8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Cara Mengenal Allah Ta'ala agar Taubat Diterima

Cara Mengenal Allah Ta'ala agar Taubat Diterima

Fiqhislam.com - Sebagai seorang muslim, kita perlu mengetahui cara mengenal Allah Subhanahu wa ta'ala agar taubat kita diterima oleh-Nya. Kenapa kita perlu mengenal Allah? Bagaimana pula caranya?

Setiap orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semestinya mengenal dirinya dengan baik. Adapun cara mengenal diri dengan baik adalah mengenal kelemahan diri sendiri. Dengan mengenal kelemahan maka akan muncul kesadaran untuk mengaku bahwa diri kita lemah dan hina di hadapan Allah Ta'ala.

Kondisi merasa hina , merasa tidak pantas, merasa lemah di hadapan Allah Ta'ala itulah disebut dengan At-Taubah atau disebut taubat. Dan istilah ini muncul di kalangan ulama diambil dari Al-Quran dan sunnah. Misalnya dalam Quran surat An-Nur : ayat 31.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS An-Nur : 31)

Jadi perintah taubat itu bukan kepada orang kafir, melainkan untuk kita orang yg beriman. Hal itu karena orang beriman pasti punya banyak kesalahan baik yang disadari dan yang tidak disadari. Bahkan juga ada kesalahan yang tampak maupun tersembunyi.

Dan ternyata kesalahan yang tersembunyi adalah yang paling banyak dibanding yang tampak. Oleh karena itu ketika para ulama dipuji, mereka malah menangis karena mereka sangat mengerti aurat serta kelemahan mereka sendiri. "Pujian dari kalian itu bukan pujian untuk ulama melainkan keindahan dari sifat Allah Ta'ala yang dipancarkan dan dipantulkan lewat para ulama itu," demikian kata Buya Dr. Arrazy Hasyim, Lc, MA, dalam sebuah kajiannya di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Buya Arrazy, seperti yang dijelaskan dalam karya Syekh Muhammad Fadhil Al-Jaelani Al-Hasani tentang lelemahan Rlrohani para pencari Allah Ta'ala, ada beberapa tahapan jika seorang muslim ingin mendekat kepada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Tahapan pertama jika seseorang ingin mendekat kepada Allah Ta'ala adalah mengenal kelemahan diri sendiri yang kita sebut dengan taubat.

Tahap Kedua, taubat itu kemudian muncul setelah sadar maka muncul pengakuan kepada Allah karena didalam islam hanya ada pengakuan kepada Allah Ta'ala. Mengaku bahwa dia telah berbuat salah dan dosa.

Tahap ketiga, yaitu penyesalan. Dia harus menyesal dan berjanji pada Allah untuk tidak mengulangi dosanya itu.

Dan, dari tiga tahapan taubat itu, ada aplikasinya, yakni :

1. An-Nadem artinya menyesal. Jika orang menyesal biasanya muncul tangis. Itu sebabnya kebanyakan orang menangis dalam tradisi ahli ruhani dikarenakan penyesalan terhadap masa lalu.

2. Al-istighfar, bermakna memohon supaya Allah Ta'ala mengampuni si hamba.

Istighfar berasal dari kata ghafaro yang berarti menutup aib dan kesalahan. Maka istaghfar dalam bahasa arab terdapat yang artinya 'ya Allah aku memohon kepada Engkau supaya menutup aib dan kesalahanku di hadapan-Mu'.

Namun, sayangnya kebanyakan orang bertaubat itu minta ampun dan minta aibnya ditutup di sisi makhluk bukan di sisi Allah Ta'ala. Padahal, jika tertutup di sisi mahkhluk namun Allah masih memandangnya sebagai pendosa.

3. Al-Haqiqoh adalah kesadaran total dan kembali kepada Allah secara ruhani. Taubat harus disadari di dalam diri. Dan menegaskan bahwa hatinya tidak akan mau lagi kembali kepada kesalahan yang lama. Orang yang taubatnya benar maka hati itu berat untuk kembali ke masa lalu yang penuh dosa.

Jika tiga hal tersebut di atas sudah ada pada kita, sebetulnya kita sudah diberi tiga rukun dari taubat. Maka dengan ini sahlah orang ini disebut sebagai "tawab" yang artinya orang yg suka bertaubat. Maka gelar orang yang suka bertaubat disebut "Tawwabin". Namun jika ada satu rukun yang kurang maka tidak sah taubatnya maka dari itu harus lengkap ketiga rukun tersebut. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]