9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Menyelami Lebih Dalam Tentang Israf

Menyelami Lebih Dalam Tentang Israf

Fiqhislam.com - "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS al-A'raf [7]: 31)

Jangan berlebih-lebihan dalam bersedekah. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Tsabit bin Qais bin Syammas bahwa dia memotong lima ratus pohon kurma lalu membagikan semua buahnya dan tidak mengambil bagian untuk keluarganya. Allah SWT berfirman,

"Dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal" (QS al-Isra [17]: 29)

Al-Zuhri berkata, "Maknanya adalah janganlah kalian berinfak dalam maksiat kepada Allah." Dalam riwayat yang sama dari Mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dia berkata, "Kalau saja Abu Qubais (gunung di Mekah) berupa emas, lalu seseorang menafkahkannya untuk ketaatan kepada Allah, dia tidak disebut berlebihan. Kalau dia menginfakkan satu dirham untuk kemaksiatan, dia telah berlebih-lebihan. Inilah maksud dari sebuah perkataan yang berbunyi, "Tidak ada istilah berlebih-lebihan dalam kebaikan, tidak ada makna kebaikan dalam sikap berlebih-lebihan." Makna yang tepat ialah bahwa berlebih-lebihan dalam segala sesuatu apakah itu baik atau tidak adalah perbuatan yang salah, baik dalam makan maupun sedekah. Pasalnya, manusia wajib berinfak untuk dirinya, keluarganya, kerabat, dan anak-anaknya. Bahkan, ketika dia tidak mempunyai anak-anak, hendaknya ia menyisihkan sebagian uangnya untuk menabung. Dengan begitu, ia berarti telah berinfak untuk kebutuhan masa depannya agar dia tidak menjadi beban bagi orang lain. Oleh karena itu, orang pandir yang menghambur-hamburkan harta harus diasingkan meskipun harta yang ia keluarkan itu di jalan kebaikan.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan,

"Makanlah, minumlah dan berpakaianlah tanpa berlebihan atau sombong." (HR Bukhari)

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai orang lain yang suka berlebihan dalam suatu hal atau bahkan tanpa disadari, kita sendiri pun sering melakukan sesuatu hal dengan berlebihan. Sifat berlebihan itu dalam Islam diistilahkan dengan Israf. Dari beberapa keterangan di atas, sudah sangat jelas bahwa Allah melarang hambanya untuk bersikap berlebihan. Allah melarang hambanya bukan tanpa tujuan, selain Allah tidak suka, bersikap berlebihan juga dapat merusak kehidupan dan kesehatan si pelaku. Maka alangkah baiknya kita menghindari sikap israf tersebut dengan melakukan sesuatu sedang-sedang saja atau sewajarnya saja. Makan minum secukupnya, belanja secukupnya, marah sewajarnya, cinta juga sewajarnya saja, dan lain sebagainya.

Di antara dampak sikap melampaui batas (berlebihan) adalah sebagai berikut:

1. Mengakibatkan terhentinya melakukan amal ibadah dan tidak sabar, karena manusia memiliki tabiat cepat bosan dan memiliki kemampuan yang terbatas.

2. Manusia biasanya akan sabar mengerjakan pekerjaan yang berat dan sulit dalam waktu beberapa hari atau beberapa bulan, lebih dari itu akan manusia akan bosan.

3. Sikap "berlebihan" terkadang akan berubah menjadi sebuah "keteledoran", suatu hal yang sebelumnya bersifat ketat, berubah menjadi kebebasan. Pada akhirnya dia akan meninggalkan sedikit atau banyak dari apa yang seharusnya dilakukan.

4. Dibenci oleh Allah Ta'ala

5. Menjadi orang yang akan tercela dan menyesal

Kesimpulan, Islam adalah agama realistis dan agama kehidupan. Dia memadukan antara materiil dan rohani serta membidik kesempurnaan maknawi dengan iman dan akhlak. Kesempurnaan materiil dengan kekuatan fisik yang menjadi penolong untuk melaksanakan ibadah dan jihad fi sabilillah. Tidak makan dan minum mengandung pelemahan fisik dan menyebabkan pengabaian dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban. Penampilan dengan memakai pakaian-pakaian yang indah bukanlah ciri ketakwaan dan keberagamaan, sebagaimana kekusutan, zuhud yang berlebihan untuk menghalangi manusia menikmati kehidupan yang diperbolehkan tidaklah disukai dalam syara'. Yang penting adalah perbaikan diri dengan akhlak pemakmuran hati dengan keimanan, dan pembersihan diri dengan amal saleh dan jihad. [yy/republika]

Muhamad Agis Alfarisi

Sumber: Kitab Tafsir Al-Munir Karya Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili