21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Sabar dan Syukur, Menggenapkan Iman

Sabar dan Syukur, Menggenapkan Iman

Fiqhislam.com - Perkataan sabar yang sering dijumpai di masyarakat. Ketika ada musibah, maka bersabarlah, itu sering disampaikan seseorang pada orang yang mengalami musibah. Maka sabar kita artikan sebagai sikap Tabah menjalani penderitaan saat menghadapi kejadian yang sulit (musibah, sesuatu yang masih dicari jalan keluarnya dan lain lain).

Istilah sabar ini muncul seratus kali dalam ayat-ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah. Seperti firman Allah, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beritakanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.' Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. al-Baqarah: 155-157).

Seorang guru berkata, "Barangsiapa tidak memperkuat kesabaran untuk menghadapi kesulitan hidup, ia menjadi lemah." Dan, "Kesabaran bagi iman adalah seperti kepala bagi tubuh. Barangsiapa tidak mempunyai kesabaran, berarti tidak mempunyai iman."

Kesabaran dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci penting, tanpa hal ini akan menimbulkan banyak masalah. Satu jam kita bersikap sabar, akan mendapatkan kebahagiaan yang panjang dan jika dalam satu jam nafsu amarah menguasainya akan mengakibatkan kesedihan yang panjang.

Sikap sabar bisa menjadikan tameng dalam masa kesulitan dan kemiskinan. Bagaimana kita harus bersikap agar menjadi seorang muslim yang baik? Pertama, berjuang demi iman dan agama. Kedua, sederhana dalam gaya hidup dan ketiga, sabar dalam kesulitan.

Kesabaran seseorang akan dibalas dengan kebaikan, jika orang yang bersabar itu tidak menceritakan kesabarannya pada orang lain dan tidak merusaknya dengan riya'. Seorang pemimpin yang mempunyai kesabaran yang tinggi, insyaa Allah akan selalu menemukan jalan keluar saat menghadapi masalah.

Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari hendaknya bergaya hidup sederhana, seperti yang telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Dengan sikap tersebut, persoalan dapat diurai dengan detail sehingga akan ketemu solusinya.

Gaya hidup sederhana akan menjadikan tameng untuk tidak menjadi bermegah-megahan yang menuruti hawa nafsu, secara otomatis paling tidak akan menghindari pemanfaatan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Akan lebih sempurna jika sikap sabar ini terus diikuti dengan sikap syukur. Ada banyak ayat al-Quran yang berisi tentang keutamaan dan keistimewaan syukur, seperti pada QS. al-Baqarah : 152, "Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu, agar kamu bersyukur." QS. ali-Imran: 144, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (murtad)? Barangsiapa berbalik kebelakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur."

Orang bersyukur adalah yang meyakini bahwa tidak ada yang memberi nikmat kecuali Allah. Jika seseorang menyadari bahwa nikmat yang diterima adalah berasal pemberian Allah, maka akan muncul kegembiraan dalam hati dan merasa senantiasa bersama Allah. Dengan begitu kita akan bersemangat melakukan apapun yang akan melahirkan sikap syukur, baik dengan hati, mulut dan organ tubuh.

Syukur dengan hati adalah selalu menghadirkan zikir dan tidak pernah lupa kepada-Nya. Adapun syukur dengan mulut adalah menampakkan kebahagiaan atas karunia Allah dengan pujian kepada-Nya. Syukur organ tubuh adalah memanfaatkan nikmat yg diberikan dengan menjaga diri dari kemaksiatan. Menjaga mata dan telinga terhadap perbuatan maksiat.

Dikisahkan Rasulullah pernah bertanya kepada seorang sahabat, "Bagaima kabarmu pagi ini ? Orang itu menjawab "baik", Rasulullah mengulangi pertanyaannya dan sahabat itu pun mengulangi jawabannya, sehingga pada kali ketiga ia menjawab, "Baik. Segala puji hanya milik Allah Swt dan aku bersyukur pada-Nya." Lalu Rasulullah menjawab, "Inilah yang aku maksudkan darimu."

Bahwa setiap saat kita bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, adalah keharusan seorang hamba. Nikmat dalam kehidupan sehari-hari yang tentunya tidak akan bisa dihitung karena banyaknya.

Sabar dari berbagai macam jenisnya adalah puncak dalam ubudiyah. Bahwa sabar adalah setengah bagian dari iman, sementara setengah bagian yang lain adalah syukur. Semoga kita termasuk hamba yg teguh dalam sikap sabar dan selalu mudah bersyukur kepad Allah Swt karena nikmat-nikmat-Nya. [yy/news.detik]

Oleh Aunur Rofiq

- Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025
- Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

 


 

Tags: Sabar | Syukur | Iman | Keimanan