18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Apakah Wali Hanya Dikenal Oleh Para Wali?

Apakah Wali Hanya Dikenal Oleh Para Wali?

Fiqhislam.com - Mengawali diskusi terkait persoalan ilmu tasawuf yang mendominasi sisi keberagamaan masyarakat kita, mau tidak mau persoalan kesufian, semisal masalah kewalian juga menjadi topik penting yang seringkali diperbincangkan, bahkan diperdebatkan.

Ada suatu kaidah dalam dunia sufi, "La ya'riful waali illa waali" yang maksudnya "Tidak ada yang mengenal wali, melainkan wali itu sendiri".

Nah, jika berangkat dari kaidah ini, maka identitas seorang wali hanya diketahui oleh wali yang sederajat atau lebih tinggi maqamnya, orang awam tidak mengenal dan tidak akan bisa mengetahui sosok seorang waliyullah, bukan?

Sebelum kita membahas bagaimana seorang wali diketahui sebagai seorang wali, ada baiknya kita membahas tentang apa definisi wali dan kriterianya.

Kewalian adalah prinsip dasar dari jalan tasawuf. Seperti dikatakan oleh Imam Al-Hujwiry, "Ketahuilah prinsip dan landasan tasawuf serta makrifat adalah bertumpu pada kewalian."

Wali-wali Allah (auliya) ialah orang-orang suci yang telah diberkati oleh Allah dan diangkat menjadi "sahabat-Nya". Mereka ialah orang-orang yang telah mencapai penglihatan batin (mukasyafah) yang benar.

Siapakah Wali Itu?

Setiap Mukmin yang takwa ialah wali Allah (kullu mu'minin taqiyyin fahuwa waliyullah). Maka, syarat menjadi wali Allah ialah Mukmin yang takwa. Tetapi perlu digarisbawahi, bahwa: Pertama, Mukmin di sini yaitu dalam pengertian yang "paripurna".

Kata wali dalam konteks ini mengandung makna mubalaghah (sangat menekankan), yakni mukmin yang betul-betul taat. Mukmin yang sesungguhnya selalu mendasarkan perilakunya pada Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Karenanya, seperti dinyatakan oleh Dzun Nun Al-Mishri, "Al-Quran sudah bercampur dengan darah dan daging mereka," yang mengingatkan kita pada perkataan Aisyah, istri Nabi, bahwa "Akhlak Nabi adalah Al-Quran".

Dalam istilah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, "Kewalian adalah bayangan dari fungsi kenabian (zill al-nubuwwa), sebagaimana kenabian adalah bayangan dari fungsi ketuhanan.”

Mukmin sejati akan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya (hakikatnya) bukan sebagaimana yang dipikirkan, sebab mereka itu melihat dengan nur Allah (al-mu'minu yandzuru bi nurillahi ta'ala).

Kedua, syarat takwa di sini juga dalam pengertian yang hakiki (haqqa tuqatihi) yakni sebenar-benar takwa seperti diperintahkan dalam Al-Quran surah Ali Imran (3) ayat 102. Takwa di sini mengandung dua aspek, lahir dan batin.

Aspek lahirnya yaitu pelaksanaan syariat, sedangkan aspek batinnya adalah niat yang suci (lillahi ta'ala) dan mujahadah. Dan, orang Mukmin yang paling bertakwa bisa dipastikan paling mulia kedudukannya, sebagaimana firman Allah.

Dalam surah al-Hujuraat (49) ayat 13—inna akramakum ‘inda Allahi atqakum—"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu."

Dalam analisis terakhir, wali Allah ialah orang yang tinggi kedudukannya di sisi Allah. Mereka ialah para "pejabat istana Tuhan".

Pada tingkat inilah mereka akan dilindungi oleh Allah, yang merupakan makna kedua dari kata wali, yakni yang dilindungi atau dijaga. Dalam Al-Quran, Surah Al-A'raaf (7): 196, disebutkan, "Dan Dia melindungi (yatawalla) orang-orang yang salih."

Dalam ajaran tasawuf, wali Allah mengemban fungsi kosmik, sebab merekalah yang benar-benar dianggap sebagai "ulama pewaris Nabi Muhammad yang sejati."

Mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya, melainkan juga dalam kapasitas spiritual dan esensi rohaniah Nabi (al-haqiqah Al-Muhammadiyyah).

Menurut tradisi tasawuf, mereka ialah khalifah Allah yang sesungguhnya, wakil Allah di muka Bumi. Para wali sangat dekat dengan Allah sehingga penglihatan (visi) mereka tidak berbeda dengan visi Allah-yandzuru bi nurillahi ta'ala, "(mereka) melihat dengan nur Allah."

Sesuai dengan fungsi kosmis ini, maka wali-wali Allah memiliki nama atau gelar dan kedudukan tersendiri dengan tugas khusus sesuai dengan kedudukan itu.

