20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Aib?

Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Aib?

Fiqhislam.com - Mungkinkah kita mencari teman tanpa aib ? Lalu bagaimana dengan kita sendiri, adakah aib yang kita punya? Mungkinkah pula orang lain mencari teman seperti kita mau tersebut?.

Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, "Barang siapa yang mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman," (Sya'bul Iman no 7887).

Karena itu, jika semua orang salah di mata, berarti ada yang harus diperbaiki di dalam hati. Kenapa? karena sifat ini membuatnya tidak akan mempunyai teman dan tidak akan merasakan nikmatnya persahabatan. Lantas apa yang harus kita sikapi dengan aib ini?

Menurut al-Fairuz Abadzi dalam Al-Qamus al-Muhith, secara bahasa, aib العيب)) dapat didefinisikan sebagai cacat atau kekurangan . Bentuk jamaknya adalah uyub. Adapun sesuatu yang memiliki aib, dalam bahasa arab disebut ma’ib.

Dalam Kitab ­ad-Dur al-Mukhtar, Al-Hasfaki menyampaikan bahwa sebagian ulama madzhab Hanafi menjelaskan aib dengan pengertian: “Suatu bagian yang tidak ada dari asal penciptaanya dan hal itu dianggap sebagai bentuk kekurangan”.

Maka aib dapat diartikan sebuah cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, atau hal yang tidak baik tentangnya. Aib dapat berupa peristiwa, keadaan, atau suatu deskripsi.

Kembali ke hal mungkinkah kita mencari teman tanpa aib ini? Ustadz Raehanul Bahraen, aktivis dakwah asal Yogyakarta ini menjelaskan, kita hendaknya memperbaiki dan mengkritik diri sendiri. Karena memperbaiki dan mengkritik orang lain itu tidak perlu belajar.

Soal aib, coba gunakan cermin untuk melihat kekurangan diri. Jerawat kecil di wajah kita sangat diperhatikan. Jangan gunakan teropong untuk melihat kesalahan kecil orang lain.

Perhatikan perkataan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه

Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Adabul Mufrad no. 592, shahih)

Jika semua orang salah di mata. Berarti ada yang perlu diperbaiki pada hati. Karena sifat ini membuatnya tidak akan punya teman dan tidak akan merasakan nikmatnya persahabatan.

Menurut Ustadz Raehanul bahraen dalam laman dakwah onlinenya ini menyebutkan, seseorang tidak boleh sudah merasa baik. Karena kalau sudah merasa baik, sulit untuk diperbaiki dan memperbaiki. "Inilah hakikat dari tawaadhu’. Selalu merasa diri belum baik dan merasa orang lain lebih baik dari dirinya,"paparnya.

Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata,

إن عرض لك إبليس بأن لك فضلاً على أحد من أهل الإسلام فانظر، فإن كان أكبر منك فقل قد سبقني هذا بالإيمان والعمل الصالح فهو خير مني، وإن كان أصغر منك فقل قد سبقت هذا بالمعاصي والذنوب واستوجبت العقوبة فهو خير مني، فإنك لا ترى أحداً من أهل الإسلام إلا أكبر منك أو أصغر منك.

Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’ 2/226].

Dengan merasa tidak lebih baik/mulia dari orang lain, seorang yang tawaadhu’ akan berusaha:

1. Memuliakan orang lain karena menganggap orang lain lebih baik serta ia tidak mudah meremehkan orang lain. Sikap ini akan memudahkan ia berinteraksi dan melahirkan ahklak yang mulia.

2. Berusaha terus memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas diri karena ia merasa ada yang perlu ditingkatkan. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]