21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Mendoakan Husnul Khatimah Bagi Orang yang Hidup atau yang Meninggal?

Mendoakan Husnul Khatimah Bagi Orang yang Hidup atau yang Meninggal?

Fiqhislam.com - Ucapan husnul khatimah biasanya dipanjatkan sebagai doa agar kita sebagai muslim diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah (akhir/penutup yang baik). Bagaimana dengan orang yang sudah meninggal? Bolehkan kita mendoakan husnul khatimah untuknya (orang yang meninggal tersebut)?

Ustadz Fadly Gugul S.Ag, dari Dewan konsultasi Bimbingan Islam menjelaskan, doa seorang mukmin yang hidup kepada seorang mukmin yang telah meninggal, Allah Ta’ala jadikan sebagai doa yang mustajab . Begitu juga doa anak yang shaleh kepada orang tuanya yang beriman dan telah meninggal, Allah jadikan sebagai paket pahala yang tetap mengalir.

Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya).

Bahkan ikatan iman ini tetap Allah abadikan hingga hari kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah Ta’ala kumpulkan kembali mereka bersama keluarganya di hari kiamat. Dalam firman-Nya Yang Mulia;

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. At-Thur: 21).

Menurut dai alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadis) ini, mendoakan husnul khatimah bagi orang muslim yang hidup maupun telah wafat adalah boleh, dan hal ini bukan sebuah kekhususan bagi orang yang masih hidup saja, hanya saja upaya dan usaha bagi orang yang masih hidup lebih sempurna daripada yang telah wafat.

Jika direnungkan, lmalah ebih dianjurkan mendoakan ampunan (bukan hanya husnul khatimah) bagi mereka yang telah meninggal dunia, karena mengamalkan firman Allah Ta’ala;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Sejatinya adanya saling mendoakan antara yang hidup dan yang mati, merupakan bagian dari nikmat Allah kepada orang yang beriman. Karena ikatan iman, orang yang masih hidup bisa tetap memberikan doa kepada orang lain, meskipun dia sudah meninggal.

Adapun mendoakan husnul khatimah bagi orang kafir yang telah meninggal dunia, maka hal ini dilarang dalam agama kita yang mulia, karena Firman Allah Ta’ala;

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat (Nya), sudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahim.” (QS. At-Taubah: 113). Wallahu A’lam. [yy/Widaningsih/sindonews]