<
pustaka.png
basmalah.png

Mengapa Kiblat Berubah dari Yerusalem ke Makkah?

Mengapa Kiblat Berubah dari Yerusalem ke Makkah?

Fiqhislam.com - Perubahan arah kiblat dari Yerusalem ke Makkah merupakan perintah Allah SWT. Para cendekiawan Muslim sepakat perpindahan arah kiblat terjadi di pertengahan Sya'ban, sekitar 16 bulan setelah hijrah.

Dilansir di About Islam, Kamis (18/2), Allah memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW melakukan shalat lima waktu dalam peristiwa Isra Mi'raj. Setelah itu, umat Islam selalu shalat dengan menghadap Masjidil Aqsha di Yerusalem.

Kemudian perintah turun ketika Rasulullah sudah bermigrasi dari Makkah ke Madinah, melalui firman Allah: "Orang-orang bodoh di antara manusia akan berkata: "Apa yang memalingkan mereka (Muslim) dari Kiblat yang dulu mereka digunakan?" Katakanlah (Muhammad) : Milik Allah Timur dan Barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus" (QS. Al Baqarah ayat 142).

Menurut Profesor Shahul Hameed, frase "orang bodoh” dalam konteks ini adalah mereka yang mengkritik perubahan arah kiblat, tanpa memahami apa pun. Karena sebelum membahas arti kiblat, kita harus memahami pentingnya apa yang disebut kiblat bagi umat Islam.

Bagi umat Islam, tidak ada shalat harian yang dapat dilakukan dengan benar tanpa mengetahui arah kiblat. Kiblat berarti orientasi atau arah yang benar.

Sejak takbir pertama, umat Islam telah diperintahkan menghadap Makkah sebagai rumah Allah. Artinya, secara spiritual ini menghubungkan diri mereka di sepanjang garis tak terlihat yang melewati setiap titik di bumi, ke pusat spiritual di Makkah.

"Apakah mereka berdoa sendiri atau berjamaah, mereka melakukannya sebagai bagian dari komunitas Islam yang lebih besar. Jadi, lima kali sehari, setiap Muslim disejajarkan dengan Muslim lainnya yang membentuk lingkaran konsentris di sekitar Ka'bah yang mengelilingi bumi," jelasnya.

"Bayangkan menyaksikan pemandangan dari luar angkasa dan kita mungkin melihat semua Muslim saat shalat seperti bunga besar seukuran bumi, membuka dan menutup jutaan kelopaknya. Masing-masing kelopak itu melambangkan seorang Muslim saat shalat," kata Hameed.

Dengan demikian, kiblat bagi Islam memiliki peran penting dalam mempertemukan setiap bangsa, ras, dan suku di planet ini secara teratur lima kali sehari. Kiblat berfungsi sebagai jantung umat Islam, memasok darah kehidupan bagi keberadaan spiritual Muslim di seluruh dunia dan menjaga konsep persatuan dalam setiap pengertian istilah: Tuhan itu satu, agama itu satu, dan umat adalah satu.

Yerusalem sendiri melambangkan garis Ishak. Makkah melambangkan garis Ismael. Keduanya menyoroti pentingnya kedua kota itu sebagai kiblat umat Islam.

Nabi terakhir yang lahir di garis keturunan Ismail, putra pertama Ibrahim, di Makkah diperintahkan kembali ke Yerusalem untuk shalat. Kemudian Allah meminta Nabi Muhammad beralih ke rumah Tuhan pertama di Makkah sebagai arah kiblat untuk beribadah.

Allah berfirman dalam Al Quran:

"Dan demikian (pula), Kami telah jadikan kamu umat islam, umat yang adik da pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasulullah menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan Kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui, siapa yang mengikuti Rasulullah dan siapa yang membelot (Dari Iman). Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang," (QS. Al Baqarah ayat 143). [yy/republika]

 


 

top