14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan dan Matahari

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan dan Matahari

Fiqhislam.com - Tata cara salat gerhana bulan dan matahari ini berangkat dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ. متفق عليه

Dari Abu Mas’ud Al Anshari ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menakut-nakuti hamba-Nya. Dan tidaklah terjadi gerhana pada keduanya karena kematian seseorang atau pun kelahirannya. Jika kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdo’alah kepada Allah sampai matahari kembali normal (seperti sedia kala).” (HR Bukhari, Muslim).

Beda Kusuf dan Khusuf

Kusuf dari kata kasafa yaksifu yang berarti menutupi, dan kasafatisysyams berarti gerhana Matahari. Sedangkan khusuf dari kata khasafa yakhsifu berarti lenyap atau hilang, dan khasafal qamar berarti gerhana bulan.

Keduanya sebenarnya memiliki makna istilah yang sama yaitu dzahabannuru kulluh au ba’dlannur yakni hillangnya seluruh cahaya yakni gerhana total atau sebagian cahaya.

Seruan Memulai Salat Gerhana

Dalam keterangan hadits Imam Bukhari dijelaskan bahwa Ketika hendak mulai shalat gerhana diperkenankan dengan seruan ‘ashshalatu jami’ah’

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ. رواه البخاري

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka panggilannya dengan seruan, ‘Ashshalaatul jaami’ah (Marilah mendirikan shalat secara bersama-sama)‘.” (HR. Bukhari).

Tata Cara Salat Gerhana

Salat gerhana hukumnya sunnah muakkadah sebagaimana pendapat para ulama. Tata cara salatnya adalah penjelasan dalam hadits yang bersumber dari Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ وَهِيَ دُونَ قِرَاءَتِهِ الْأُولَى ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ دُونَ رُكُوعِهِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ قَامَ فَصَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَامَ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُرِيهِمَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ. رواه البخاري

Dari Aisyah Radliyallahu anha berkata: “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Maka beliau berdiri melaksanakan shalat bersama orang banyak. Beliau memanjangkan bacaan, lalu rukuk dengan memanjangkan rukuk. Kemudian mengangkat kepalanya, lalu membaca lagi dengan memanjangkan bacaannya namun tidak sebagaimana panjang bacaan yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan memanjangkan rukuk, namun tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat kepalanya kemudian sujud dua kali.

Beliau kemudian berdiri kembali dan mengerjakan seperti pada rakaat pertama. Setelah itu beliau bangkit dan bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, yang Dia perlihatkan kepada hamba-hambaNya. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka segeralah mendirikan shalat.” (HR Bukhari).

Berdasarkan keteragan hadits di atas, shalat gerhana dari dua rakaat. Kaifiyah atau tata caranya seperti shalat biasa hanya ada perbedaan yaitu di setiap rakaat membaca surah atau apa yang mudah dari al-Quran.

Kemudian rukuk setelah rukuk bangkit dari rukuk berdiri lagi dan membaca al-Fatihah dan surah atau apa yang mudah apa yang mudah dari al-Quran. Begitu pula rakaat keduanya sama yaitu terdiri dari dua kali membaca surah dari al- dan rukuk dua kali.

Rakaat Pertama

Takbiratul ikhram. Membaca doa iftitah, disambung membaca surah al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat dari al-Quran dengan agak panjang.

Rukuk agak panjang. Bangkit dari rukuk dan mengulang membaca al-Fatihah dan surar dari al-Quran yang agak panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama.

Rukuk lagi yang dipanjangan tetapi sebih pendek dari rukuk yang pertama.

Berdiri iktidal. Sujud dengan dua sujud seperti biasanya yang agak panjang.
Berdiri untuk melanjutkan rakaat yang kedua.

Rakaat Kedua

Rakaat kedua sama persis dengan tata cara pada rakaat pertama di atas, yang diakhiri dengan tasyahhud dan salam.

Setelah selesai menunaikan salat gerhana ada khutbah dengan memberikan nasihat di antaranya sebagaimana dalam hadits di atas. Juga memerintahkan banyak bersedekah, banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah dan banyak berdzikir.

Jadi salat gerhana itu yang membedakan dari salat lainnya adalah dalam setiap rakaatnya terdiri dari dua kali berdiri, dua kali ruku dan dua kali sujud. Di samping itu memanjangkan bacaan surahnya, rukuk, dan sujudnya.

Sedangkan waktu salatnya para ulama bersepakat yaitu dimulai saat terjadinya gerhana sampai selesasinya. Dan tidak ada masalah jika hal itu bertepatan dengan waktu-waktu yang terlarang untuk salat. Wallahu a’lam. [yy/sindonews]

Dikutip dari tulisan Ustaz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo di pwmu.co