18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Cara Berdzikir yang Disukai Allah SWT

Cara Berdzikir yang Disukai Allah SWT

Fiqhislam.com - Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu berdzikir dan bersyukur kepada-Nya serta melarang berbuat kufur kepada-Nya. Berdzikir merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya.

Berdzikir kepada Allah sangat penting bagi seorang Mukmin sehingga Alquran menyebutkan pada sekitar 50 ayat, begitu pula dalam sunnah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam. Adapun yang dimaksud dzikir bukan sekadar yang dilakukan dengan lisan tetapi juga dilakukan dengan pikiran, perasaan, dan perbuatan.

Secara garis besar, dzikir dibagi menjadi dua jenis, yakni lisan dan selain lisan antara lain pikiran, perasaan, dan perbuatan. Adapun dzikir lisan adalah mengucapkan kalimat thayyibah.

Sementara, dzikir pikiran adalah sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Ali Imran ayat 191, yaitu orang yang senantiasa mengingat Allah dalam berbagai kondisi dan senantiasa memikirkan penciptaan alam semesta beserta semua isinya, baik yang tampak maupun tidak. Juga meyakini tidak ada yang sia-sia dari apa yang diciptakan Allah SWT.

Alquran menyebutkan sejumlah cara dzikir yang disukai Allah yakni

- Dengan rendah diri (QS Al Anam ayat 63).

- Dengan suara lembut (QS Al Araf ayat 55).

- Dengan rasa takut kepada Allah (QS Al Araf 205).

- Dengan tidak mengeraskan suara (QS Al Araf 205).

Berdoa dan berdzikir yang keluar dari empat kategori tersebut termasuk kategori melampaui batas. Padahal Allah SWT, tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Abu Musa Al-Asyari berkata,"Kami bersama Rasulullah SAW sehingga jika kami mendekati suatu lembah kami bertahlil dan bertakbir dengan suara yang sangat keras sehingga Nabi bersabda, wahai sekalian manusia, rendahkan suara kalian, sesungguhnya kalian tidak menyeru Zat yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya Dia bersama kalian, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, dan Mahamendekat, Mahasuci asma-Nya, dan Mahamulia (HR Bukhari no.6838). [yy/republika]

Sumber: Tafir At Tahrir wat Tanwir, Ibnu Asyur; Afsir Al Wasith, Sayyid at-Thantawi; dan Tafsir AL Karim Ar Rahman, Abdurahman As Sa'di