pustaka.png
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Mengejar Pahala Amal Akhirat

Mengejar Pahala Amal Akhirat

Fiqhislam.com - Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan dunia memang untuk manusia. Tetapi, manusia diciptakan bukan untuk dunia. Manusia diciptakan untuk akhirat, karena itulah perlunya mengejar amal akhirat .

Tentang hal tersebut, Allah mengingatkan manusia dalam Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 77.

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash : 77).

Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa manusia diminta untuk mencari pahala negeri akhirat. Yakni dengan mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Tentang kehidupan dunia, Allah mengingatkan jangan melupakannya, karena manusia memang hidup di dunia.

Hidup di dunia bersenang-senang dengan wajar saja, yakni dengan sesuatu hal yang halal, tanpa berlebihan, serta berhati-hati. Dan berbuat baiklah kepada orang-orang. Terutama gemar bersedekah dan berinfak. Jadi, untuk akhirat harus diupayakan dan dicari bahkan dikejar. Sedangkan untuk dunia, cuma perlu diingatkan jangan dilupakan. Karena jika dibalik, dunia yang dikejar-kejar, maka manusia akan merugi.

Perlombaan mengejar dunia tidak ada ujungnya dan penuh tipuan. Karena sifat manusia tidak akan puas dengan dunia kecuali setelah mati. Barulah manusia berhenti mengejar dunia setelah mulut penuh terisi tanah (mati).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

,ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻻِﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﺍﺩِﻳًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻫَﺐٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺩِﻳَﺎﻥِ ، ﻭَﻟَﻦْ ﻳَﻤْﻸَ ﻓَﺎﻩُ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﺘُّﺮَﺍﺏُ ، ﻭَﻳَﺘُﻮﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” ( Muttafaqun ‘alaih).

Dunia itu ibaratnya jalannya semakin menyempit tapi tak berujung. Lalu apa yang terjadi jika beberapa orang-orang berlomba memasuki jalan yang sempit. Mau tidak mau pasti saling sikut dan saling menjatuhkan agar berada di garis terdepan.

Ustadz Raehanul Bahraen mengatakan, terkadang manusia sudah sampai titik nyaman namun tetap tidak puas. Misal, kehidupan nyaman, gaji sudah cukup besar, anak-anak sudah sukses, rumah dan kendaraan sudah ada, hidup sudah tenang dan nyaman, tapi karena merasa harus terus berlomba mengejar dunia, dia akan berada di jalan yang semakin sempit.

"Orang yang terus mengejar dunia, hidupnya akan terasa susah. Ada saatnya hendaklah manusia berjalan santai saja. Menikmati setelah lelah berlari," ungkap dai asal Yogjakarta ini.

Hendaklah manusia hidup dengan qana’ah atau merasa cukup. Merasa puas dan ridha dengan karunia Allah Ta'ala. Sebaliknya, kalau tentang akhirat, maka petunjuk dari Allah Ta'ala adalah umat Islam disuruh berlomba-lomba, mencari, dan mengejar. Tidak boleh merasa cukup dan merasa sudah beramal.

Salah satu tanda muslimin yang perhatian pada akhiratnya adalah menjaga shalatnya. Jika ingin memperbaiki hidup, maka mulailah dengan memperbaiki shalat. Mengapa harus memperbaiki shalat terlebih dahulu untuk menjadi lebih baik? Karena memulai perbaikan diri dengan memperbaiki shalat terlebih dahulu memang adalah hal yang tepat dan benar.⁣

Karena shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam menghamba kepada Allah Ta'ala. Dan apabila shalat sudah baik menurut Allah, maka sudah jelas kehidupan dunia sekaligus kehidupan akhirat juga akan membaik.⁣

Shalat merupakan tiang agama. Jagalah shalat agar kehidupan tetap terjaga dengan baik. Jika shalat telah baik, maka Allah akan menjaga kehidupan hambaNya dan menjaga apa-apa yang dibutuhkan dalam hidup seorang muslim. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]