18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Al-Mudzill, Yang Maha Menghinakan

Al-Mudzill, Yang Maha Menghinakan

Fiqhislam.com - Sifat pasangan Al-Mu’izz (yang Maha Memuliakan) adalah Al-Mudzill (yang Maha Menghinakan). Keduanya adalah dari sekian banyak asma Allah SWT yang mulia (asma’ al-husna). Pemasangan dua sifat yang berlawanan ini untuk menunjukkan Kemahakuasaan dan Kemahapenentuan Allah SWT yang tiada tandingnya.

Kata Al-Mudzill dari kata dzalla-yadzillu-dzillatan, yang artinya rendah, hina. Menurut Imam ar-Ragib al-Asfahany, adz-adzillu berarti kondisi kalah, tunduk.

Artinya, bisa saja terjadi kekalahan dan ketundukannya tersebut tersebab tekanan kesukaran atau mungkin karena memang karena tidak ada kekuasaan/kekuatan untuk mampu menolaknya. Jadi Al-Mudzill bisa diartikan, Allah SWT berkuasa untuk meletakkan makhluk-Nya menjadi rendah dan hina karena memang Allah SWT Tak Terkalahkan dan Tak Tertundukkan. Mau tak mau manusia selaku makhluk-Nya harus menrimanya atas kenyataan itu.

Dalam Alquran, Al-Mudzill dikaitkan dengan dua hal. Pertama, berkaitan dengan kehidupan di dunia yang fana ini.

Di sini dibagi lagi menjadi dua hal, yaitu yang pertama, menyangkut masalah kekuasaan. Bahwa kekuasaan adalah konsep yang sangat disadarai oleh umat manusia, kapan saja dan di mana saja.

Karena apa yang disebut kekuasaan itu adalah konsep, maka kekuasaan itu abstrak tetapi ada dan mau tak mau secara jujur umat manusia mengakuinya. Barangsiapa yang kebetulan memiliki atau diberi kekuasaan, maka orang lain yang tidak memiliki atau tidak mampu memilikinya, dia akan tunduk dan mengakui kalah di depan pemiik kekuasaan tersebut. karena itu, kekuasaan di mata manusia menjadi bernilai.

Siapa pemilik kekuasaan, maka dia dipandang memiliki status sosial lebih tinggi dari pada rata-rata orang. Dia akan dianggap masyarakat sebagai manusia yang mendapat kemuliaan, sekalipun sebenarnya kemuliaan tersebut adalah karunia Allah SWT. Kemudian, kalau kekuasaan tersebut hilang dari tangan, maka orang menjadi merasa hina.

Kedua, yang menyangkut masalah kerohanian. Bahwa dalam diri setiap umat manusia dalam setiap detik kehidupannya senantiasa terjadi tarik-menarik antara fujur dan taqwa.

Barangsiapa lebih kuat tarikannya ke arah taqwa, maka dialah pihak yang beruntung dan menang. Sebaliknya, barangsiapa yang dalam dirinya terjadi tarikan ke arah fujur lebih kuat daripada tarikan ketakwaannya, maka dia akan mengalami kekotoran rohani dan kekalahan. Kondisi kotor-rohani yang berlanjut pada kekalahan inilah yang disebut adz-dzillat (rendah, hina).

Kedua, berkaitan dengan kehidupan nanti di akhirat. Para ahli neraka digambarkan oleh Allah SWT sebagai orang-orang yang tunduk muka karena merasa hina dan lesu pandangan mata meraka (QS Asy-Syuura’, 42: 45).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka makna Al-Mudzill adalah bahwa di satu sisi menunjukkan secara jelas betapa kuasa Allah SWT menentukan mulia-hinanya manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Di sisi lain, manusia diberi kebebasan memilih, apakah ingin menjadi manusia mulia yang muttaqin dan ahli surga, ataukah ingin menjadi manusia hina yang berwatak fujjar dan ahli neraka jahim. Wallahu a’lam bishshawab. [yy/republika]

Oleh Mohammad Damami Zain, Dosen Tetap UIN Suka Yogyakarta