18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Menyaksikan Keadilan Allah

Menyaksikan Keadilan Allah

Fiqhislam.com - Nabi Musa AS merupakan salah seorang Ulul Azmi yang mulia. Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada Bani Israil itu menerima Kitab Taurat. Kisahnya banyak disampaikan dalam Alquran.

Allah memuliakan Nabi Musa AS. Sejak masih kecil, beliau diselamatkan dari incaran Firaun yang hendak membunuh semua bayi lelaki keturunan Israil di Mesir. Ia pun tumbuh besar di istana Firaun. Sesudah diangkat menjadi nabi, Musa AS diperintahkan oleh Allah untuk menyerukan kebenaran kepada si raja Mesir tersebut.

Saat bermunajat di Bukit Thursina, putra Imran tersebut diperkenankan Allah Ta’ala untuk berbicara dengan-Nya tanpa perantaraan malaikat. Ini adalah sebuah keistimewaan. Bergenerasi-generasi demikian, kekhususan tersebut juga diperoleh Rasulullah Muhammad SAW, yakni tatkala beliau Isra ke langit teratas.

Selama beribadah sendirian di Thursina, Nabi Musa AS kian mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Pada suatu hari, terbersit dalam benaknya untuk mengetahui seperti apa wujud keadilan Allah Azza wa Jalla.

Ia sangat penasaran, bagaimana Allah menjatuhkan keadilan-Nya atas makhluk-makhluk-Nya di dunia. Maka, sosok yang diberi mukjizat membelah Laut Merah itu berdoa kepada Rabbnya, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku keadilan dari sisi-Mu?”

“Sesungguhnya kamu adalah seorang yang terburu-buru. Kau sungguh tidak akan mampu bersabar,” firman Allah SWT kepada nabi-Nya itu.

“Insya Allah, hamba dapat bersabar dengan apa yang Engkau tentukan terjadi, ya Allah,” jawab Nabi Musa dengan nada membujuk.

Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya itu. Nabi Musa diperintahkan untuk pergi ke dekat sebuah mata air. Di sana, dirinya lalu bersembunyi di balik batu cukup besar. Ia pun disuruh untuk menyaksikan peristiwa yang akan terjadi sebentar lagi.

“Di sana, kamu akan melihat sebagian dari kekuasaan dan ilmu-Ku,” firman Allah Azza wa Jalla.

Tidak lama kemudian, dari jarak cukup jauh Nabi Musa melihat seorang penunggang kuda mendekati oasis tersebut. Pria ini lalu turun dari kudanya, mencuci tangan serta wajahnya, dan minum. Di sisi kuda itu, tergeletak tas milik lelaki tersebut. Penutupnya sedikit terbuka dan menampakkan koin-koin emas begitu banyaknya.

Lelaki tersebut kemudian melaksanakan shalat. Sesudah itu, ia kembali menaiki kudanya. Sayang sekali, tas yang berisi keping-keping emas miliknya itu tertinggal. Melihat itu, Nabi Musa nyaris berteriak memanggil orang tersebut. Akan tetapi, yang hendak dipanggil sudah terlebih dahulu pergi sembari terus memacu kudanya. [yy/republika]

Oleh Hasanaul Rizqa
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang anak kecil. Masih dari balik batu besar, Nabi Musa memperhatikan bahwa bocah itu melihat tas yang telah ditinggalkan si penunggang kuda. Tanpa basa-basi, anak ini meraih tas tersebut dan membawanya pergi. Hampir saja Nabi Musa berteriak memanggilnya agar jangan mengambil barang yang bukan haknya. Namun, si bocah sudah beranjak pergi.

Tak lama berselang, seorang kakek mendekati sumber air ini. Nabi Musa mengetahui bahwa pria tua tersebut buta karena melihat dari gelagatnya. Setelah minum, si kakek mengambil air wudhu, lalu melaksanakan shalat.

Tiba-tiba, penunggang kuda yang tadi kembali ke oasis tersebut. Tampaknya, ia sudah menyadari bahwa tasnya yang berisi koin-koin emas tertinggal di sana. Dijumpainya si kakek tunanetra.

“Hai orang buta! Kau mengambil tasku yang berisi seribu dinar di sini, kan? Mengaku saja! Siapa lagi pelakunya kalau bukan kau!?” kata pria muda tersebut.

“Bagaimana mungkin aku tahu dan melihat tasmu? Aku baru saja datang di sini dan langsung wudhu, kemudian shalat. Lagipula, kedua mataku buta!” jawabnya.

Si penunggang kuda seketika marah mendengar alasan kakek tersebut. Tanpa ragu, ia menghunuskan pedangnya. Leher si kakek ditebasnya hingga tewas di tempat. Setelah itu, jasad kakek tersebut digeledahnya. Namun, tas yang dicari-carinya tak kunjung ditemukan. Dengan raut wajah kesal, lelaki muda ini pun meninggalkan oasis tersebut.

Nabi Musa hanya diam menyaksikan peristiwa itu. Saudara Nabi Harun ini lantas bermunajat, “Wahai Tuhanku, hamba telah bersabar tidak melakukan apa-apa selain menyaksikan kejadian yang ada di depan mataku. Hamba pun meyakini bahwa Engkau sungguh adalah Zat Yang Maha Adil. Akan tetapi, mohon terangkanlah kepadaku maksud kejadian ini.”

Turunlah Malaikat Jibril kepadanya. “Wahai Musa,” kata Jibril, “Tuhanmu menyuruhku untuk menjelaskan hikmah di balik peristiwa itu yang belum kamu ketahui maksudnya.”

Jibril mengatakan, bocah yang mengambil tas itu sesungguhnya telah mengambil hak miliknya sendiri. Sebab, ayah anak tersebut pernah bekerja sebagai buruh dari si penunggang kuda. Selama bertahun-tahun bekerja, tidak pernah sekalipun bapak ini memperoleh bayaran yang semestinya. Dan, kalau dihitung, jumlah uang emas dalam tas itu sama dengan penghasilan yang seharusnya diterima almarhum.

Adapun kakek buta yang ditebas si penunggang kuda itu merupakan pembunuh. Ya, orang tua itu sebelumnya telah membunuh bapak dari si bocah tadi. Maka, kejadian yang dialaminya di dekat oasis tersebut berarti bahwa dirinya telah mendapatkan hukuman qisash.

Demikianlah, setiap orang telah mendapatkan haknya masing-masing dalam peristiwa tersebut. Kalau dilihat hanya dari perspektif orang biasa, tentu kesimpulannya semata-mata bahwa ada kasus pencurian dan pembunuhan di sana. Padahal, di balik itu ada keadilan Allah yang terjadi.

Usai mendengar penjelasan Malaikat Jibril, Nabi Musa sujud kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

Benarlah firman Allah dalam surah al-Zalzalah ayat 7-8. Artinya, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” [yy/republika]

Oleh Hasanul Rizqa