<
pustaka.png
basmalah.png

Mengenal Bangsa Jin dan Kehidupannya

Mengenal Bangsa Jin dan Kehidupannya

Fiqhislam.com - Makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Bagaimana sebenarnya wujud jin tersebut? Dan bagaimana pula dengan setan dan iblis?

Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al Quran :

يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ لَا يَفۡتِنَـنَّكُمُ الشَّيۡطٰنُ كَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَيۡكُمۡ مِّنَ الۡجَـنَّةِ يَنۡزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءاٰتِهِمَا ؕ اِنَّهٗ يَرٰٮكُمۡ هُوَ وَقَبِيۡلُهٗ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡ‌ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّيٰطِيۡنَ اَوۡلِيَآءَ لِلَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ

"......Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka....." (QS. Al A'raf 27).

Bagaimana sebenarnya asal muasal kejadian jin ini? Syekh Badruddin bin Abdullah as-Syibly dalam kitabnya berjudul ‘Ajaib wa Gharaib al-Jin, mengungkapkan fakta-fakta terkait bangsa Jin. Berikut di antaranya:

1. Jin diciptakan

Syekh Badrudin mengutip pendapat tokoh salaf, di antaranya Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia mengatakan Allah menciptakan jin 2.000 tahun sebelum menciptakan Adam dan keturunannya. Jin didaulat tinggal dan mengurus bumi. Sedangkan para malaikat, menghuni langit dengan kualitas iman dan amal saleh yang jauh di atas bangsa Jin.

Dari bahan apa jin diciptakan? Bila manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah Ta'ala berfirman,

"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al Hijr: 27). "Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15).

Rasulullah bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

2. Jin mampu berubah wujud

Jin mempunyai kemampuan menjelma dan berubah wujud dalam bentuk makhluk nyata, seperti binatang, atau bahkan manusia.

Ini seperti yang pernah terjadi ketika jin dengan jenis setan menjelma menjadi Suraqah bin Malik bin Ja’syam lalu mendatangi kafir Quraisy, ketika mereka tengah bermusyawarah untuk terjun dalam Perang Badar. Peristiwa tersebut terekam dalam Al Quran surah al-Anfal ayat ke-48.

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

3. Aktivitas jin hampir sama dengan manusia

Aktivitas jin, pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur, dan beranak-pinak. Kendati para ulama tidak satu pendapat, ihwal apa jenis makanan mereka. Ada yang mengatakan di antara makanan jin adalah segala hal yang tidak disembelih dengan asma Allah.

Ada pula yang mengatakan menu favorit jin adalah tulang belulang. Berbeda dengan manusia, dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, bangsa jin makan dan minum menggunakan tangan kiri. Sementara kita, umat Islam diajarkan menggunakan tangan kanan untuk kedua aktivitas tersebut.

Kesamaan tersebut bukan hanya soal kebutuhan biologis sehari-hari, tetapi soal aspek ritual, pada dasarnya bangsa jin juga mendapat perintah yang sama yaitu beribadah kepada Allah SWT, seperti manusia. Mereka juga mendapat perintah dan larangan. (QS al-Jin : 1-2).

4. Jin takut pada manusia

Imam Mujahid bin Jabir pernah berpesan ketika seseorang melihat bangsa jin (setan, memedi, makhluk halus, dan lain-lain), janganlah lari tunggang langgang yang membuat diri sendiri trauma. “Tetapi hadapilah dia akan pergi sendiri,” pesannya.

Apakah jin juga mati?

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

"Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]

 

Mengenal Bangsa Jin dan Kehidupannya

Fiqhislam.com - Makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Bagaimana sebenarnya wujud jin tersebut? Dan bagaimana pula dengan setan dan iblis?

Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. Iblis adalah gembongnya setan.

Dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al Quran :

يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ لَا يَفۡتِنَـنَّكُمُ الشَّيۡطٰنُ كَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَيۡكُمۡ مِّنَ الۡجَـنَّةِ يَنۡزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءاٰتِهِمَا ؕ اِنَّهٗ يَرٰٮكُمۡ هُوَ وَقَبِيۡلُهٗ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡ‌ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّيٰطِيۡنَ اَوۡلِيَآءَ لِلَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ

"......Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka....." (QS. Al A'raf 27).

Bagaimana sebenarnya asal muasal kejadian jin ini? Syekh Badruddin bin Abdullah as-Syibly dalam kitabnya berjudul ‘Ajaib wa Gharaib al-Jin, mengungkapkan fakta-fakta terkait bangsa Jin. Berikut di antaranya:

1. Jin diciptakan

Syekh Badrudin mengutip pendapat tokoh salaf, di antaranya Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia mengatakan Allah menciptakan jin 2.000 tahun sebelum menciptakan Adam dan keturunannya. Jin didaulat tinggal dan mengurus bumi. Sedangkan para malaikat, menghuni langit dengan kualitas iman dan amal saleh yang jauh di atas bangsa Jin.

