9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Mengapa Kita Harus Ikhlas?

Mengapa Kita Harus Ikhlas?

Fiqhislam.com - Kata “al ikhlash” satu akar dengan kata “akhlasha-yukhilshu” (memurnikan). Orang Arab, mengatakan: “akhlashtul asal” (aku memurnikan madu). Maksudnya menyaring madu sehingga benar-benar bersih.

Dalam dunia HP, ikhlas itu ibarat jaringan yang menghubungkan kepada operator. Semakin kuat jaringannya semakin lancar komunikasi. Dalam beramal juga demikian, di mana kita sebagai hamba harus terkoneksi kepada Allah. Jaringan yang mengoneksikan amal kita namanya "ikhlas".

Semakin kuat semangat ikhlas, tentu semakin lancar beramal. Karena itu dikatakan, jika Anda ingin tahu apakah si fulan itu ikhlas atau tidak, lihatlah ketika beramal, apakah dia istiqamah atau tidak. Jika ia ikhlas, ia pasti istiqamah. Sebaliknya jika tidak, ia akan mundur di tengah jalan.

Alquran membimbing para hamba Allah agar ikhlas. Karena itu, diulang-ulang dalam setiap surah nama-nama-Nya. Terutama di penutup ayat, hampir-hampir selalu ada kata “al aziizul hakim” (yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana), “al hayyul qayyum.” (Allah Mahahidup lagi Maha Terjaga), “al wahhab” (yang Maha Memberi), “syadidul iqaab” (yang Maha Pedih Siksaan-Nya) dan sebagainya.

Siapa pun yang membaca Alquran akan terantar kepada suasana merasa bersama Allah, dilihat oleh-Nya, dijaga dengan rahmat-Nya, dicurahkan nikmat-nikmat-Nya. Maka, tidak ada alasan untuk tidak berbuat ikhlas kepada-Nya.

Para ulama sangat perhatian kepada masalah ikhlas ini. Hampir setiap buku hadis yang mereka tulis, dibuka dengan “babul ikhlash”. Alasannya, khawatir dalam menulisnya dirasuki penyakit riya’ (ingin dipuji orang). Sekaligus sebagai pengingat, supaya senantiasa memperbarui niat, setiap kali menulis buku dan membacanya.

Kitab Sahih Bukhari, misalnya, dibuka dengan baca niat, maksudnya ikhlas. Kitab Riyadhushshalihin dan al-Arbain (empat puluh hadis), Imam an-Nawawi penulisnya, juga membuka dengan bab “al ikhlash”.

Tak terkecuali Imam as-Samarqandi dalam kitabnya Tabihulghafiliin juga memulai dengan bab “al-ikhlash”. Ternyata itu, bukan tanpa alasan. Nabi Muhammad SAW sendiri sangat mengkhawatirkan atas umatnya tentang penyakit riya’, sampai-sampai menyebutkannya sebagai perbuatan syirik kecil: “Akhwafu maa akhaafu alaikum asy syirkul ashghar. (Yang paling aku takuti atas kamu adalah penyakit syirik kecil, maksudnya riya’)." (HR Imam Ahmad).

Dalam kitabnya, Imam as-Samarqandi menyebutkan, tujuh amalan yang sia-sia. Di antaranya, orang yang minta ampun dari dosa, tetapi masih terus mengulangi dosanya.

Selanjutnya, orang yang berdoa untuk mencapai tujuan, tetapi tidak berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Selain itu, orang yang berniat untuk beramal, tetapi tidak melaksanakan amal tersebut. Ditambah lagi, orang yang berlelah-lelah dalam beramal, tetapi tidak ikhlas dalam mengamalkannya. [yy/republika]

Oleh Ustaz Dr Amir Faishol, Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 


 

Tags: Ikhlas | Syukur | Kufur | Kalbu