15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Memuliakan Ilmu, Berarti Harus Memuliakan Guru

Memuliakan Ilmu, Berarti Harus Memuliakan Guru

Fiqhislam.com - Untuk kalian para pencari ilmu, pasti pernah merasakan bahwa ilmu yang kita dapat belum bisa bermanfaat baik bagi diri kita, keluarga, maupun di masyarakat. Stop menganggap itu sebagai hal yang wajar. Mungkin ketidakbermanfaatan ilmu yang sedang kalian rasakan adalah sebagian dari kesalahan dalam mencari ilmu. Diantara kemungkinan-kemungkinan yang dapat membuat ilmu kita tidak maksimal adalah cara kita memuliakan ilmu dan cara kita (adab) dalam memuliakan sang ahli ilmu (guru).

Mengutip Kitab Talim wa al-Mutaallim karangan Syekh al-Zarnuji dikatakan bahwa sesungguhnya orang yang mencari ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatannya, kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya (guru). Guru sangat diperhatikan dan menjadi hal terpenting dalam unsur pencarian ilmu. Kita semua sepakat bahwa tanpa adanya guru, kita tidak paham dengan ilmu. Tanpa adanya guru, kita tidak mengerti apapun. Guru berjasa besar dalam mengangkat kebodohan kita menuju masa depan yang cerah. Oleh karena itu, bagi penuntut ilmu kita diwajibkan untuk berlaku tadhim (hormat) kepada guru.

Memuliakan guru dimulai dengan memiliki sikap hormat. Ia yang mau menghormati gurunya akan mulia, dan sebaliknya seseorang yang enggan bersikap hormat terhadap ahli ilmu (guru) akan jatuh dari kedudukannya akibat meremehkan. Sayyida Ali ra. berkata, aku tetap menjadi budak orang yang mengajarkanku meskipun satu kalimat. Kalau orang itu ingin menjualku, maka bolehlah. Jika ia ingin membebaskan atau menetapkanku menjadi budaknya, aku tetap mau. Melalui perkataan orang setinggi Sayyida Ali ra. terhadap seorang gurunya membuat mata kita terbelalak bahwa guru memang harus diposisikan paling tinggi nan mulia. Guru memiliki hak yang harus diindahkan melebihi segala hak yang lain, bahkan sebagai balasan memuliakan guru, amat pantaslah jika beliau diberikan seribu dirham meskipun hanya mengejarkan satu kalimat. Karena sesungguhnya orang yang mengajarkan kita satu huruf saja hal yang kita perlukan, maka dia termasuk sebagai bapak (orangtua) bagi kita.

Sebagian dari etika dalam memuliakan guru lainnya ialah janganlah kita berjalan didepannya, duduk di tempat duduknya, memulai bicara kecuali mendapat izin darinya, banyak bicara dihadapannya, janganlah mengajukan pertanyaan jika guru sedang dalam keadaan tidak enak dan sabar dalam menunggu kedatangan guru. Seorang murid hendaknya juga selalu meminta keridhoan gurunya, menjauhi kemurkaannya, melakasanakan perintah-perintahnya (kecuali perintah bermaksiat kepada Allah), dan memuliakan anak-anak serta sanak familinya.

Syekh Imam Burhannuddin, pengarang Kitab Al-Hidayah pernah bercerita bahwa dulunya ada seorang alim diantara tokoh imam-imam yang ada di negara Bukhoro, sesekali beliau berdiri ketika berada ditengah-tengah majelis pengajian. (Karena sering berbuat demikian), kemudian orang-orang bertanya kepada imam tersebut. Imam tersebut menjawab alasannya sering berdiri ditengah-tengah pengajian adalah karena putra gurunya sedang bermain bersama teman-temannya. Oleh karena itu, imam tersebut berdiri (seraya menghormati) untuk anak gurunya itu. Imam tersebut melakukannya tidak lain lantaran memuliakan gurunya, bahkan anak-anak gurunya.

Seorang Qadhi, Imam Fakhruddin Al-Arsabandi, pemimpin para imam yang ada di Negara Marwa adalah orang yang dimuliakan dan dihormati oleh Sultan dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan bahwa yang menjadi sebab dirinya memperoleh derajat (kedudukan) ini adalah karena ia menghormati dan berkhidmah pada gurunya, Imam Abu Yazid al-Dabusi. Dulunya ia memasakkan makanan untuk gurunya, dan ia tidak ikut makan dari apa yang ia masak tersebut.

Relevansi dari adanya cara dan cerita-cerita mengenai memuliakan guru diatas bagi diri kita saat ini adalah sebagai pencari ilmu dan yang ingin dirinya mulia, hendaknya berusaha sebaik mungkin memulikan gurunya terlebih dahulu. Mencari hal-hal yang membuatnya ridha, dan menjauhi hal-hal yang berkemungkinan membuat guru kita murka. Sebab, murkanya guru akan mendatangkan ketidakbaikan bagi proses pencarian ilmu kita.

Kita bisa meneladani cerita dari kalangan ulama tersebut dan mencoba untuk mulai mempraktikannya. Misal, ketika seorang guru belum datang-datang sebagai murid kita harus sabar menunggu kedatangannya dan mencoba mengonfirmasi dengan baik. Bukan malah membuat guru tergesa-gesa untuk hadir mengisi materi. Sebagai permisalan lagi, kita dapat bercermin dari cerita mulianya Qadhi Imam Fakhruddin yang memasakkan makanan bagi gurunya. Di era sekarang tanpa perlu memasak, kita dapat menyiapkan hidangan seperti makanan ringan atau minuman di meja guru, sebagai bentuk rasa tadhim kepadanya. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang dapat kita aplikasikan untuk menjadi seorang murid yang memuliakan gurunya.

Semoga kita dapat menjadi bagian dari murid yang mendapat kebermanfataan ilmu dengan memuliakan seorang guru. [yy/republika]

Rizqi Mualimatul Fiqiyah

- Sumber Rujukan: Syekh Imam Al-Zarnuji, Kitab Talim wa al-Mutaallim