14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Fadhilah Tafakur Menurut para Ahli Hikmah

Fadhilah Tafakur Menurut para Ahli Hikmah

Fiqhislam.com - Dalam kitabnya Al-Munqizh Min Al-Dhalah, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengisahkan fadhilah tafakur yang dilakukan para ahli hikmah (orang yang mengetahui rahasia syariat agama). Al-Ghazali menceritakan pada suatu tempat tidak jauh dari Makkah dulu pernah ada seorang wanita bijaksana berkata.

"Andaikata orang yang bertakwa memikirkan apa yang ada di akhirat, pastilah mereka tak akan hidup lengah di dunia ini,"

Luqman Al-Hakim, merupakan seorang yang terkenal memiliki budi pekerti yang luhur (budiman). Ia amatlah suka duduk lama seorang diri dan selalu ditegur oleh majikan. "Lukman, engkau suka duduk lama-lama seorang diri. Carilah teman duduk lebih baik."

Lukman menjawab. "Duduk seorang diri lebih tenang untuk berpikir. Lama berpikir dengan tenang membuka jalan ke surga."

Wahb berkata, "Pikiran itu sumber ilmu, sedangkan ilmu sumber amal." Umar bin Abdul Aziz menyatakan, "Tafakur merenungkan nikmat Tuhan ialah salah satu ibadah yang utama."

Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sahl yang sedang berdiam diri (sambil tafakur). "Sudah sampai dimana? Sahl menjawab, "Shirath, maksudnya dalam tafakur itu sudah sampai ke persoalan shirat al mustaqim."

Bisyr pernah berkata, "Andaikata orang merenungkan kebesaran Tuhan, niscaya ia tak akan sampai hati berbuat maksiat."

Menurut Ibnu Abbas sholat dua rakaat yang sederhana, tetapi dengan penuh tafakur lebih baik daripada sholat sepanjang malam dengan hati kosong. Abu Syuraih yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti dan duduk menangis sambil menutup muka dengan bajunya.

"Mengapa Tuan menangis?" tanya salah seorang yang melihatnya.

"Saya bertafakur. Merenungkan diri. Umar sudah tua, amal tak ada dan ajal sudah dekat," ujar Abu Syuraih.

Dalam hal ini Abu Sulaiman berkata, "Bisakah matamu menangis dan hatimu bertafakur." Selanjutnya dikatakan, "Memikirkan masalah-masalah dunia berarti membangun hijab (tirai) untuk akhirat dan hukum bagi Ahlul wilayah.

Sebaliknya, bertafakur merenungkan akhirat dapat menimbulkan hikmah dan menghidupkan hati. Demikian juga kata Hatim, "Dengan pengalaman, bertambah pengetahuan, dengan dzikir bertambah rasa cinta. Dan, dengan bertafakur menambah rasa takwa.

Ibnu Abbas menyatakan, "Tafakur tentang kebaikan mengajak orang berbuat baik, sedangkan menyesali perbuatan jahat menyebabkan orang meninggalkannya."

Dalam salah satu kitab suci Allah berfirman. "Aku dapat menerima semua ucapan ahli pikir, sebab yang kulihat ialah niat dan tujuannya. Kalau niat dan tujuannya karena Aku, maka Aku anggap diamnya itu tafakur dan bicaranya adalah dzikir sekalipun tidak diucapkan."

Hasan Al Basri menyatakan orang berbudi selalu sadar dan berpikir sehingga hatinya menjadi sumber hikmah. [yy/republika]

 

Fadhilah Tafakur Menurut para Ahli Hikmah

Fiqhislam.com - Dalam kitabnya Al-Munqizh Min Al-Dhalah, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengisahkan fadhilah tafakur yang dilakukan para ahli hikmah (orang yang mengetahui rahasia syariat agama). Al-Ghazali menceritakan pada suatu tempat tidak jauh dari Makkah dulu pernah ada seorang wanita bijaksana berkata.

"Andaikata orang yang bertakwa memikirkan apa yang ada di akhirat, pastilah mereka tak akan hidup lengah di dunia ini,"

Luqman Al-Hakim, merupakan seorang yang terkenal memiliki budi pekerti yang luhur (budiman). Ia amatlah suka duduk lama seorang diri dan selalu ditegur oleh majikan. "Lukman, engkau suka duduk lama-lama seorang diri. Carilah teman duduk lebih baik."

Lukman menjawab. "Duduk seorang diri lebih tenang untuk berpikir. Lama berpikir dengan tenang membuka jalan ke surga."

Wahb berkata, "Pikiran itu sumber ilmu, sedangkan ilmu sumber amal." Umar bin Abdul Aziz menyatakan, "Tafakur merenungkan nikmat Tuhan ialah salah satu ibadah yang utama."

Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sahl yang sedang berdiam diri (sambil tafakur). "Sudah sampai dimana? Sahl menjawab, "Shirath, maksudnya dalam tafakur itu sudah sampai ke persoalan shirat al mustaqim."

Bisyr pernah berkata, "Andaikata orang merenungkan kebesaran Tuhan, niscaya ia tak akan sampai hati berbuat maksiat."

Menurut Ibnu Abbas sholat dua rakaat yang sederhana, tetapi dengan penuh tafakur lebih baik daripada sholat sepanjang malam dengan hati kosong. Abu Syuraih yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti dan duduk menangis sambil menutup muka dengan bajunya.

"Mengapa Tuan menangis?" tanya salah seorang yang melihatnya.

"Saya bertafakur. Merenungkan diri. Umar sudah tua, amal tak ada dan ajal sudah dekat," ujar Abu Syuraih.

Dalam hal ini Abu Sulaiman berkata, "Bisakah matamu menangis dan hatimu bertafakur." Selanjutnya dikatakan, "Memikirkan masalah-masalah dunia berarti membangun hijab (tirai) untuk akhirat dan hukum bagi Ahlul wilayah.

Sebaliknya, bertafakur merenungkan akhirat dapat menimbulkan hikmah dan menghidupkan hati. Demikian juga kata Hatim, "Dengan pengalaman, bertambah pengetahuan, dengan dzikir bertambah rasa cinta. Dan, dengan bertafakur menambah rasa takwa.

Ibnu Abbas menyatakan, "Tafakur tentang kebaikan mengajak orang berbuat baik, sedangkan menyesali perbuatan jahat menyebabkan orang meninggalkannya."

Dalam salah satu kitab suci Allah berfirman. "Aku dapat menerima semua ucapan ahli pikir, sebab yang kulihat ialah niat dan tujuannya. Kalau niat dan tujuannya karena Aku, maka Aku anggap diamnya itu tafakur dan bicaranya adalah dzikir sekalipun tidak diucapkan."

Hasan Al Basri menyatakan orang berbudi selalu sadar dan berpikir sehingga hatinya menjadi sumber hikmah. [yy/republika]

 

Menghargai Orang yang Merenung

Allah SWT Menghargai Orang yang Merenung


Fiqhislam.com - Allah SWT begitu menghargai seorang hamba yang bertafakur (merenung) atas nikmat, anugrah yang diberikan dan juga merenung dosa apa yang telah diperbuat dan segera bertobat. Begitu menghargainya Allah kepada hamba yang bertafakur, melalui lisan Nabi Muhammad Saw, Allah memberi pahala kepada orang-orang yang bertafakur.

"Merenung (Tafakur) sesaat lebih baik daripada ibadah setahun," demikian Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali menulis di kitab Al-Munqizh Min Al-Dhalal yang dialihbahasakan oleh KH. R. Abdullah Bin Nuh dengan judul "Tafakur Sesaat Lebih Baik Daripada Ibadah Setahun."

Menurut Imam Ghazali anjuran merenung sesuatu atau bertafakur ini amat sering dijumpai dalam Alquran. "Berkali-kali dalam Alquran Allah SWT menyuruh kita bertafakur merenung. Mereka yang berbuat demikian amatlah dihargai," katanya.

Ibnu Abbas menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda. "Renungkanlah apa yang telah diciptakan Tuhan tetapi jangan kamu renungkan bagaimana keadaan Tuhan itu sebab dugaanmu takkan sampai ke situ".

Pada suatu peristiwa Rasulullah SAW melihat beberapa orang sedang bertafakur.

"Mengapa kamu berdiam diri? Tanya beliau". "Kami sedang Tafakur, merenungkan ciptaan-ciptaan Tuhan," jawab mereka.

Lalu Beliau SAW bersabda, "Baik. Renungkanlah apa yang telah diciptakannya, tetapi jangan kamu pikirkan keadaan dzatnya. Renungkanlah, nun di sana, di magrhrib, ada sebuah tempat yang dipenuhi cahaya, luasnya sejauh perjalanan matahari empat puluh hari. Di tempat itu ada jumlah makhluk Tuhan yang belum pernah berbuat durhaka kepada-Nya sekejap matapun."

Kemudian mereka bertanya "Rasulullah, Tidakkah mereka tergoda oleh setan? "Beliau menjawab," Bahkan mereka tidak tahu, bahwa setan itu ada."

Dan, mereka pun kembali bertanya. "Adakah orang-orang itu keturunan Adam?" Mereka tidak tahu juga bahwa Adam itu ada. "Jawab Rasulullah SAW.

Menurut Aisyah ra setelah turun ayat yang menyebutkan bahwa tanda-tanda penting yang memperkuat iman seseorang adalah terdapat dalam ciptaan-ciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya siang dan malam (QS Ali Imran ayat 191). [yy/republika]