh mata fisik tidak mampu dilihat atau disaksikan. Jika Tuhan menghendaki maka banyak cara Tuhan untuk memperlihatkan sesuatu yang sulit atau tidak dapat disaksikan dengan mata kepala.

Diantara cara itu, yakni pertama, mimpi (hilm) yang dapat diakses oleh siapa pun dan hampir semua orang pernah mengalami mimpi. Kedua, kesadaran tingkat tinggi seorang hamba sehingga dapat menyaksikan yang gaib (waqiah).

Ketiga, penyingkapan sesuatu yang gaib (kasyf) kepada kekasih Tuhan. Keempat, penyingkapan imajinasi melalui latihan olah batin. Kekuatan ruh dan jiwa (nafs) dalam hal ini sangat menentukan. Itu pun bisa diakses oleh siapa pun juga yang rajin belajar dan melakukan latihan. [yy/republika]

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta