15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

4 Langkah Menemukan Aib Diri

4 Langkah Menemukan Aib Diri

Fiqhislam.com - Menemukan aib sendiri jauh lebih mulia daripada mengumbar aib orang lain. Melihat aib sendiri juga jauh lebih baik daripada melihat aib orang lain. Karena itu, bagi seorang muslim menilai aib sendiri lebih penting daripada menilai aib orang lain.

Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, karya Ibnu Qudamah Almaqdisi disebutkan setidaknya ada empat langkah untuk menemukan aib sendiri ini. Antara lain sebagai berikut:

1. Duduklah di hadapan seorang syekh atau ulama yang tajam mata batinnya dalam melihat aib jiwa dan bisa melihat cela yang tidak terlihat.

Syekh tersebut akan memberitahukan aibnya dan cara menyembuhkannya. syekh seperti ini jarang ditemukan di zaman sekarang . Orang yang menemukan syekh atau ulama seperti tipe di atas, maka dia sejatinya telah menemukan seorang dokter yang handal sehingga ia tidak meninggalkan syekh tersebut.

2. Mencari teman yang jujur.

Teman yang jujur, akan peka mata batinnya dan tentu saja taat menjalankan syariat-syariat-Nya. Dia bisa menjadikan temannya itu sebagai pengawas atas dirinya untuk mengamati berbagai keadaan dan perbuatannya. Mengingatkannya terhadap akhlak dan perbuatan yang tidak disenangi.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu'anhu pernah berkata, “Semoga Allah merahmati orang-orang yang menunjukkan kepada kami aib-aib kami.”

Ketika Salman radhiyallahu'anhu datang, Umar bertanya kepadanya mengenai aib-aibnya. Lalu Salman berkata, “Aku mendengar bahwa engkau memakan dua lauk sekaligus, dan bahwa engkau memiliki dua pakaian indah, yaitu satu pakaian indah untuk siang hari dan satu pakaian indah untuk malam hari.”

Umar bertanya, “Apakah ada berita lain yang tidak kau dengar? Iya menjawab tidak. Lalu Umar bertanya lagi, “Kalau yang ini sudah diwakili oleh orang lain.”

Umar juga bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu'anhu. “Apakah aku termasuk orang-orang munafik?” Umar radhiyallahu'anhu bertanya demikian karena barangsiapa yang tingkat kesadarannya telah tinggi, maka ia semakin curiga terhadap diri sendiri.

Hanya saja, teman seperti ini sulit ditemukan karena sedikit sekali teman yang tidak menjilat sehingga ia mau memberitahukan aib, atau yang tidak dengki, sehingga ia tidak memberitahukan melebihi yang wajib. Dahulu, generasi salaf sangat senang terhadap orang yang mengingatkan aib mereka. Namun sekarang, orang yang paling sering dibenci adalah orang yang memberitahukan aib kita.

Hal di atas (benci kepada orang yang mengingatkan aib kita), merupakan bukti lemahnya iman kita, karena akhlak yang buruk itu seperti kalajengking. Seandainya ada orang yang mengingatkan kita akan adanya kalajengking di balik pakaian salah seorang di antara kita, maka kita akan memberinya penghargaan dan sibuk membunuh kalajengking itu. Padahal akhlak yang buruk itu lebih besar bahasanya daripada kalajengking.

3. Mencari informasi tentang aib diri sendiri dari ucapan musuh

Karena pandangan kebencian itu akan mengungkapkan berbagai keburukan. Manfaat yang dipetik seseorang dari musuh sengit yang menyebutkan aib-aibnya itu lebih besar daripada manfaat yang dipetik dari seorang teman penjilat yang menutupi aib-aibnya.

4. Bergaul dengan banyak orang

Setiap hal yang ia lihat tercela di antara manusia itu ia hendaknya menjauhi.

Nah muslimah, senang dan berterima kasih karena orang lain sudah menyebutkan aib kita adalah sifat mulia yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang beriman. Dengan mengetahui aib sendiri, maka kita akan berusaha untuk selelau memperbaikinya.

Hanya saja, yang terkadang menjadi masalah adalah apakah kita siap jika ada teman akrab yang menunjukkan aib kita? Cara terbaik untuk menjadi ikhlas ketika ada orang lain yang menunjukkan aib kita adalah dengan bersyukur. Bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah mengirimkan orang lain untuk menunjukkan aib kita. Jika kita sabar dan sadar bahwa aib kita memang harus dibuang dan segera memperbaiki diri, insya Allah kita akan merasa senang jika ada yang menunjukkan aib diri kita. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]