19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Buah dari Keimanan

Buah dari Keimanan

Fiqhislam.com - Kebahagiaan adalah dambaan setiap insan. Bahagia di dunia dan di keabadian. Kebahagiaan akan senantiasa mengantarkan kita pada ketenangan. Setiap insan hendaknya bersahaja menjadikan keimanan sebagai jalan istimewa untuk menjemput kebahagiaan.

Dari Umar bin Khattab RA ia menceritakan tentang kisah kehadiran malaikat Jibril yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang iman. Malaikat Jibril pun berkata, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang iman!”. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, setiap kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”. Lalu Jibril berkata, “Engkau benar.” (HR Muslim).

Sedikitnya, ada empat buah segar yang dapat kita petik dari pohon keimanan.

Pertama, ketenangan hati. Hati merupakan nakhoda bagi jiwa dan raga. Dengan keimanan yang selalu terpatri pada diri, jiwa dan raga pun terkendali serta senantiasa menjadi jalan untuk selalu mengingat Sang Ilahi.

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar Ra’d: 28).

Kedua, rezeki yang berlimpah. Rezeki tak selalu tentang kekayaan dan jabatan. Tapi, rezeki terletak pada segala hal positif yang saat ini kita miliki, terima, dan lakukan. Semua itu terlimpahkan karena-Nya melalui kekuatan iman dan takwa yang senantiasa melengkapi perjalanan kehidupan.

Allah SWT berfirman, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS al-A’raf: 96).

Ketiga, ampunan atas dosa-dosa. Setiap insan tidak akan terlepas dari salah dan khilaf. Namun, kekuatan iman disertai takwa dapat menjauhkan kita dari keduanya dan menjadi perantara untuk mendapatkan ampunan dari-Nya.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31).

Keempat, surga yang menawan. Sungguh, Allah tidak akan mengingkari setiap janji-Nya. Ia mencintai siapa saja yang bersahaja memalingkan dirinya pada nilai-nilai keburukan. Memenangkan siapa saja yang mengunggulkan nilai-nilai kebaikan melalui cahaya keimanan dan ketakwaan.

Allah SWT berfirman, “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Ridha Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS at-Taubah: 72).

Ibarat air jernih yang mengalir dari mata air pegunungan. Iman adalah sumber ketenangan. Jembatan elite menuju kebahagiaan. Tanpanya, kehidupan tersaji tanpa keindahan. Lewat iman, keridhaan-Nya didapatkan. Wallahu a’lam. [yy/republika]

Oleh Muhammad Yoga Firdaus