Dari bahan apa jin diciptakan? Bila manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah Ta'ala berfirman,

"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al Hijr: 27). "Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15).

Rasulullah bersabda, "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim dari Aisyah di dalam kitab Az- Zuhd dan Ahmad di dalam Al Musnad).

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

2. Jin mampu berubah wujud

Jin mempunyai kemampuan menjelma dan berubah wujud dalam bentuk makhluk nyata, seperti binatang, atau bahkan manusia.

Ini seperti yang pernah terjadi ketika jin dengan jenis setan menjelma menjadi Suraqah bin Malik bin Ja’syam lalu mendatangi kafir Quraisy, ketika mereka tengah bermusyawarah untuk terjun dalam Perang Badar. Peristiwa tersebut terekam dalam Al Quran surah al-Anfal ayat ke-48.

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

3. Aktivitas jin hampir sama dengan manusia

Aktivitas jin, pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur, dan beranak-pinak. Kendati para ulama tidak satu pendapat, ihwal apa jenis makanan mereka. Ada yang mengatakan di antara makanan jin adalah segala hal yang tidak disembelih dengan asma Allah.

Ada pula yang mengatakan menu favorit jin adalah tulang belulang. Berbeda dengan manusia, dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, bangsa jin makan dan minum menggunakan tangan kiri. Sementara kita, umat Islam diajarkan menggunakan tangan kanan untuk kedua aktivitas tersebut.

Kesamaan tersebut bukan hanya soal kebutuhan biologis sehari-hari, tetapi soal aspek ritual, pada dasarnya bangsa jin juga mendapat perintah yang sama yaitu beribadah kepada Allah SWT, seperti manusia. Mereka juga mendapat perintah dan larangan. (QS al-Jin : 1-2).

4. Jin takut pada manusia

Imam Mujahid bin Jabir pernah berpesan ketika seseorang melihat bangsa jin (setan, memedi, makhluk halus, dan lain-lain), janganlah lari tunggang langgang yang membuat diri sendiri trauma. “Tetapi hadapilah dia akan pergi sendiri,” pesannya.

Apakah jin juga mati?

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

"Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]

 

Eksistensi Jin dalam Al Quran

Menyingkap Eksistensi Jin dalam Al Quran


Fiqhislam.com - Setiap muslim yang beriman kepada Allah Taala diwajibkan memercayai keberadaan golongan jin . Jin merupakan makhluk ciptaaan Allah yang memiliki tujuan yang sama dengan manusia yaitu beribadah kepada Sang Khalik.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS adz-Dzariyat: 56).

"Sumber pengetahuan tentang jin, iblis dan setan adalah wahyu (Al Quran dan hadits). Dengan demikian, pengetahuan kita tentang mereka itu dapat diterima karena bersumber kepada sumber yang sangat valid dan akurat," ujar Muchammad Ichsan dalam Pengajian Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Ichsan menerangkan bahwa jin tergolong dalam al-ghaibiyyat, selain setan dan iblis. Al-Ghaibiyyat berarti entitas yang tidak dapat ditakar dengan kemampuan indera manusia. Meski tak dapat dirasakan keberadaannya oleh manusia, Ichsan menegaskan bahwa orang-orang bertakwa harus percaya dan yakin akan eksistensi hal-hal yang al-ghaibiyyat sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah ayat 2-3.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

"Adanya jin, setan dan iblis termasuk ke dalam min al-ma’lum min al-din bil-dharurah (hal-hal yang diketahui umum dari urusan agama). Orang yang tidak percaya adanya jin, setan dan iblis itu akan tergolong menjadi orang kafir, karena tidak percaya dengan Al Quran dan hadits yang telah menceritakannya," tegas Ichsan.

Jin dan manusia sama-sama hidup di muka bumi ini meskipun berbeda alam. Alam jin adalah alam yang berdiri sendiri, ia terpisah dan berbeda dengan alam manusia, namun keduanya hidup dalam dunia yang sama, kadang tinggal dalam rumah yang dibangun atau didiami manusia.

"Jin dan manusia sama-sama diciptakan Allah. Namun menurut banyak riwayat bangsa jin sudah lebih dulu diciptakan sebelum manusia, jadi jumlah bangsa jin lebih banyak dari pada manusia," terang Ichsan.

Allah berfirman:

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS Al-Hijr: 27).

Ichsan menerangkan bahwa hikmah penciptaan golongan jin, setan dan iblis adalah untuk menguji Adam dan keturunannya, apakah mengikuti perintah Allah atau perintah setan.

"Iman seseorang itu bernilai karena telah susah payah melawan setan yang telah bersumpah untuk menyesatkannya, sehingga ia layak mendapat balasan yang setimpal," ujar Ichsan. [yy/sindonews]

 

top