Darimana seorang wali diketahui dan dikenal sebagai seorang wali?

Setiap kali orang berbicara tentang wali, muncul kesulitan. Sebab sudah masyhur dalam tradisi tasawuf bahwa "hanya wali Allah yang mengenal wali Allah". Karena itu, bisa dikatakan adalah tidak mungkin orang awam mengenal wali.

Tetapi dalam kenyataannya, selalu ada kabar tersiar bahwa syekh itu adalah wali, syekh itu adalah wali; atau syekh itu adalah wali qutub, wali badal, dan seterusnya.

Orang bisa mengatakan bahwa seseorang tahu bahwa Syekh A adalah wali lantaran wali itu sendiri yang memberitahukan kewaliannya. Tetapi persoalan apakah seorang wali tahu bahwa dirinya adalah wali masih merupakan perdebatan di kalangan sufi.

Hanya saja perdebatan ini kurang signifikan, sebab argumen yang dipakai dalam soal ini didasarkan pada perbedaan perspektif dan pengalaman masing-masing sufi.

Dalam kasus seperti ini, biasanya "pengakuan" itu dari syatahat, atau diperintah ilham, seperti "Kakiku berada di atas pundak seluruh wali" (Abdul Qadir al-Jailani), "Penutup Kewalian" (Syekh al-Akbar Ibnu ‘Arabi), "Aku adalah Qutub dari segala yang maujud" (Muhammad Samman).

Yang paling lazim adalah seseorang atau orang-orang awam mengetahui kewalian karena ada wali lain yang sudah masyhur mengatakan bahwa Syekh A adalah Waliyullah.

Bukan sesuatu yang aneh jika para wali saling menyebut sesama wali dan mengabarkannya kepada khalayak. Syekh Al-Akbar Ibnu 'Arabi misalnya, mengabarkan kepada kita tentang banyak wali Allah, yang sebagian yakni guru-gurunya, melalui salah satu risalahnya, Roh Al-Quds.

Karena itu, pernyataan tersebut di atas mungkin bisa pula dipahami sebagai "hanya wali yang mengenal kedudukan wali" Kedudukan ini lebih bersifat spiritual, dan karenanya dibutuhkan perspektif spiritual pula untuk mengetahuinya.

Misalnya, kita mengenal "Wali Songo", dan diyakini oleh sebagian masyarakat awam bahwa mereka memang benar-benar wali Allah. Tetapi orang-orang awam tak mengetahui dari sembilan wali itu mana yang memiliki peringkat lebih tinggi.

Kita orang awam, tidak tahu apakah salah satu dari wali-wali itu ada yang memiliki kedudukan qutb, autad, atau abdal (tentang maqam wali ini akan dijelaskan lebih jauh nanti), kecuali kita diberi tahu sendiri oleh para wali.

Bahkan orang awam kadang juga bingung sebab sering kali ada seorang wali yang dikabarkan memiliki beberapa kedudukan berbeda.

Syekh al-Akbar Ibnu Arabi menyebut ada satu jenis wali yang maqam-nya aneh dan membingungkan. Wali ini mengetahui semua detail alam.

Karena sekaligus mengumpulkan beberapa kedudukan, wali jenis ini sulit untuk diklasifikasikan ke dalam salah satu maqam wali saja. Bisa jadi wali ini Qutb, atau mungkin juga bukan, hanya Allah dan mereka yang diberitahu oleh-Nya yang bisa mengenal dengan pasti kedudukannya.

Sering kali sesama wali bahkan saling memuji dan mengagumi kedudukan masing-masing. Kebiasaan para wali Allah yang saling memuji sesama wali dan menyebut kedudukannya secara berbeda inilah yang juga menambah kesulitan bagi orang awam untuk mengetahui maqam seorang wali.

Tetapi barangkali memang harus demikian adanya, sebab wali Allah dalam tradisi sufi kerap disebut sebagai "pengantin Tuhan" dan karenanya hanya sang pasangan dan keluarga.

Tetapi bagi kalangan yang mengingkari adanya martabat kewalian ini, apa pun hujah yang disampaikan tidak akan membuat mereka percaya.

Ketidakpercayaan kaum menyangkal eksistensi wali, karomahnya, berkahnya, dan kedudukannya, bisa dipahami mengingat mereka menyandarkan pandangannya bukan pada tradisi sufi-dan memang pada dasarnya mereka sudah tidak yang percaya.

"Sesungguhnya, wali-wali Allah itu tak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak pula bersedih hati. Mereka adalah orang-orang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia juga akhirat. (QS Yunus (10): 63)

"Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia berarti menyatakan perang terhadap-Ku. (Hadits Qudsi). [yy/sindonews]

Ustaz TGH Dr Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Quran,
Pensyarah Kitab Dalail Khairat